/
Sabtu, 25 Februari 2023 | 20:48 WIB
Ilustrasi Hipertensi (Radar Malang)

SuaraCianjur.Id- Hipertensi atau tekanan darah tinggi menjadi salah satu penyebab sakit jantung tertinggi di Indonesia.

Namun, mayoritas orang yang mengidap hipertensi tidak menyadarinya karena seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas.

Hal ini terlihat dari data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2018 yang menunjukkan bahwa terjadi kenaikan angka kejadian kasus hipertensi di Indonesia menjadi 34,11% dari 25,8% di 2013.

Hipertensi terbagi dalam dua kelompok penyebab, yaitu hipertensi primer dan hipertensi sekunder.

Hipertensi primer, yang merupakan jenis hipertensi yang paling umum, tidak memiliki penyebab yang jelas dan sulit dideteksi pada awalnya karena sering tidak menunjukkan gejala yang jelas.

Sedangkan hipertensi sekunder, yang berkisar antara 5 hingga 10% dari kasus hipertensi, memiliki penyebab yang mendasar dan memerlukan perawatan khusus yang berbeda.

Dikatakan Sekjen InaSh (Perhimpunan Hipertensi Indonesia), dr. Djoko Wibisono, Sp.PD bahwa kondisi hipertensi umumnya ditemukan tidak sengaja saat pemeriksaan kesehatan rutin, atau saat ada keluhan yang berat.

Mirisnya dengan kondisi sakit berat hingga kematian, hipertensi juga kerap disebut silent killer atau si pembunuh senyap.

Dikutip dari Suara.com, "Berawal dari kondisi yang sering kali diabaikan sebagian besar orang yang merasa tidak memiliki keluhan, namun sesungguhnya menjadi sumber komplikasi kesehatan yang lebih fatal untuk organ vital seperti otak, jantung, maupun ginjal," ujar dr. Djoko di Ritz Carlton, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (24/2/2023).

Baca Juga: 6 Tips Ampuh agar Kamu Tidak Mudah Dibohongi oleh Orang Lain

Dr. Djoko Wibisono, Sp.PD, hipertensi masih menjadi faktor risiko utama penyebab dari stroke perdarahan, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, bahkan kematian dini.

"Hipertensi masih menjadi faktor risiko utama penyebab dari stroke perdarahan, penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit ginjal kronik, bahkan kematian dini," jelas Dr. Djoko.

Sumber: Suara.com

Load More