SuaraCianjur.id - Salim Kancil, kisah sang martir dari Lumajang, berperingai keras dan tak mau menyerah. Diawali, dengan melihat petakan lahannya hancur karena proses tambang yang menurunkan pendapatan hariannya, benih-benih perlawanan mulai tumbuh. Meski demikian, Salim masih bersabar dengan alih pekerjaan menjadi seorang nelayan untuk menghidupi diri dan keluarganya.
Akan tetapi benih-benih perlawanan terus bertumbuh menjadi tunas, dengan mengunjungi rumah teman-temannya dan berkonsolidasi terkait dengan sikap dan tindakan yang harus dilakukan kedepannya. Tunas semakin bertumbuh menjadi tangkai sehingga gerak-gerik Salim membuat gusar dan terendus oleh penambangan ilegal yang diamankan oleh tim 12 yang dibentuk oleh Desa setempat.
Alhasil, ancaman dan intimidasi berdatangan dan mengancam, bukan hanya dirinya, tapi keluarganya. Meski sudah diperingatkan oleh istrinya, Salim tidak terpengaruh. Salim dengan cepat melaporkan kepada pihak Kepolisian. Hasilnya, nihil, tidak ada tindakan apapun dari kepolisian.
Tidak patah arang, Salim terus melanjutkan dengan membuat gerakan advokasi protes yang diajukan bahkan sampai Kabupaten Lumajang. Hasilnya tetap nihil, dan tidak ada tanggapan. SIngkat cerita, Salim terus melakukan aksinya, hingga Salim mendapat ancaman pembunuhan.
Bak menabrak tembok beton yang besar, Salim kalah keras sehingga beliau mati dengan cara tragis. Ya, dengan dibunuh, disetrum, bahkan digergaji. Layaknya Sang Martir, demi keyakinan dan kepercayaannya, Salim rela bekorban mati dalam berjuang. Cekikan, pukulan, lemparan batu, ikatan, seretan, hingga kematiannya menjadi konseskuensi atas apa yang diperjuangkannya.
Dari heroisme Salim Kancil, dapat diambil pelajaran bahwa jaminan terhadap perlindungan dan keamanan masyarakat di Negara ini masih rendah. Ini adalah masalah kronis yang harus segera diselesaikan. Bukan hanya tragedi Salim Kancil, pengusutan kasus pelanggaran HAM lainnya selalu berlangsung berlarut-larut dan berkepanjangan. (*)
Berita Terkait
-
Biar Prosesnya Cepat, Sidang Kasus Tragedi Kanjuruhan Bakal Digelar 2 Kali Sepekan
-
Arogansi PT GNI dan Kepentingan Elite Politik di Balik Kerusuhan Morowali Utara, JATAM: Bebaskan Buruh Indonesia
-
Antam Bina Nelayan di Konawe Utara untuk Tingkatkan Pendapatan Sekaligus Lestarikan Ekosistem Bawah Laut
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- 5 Sunscreen Wardah Terbaik untuk Flek Hitam Segala Usia
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- 3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar
Pilihan
-
Banjir Rendam 40 Titik Palembang, Dua Lansia Sakit Tak Berdaya hingga Dievakuasi dari Rumah Terendam
-
Baru 17 Tahun, Siti Khumaerah Sudah Diterima di 5 Kampus Dunia
-
Sidoarjo Mencekam! Tim Jibom Turun Tangan Selidiki Ledakan Maut di Pabrik Baja Waru
-
Siap-siap, Kejari Sleman Beri Sinyal Tersangka Baru Kasus Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Belajar Empati dari Peristiwa Motor Terbakar di SPBU Sriwijaya, Pakai APAR Tidak Perlu Izin
Terkini
-
5 Shio Diprediksi Paling Beruntung 7 April 2026, Siap-siap Banjir Rezeki
-
Okin Diduga Gandeng Pengacara untuk Lawan Rachel Vennya, Netizen: Mending Nafkahi Anak
-
Wings Group Jadi Benteng Utama Kebersihan Keluarga di Tengah Ancaman Virus Campak
-
Diskon Home Care Alfamart April 2026: Rinso hingga Downy Turun Harga, Hemat Sampai 40 Persen
-
Rp850 Juta Dihapus, Anggaran Rumah Dinas DPRD Sumsel Rp8,6 Miliar Masih Dipertanyakan
-
Bukan Makar, Saiful Mujani Jelaskan Maksud Pernyataan 'Turunkan Prabowo'
-
Gandeng Swasta, Pemerintah Kebut Bangun 1.000 Rumah Murah
-
7 Tips Menata Meja Kerja Minimalis di Apartemen Sempit agar WFH Lebih Produktif
-
Imbas Konflik Timur Tengah, Pasokan Bahan Baku Pupuk Kimia Berpotensi Terancam
-
Denyut Nadi di Sudut Tebet: Kisah Bu Entin dan Warung Madura yang Menolak Tidur