SuaraCianjur.id - Pemerkosaan adalah kejahatan yang mengerikan, dan seringkali menimbulkan dampak yang traumatis pada korban, termasuk dampak psikologis seperti depresi.
Menurut American Psychological Association (APA), hampir setiap orang yang mengalami pemerkosaan atau kekerasan seksual lainnya akan mengalami beberapa bentuk reaksi psikologis yang berbeda-beda, termasuk depresi, rasa takut, kecemasan, dan PTSD.
Depresi dapat terjadi setelah pemerkosaan karena adanya trauma psikologis yang dihasilkan dari kekerasan seksual. Trauma psikologis terjadi ketika seseorang merasa tidak aman dan terancam secara fisik atau emosional, dan trauma akibat pemerkosaan dapat menyebabkan korban merasa tidak aman, terancam, dan tak berdaya.
Selain itu, depresi dapat muncul akibat rasa malu, rasa bersalah, dan rasa tak berdaya yang dirasakan oleh korban. Hal ini terkait dengan stigma sosial yang seringkali masih melekat pada korban kekerasan seksual. Stigma sosial tersebut dapat membuat korban merasa tidak dihargai, diabaikan, dan diisolasi dari lingkungan sosialnya.
Solusi mengatasi depresi akibat pemerkosaan
Penting untuk diingat bahwa depresi akibat pemerkosaan dapat diatasi dengan dukungan dan perawatan yang tepat. Salah satu langkah penting yang dapat dilakukan adalah mencari bantuan profesional, seperti terapi atau konseling.
Dr. Stines menekankan bahwa terapis yang terlatih dalam menangani trauma akibat kekerasan seksual dapat membantu korban mengatasi rasa takut, kecemasan, dan perasaan depresi.
Selain itu, dukungan dari keluarga dan teman-teman juga dapat membantu korban mengatasi depresi akibat pemerkosaan. Dr. Wylde menyarankan agar korban mencari dukungan sosial dari orang-orang yang mereka percayai, seperti keluarga atau teman dekat, dan juga bergabung dengan kelompok dukungan atau komunitas yang serupa.
Dalam kasus-kasus pemerkosaan, penting juga untuk mengambil tindakan hukum dan memperjuangkan keadilan bagi korban. Menurut National Sexual Violence Resource Center (NSVRC), upaya-upaya ini dapat membantu korban merasa lebih kuat dan berdaya dalam mengatasi dampak trauma yang dialami.
Baca Juga: PDIP Tegaskan Tak Gabung Koalisi Anies Baswedan, Hasto: Antitesa Jokowi!
Sumber:
American Psychological Association. (2017). Effects of Sexual Violence. https://www.apa.org/topics/sexual-violence/effects (*)
Berita Terkait
Terpopuler
- REDMI 15 Resmi Dijual di Indonesia, Baterai 7.000 mAh dan Fitur Cerdas untuk Gen Z
- Peta 30 Suara Mulai Terbaca, Munafri Unggul Sementara di Musda Golkar Sulsel
- Kehabisan Uang Usai Mudik di Jogja, Ratusan Perantau Berburu Program Balik Kerja Gratis
- 55 Kode Redeem FF Max Terbaru 23 Maret 2026: Klaim THR, Diamond, dan SG2 Tengkorak
- Mobil Alphard Termurah, 100 Jutaan Dapat Tahun Berapa?
Pilihan
-
Kabais Dicopot Buntut Aksi Penyiraman Air Keras Terhadap Andrie Yunus
-
Puncak Arus Balik! 50 Ribu Orang Padati Jakarta, KAI Daop 1 Tebar Diskon Tiket 20 Persen
-
Arus Balik, Penumpang Asal Jawa Tengah Hingga Sumatera Masih Padati Terminal Bus Kalideres
-
Ogah Terjebak Kemacetan di Pantura, Ratusan Pemudik Motor Pilih Tidur di Kapal Perang TNI AL
-
Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa
Terkini
-
Aktris Nana Kembali Tolak Bersaksi, Sidang Perampokan Terancam Molor
-
Nadif Zahiruddin Ikut Liburan Bareng Keluarga Azizah Salsha, Diposting Langsung Andre Rosiade
-
Struktur Formasi Aneh John Herdman, Tanpa Playmaker dan Misteri Rotasi Skuad!
-
Komentar Mengejutkan Patrick Kluivert, Tak Merasa Bersalah Gagal Bawa Timnas Indonesia ke Pildun
-
5 Karakter Orang yang Selalu Datang Awal ke Tempat Kerja, Kamu Termasuk?
-
6 Cara Mengatasi Mata Bengkak: Praktis, Cepat, dan Mudah Diterapkan
-
Akhirnya! Film Terlaris Korea The King's Warden Tayang 8 April di Indonesia
-
Paul McCartney: Man on the Run, Dokumenter yang Terlalu Menjaga Citra Idol
-
Rupiah Mulai Bangkit, Dolar AS Turun ke Level Rp16.896
-
3 Pilihan Sunscreen Wardah untuk Mencerahkan Wajah Kusam Usai Mudik Lebaran