/
Jum'at, 03 Februari 2023 | 15:59 WIB
Ilustrasi pernikahan (freepik.com/bristekjegor)

SuaraCianjur.idPernikahan adalah salah satu fase terpenting dalam hidup. Dua sejoli antara adam dan hawa diikat dalam satu pertalian yang sah, yaitu pernikaha. Banyak yang beranggapan bahwa pernikahan adalah bukti tertinggi dari suatu kisah percintaan.

Namun, sekarang ini tidak sedikit yang beranggapan bahwa pernikahan fase bertambah beban dan masalah hidup, yang menyebabkan dirinya tidak bisa lagi untuk hidup bebas. Kondisi ini sangat dirasakan dan dikhwatirkan utamanya oleh kaum milenial. Dampaknya, mereka banyak yang menunda bahkan enggan untuk melakukan pernikahan.

Studi yang dilakukan Pew Research menemukan bahwa sedikitnya ada 26% kaum milenial yang menunda pernikahan. Studi juga menyebutkan jika hampir 70% pemuda milenial masih lanjang atau tidak terlalu memikirkan kisah percintaan di hidupnya.

Adapun alasan penundaan ini, menurut pakar psikologi, Kartini Kartono, adalah kaum milenial tidak pernah mencapai usia kematangan sebenarnya. Bukan hanya kematangan fisik, tapi juga kematangan secara sosial. 

Kematangan ini sangat penting bagi kaum milenial untuk membangun suatu hubungan dengan orang lain. Adapun faktor yang menjadi sulitnya milenial untuk mencapat kematangan sosial adalah budaya yang tidak mendewasakan.  Untuk itu, kebudayaan yang tidak mendewasakan harus diperbaiki dan diantisipasi dengan baik.

Pernikahan yang ideal adalah pernikahan yang memiliki komitmen moral dan tanggung jawab yang lebih oleh masing-masing pihak. Manfaat pernikahan yang positif diantaranya akan membuat jiwa lebih bahagia, pikiran lebih jernih dan hati lebih bersih. (*)

Load More