SuaraCianjur.Id- Hubungan bisa menjadi sumber kebahagiaan dan dukacita. Namun, terkadang, beberapa hubungan bisa merugikan kesehatan mental.
Istilah "toxic relationship" atau hubungan yang meracuni, dapat didefinisikan sebagai hubungan yang merugikan salah satu atau kedua belah pihak secara psikologis.
Dalam artikel ini, kita akan membahas lebih lanjut tentang toxic relationship dan dampaknya pada kesehatan mental.
Menurut Susan Forward, seorang terapis keluarga dan penulis buku "Menyingkap Rahasia Keluarga Anda" dan "Emotional Blackmail", toxic relationship adalah hubungan yang mengekang, membatasi, atau merugikan satu atau kedua belah pihak.
Hal ini dapat terjadi melalui bentuk-bentuk seperti kekerasan fisik, kekerasan verbal, atau kontrol emosional.
Dampak dari toxic relationship pada kesehatan mental dapat sangat merugikan.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam jurnal "Psychological Trauma: Theory, Research, Practice, and Policy", hubungan yang merugikan secara emosional dapat menyebabkan gangguan stres pascatrauma, kecemasan, dan depresi.
Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin intensif hubungan yang merugikan, semakin besar kemungkinan individu untuk mengalami dampak pada kesehatan mentalnya.
Dalam buku "The Body Keeps the Score: Brain, Mind, and Body in the Healing of Trauma", Bessel Van der Kolk menjelaskan bahwa toxic relationship dapat memicu respon stres yang konstan, sehingga mempengaruhi fungsi otak dan sistem saraf.
Baca Juga: Rizky Billar Dituding Jual Drama Usai Usap Air Mata Lesti Kejora di Atas Panggung
Hal ini dapat memperburuk kondisi kesehatan mental dan memperbesar risiko gangguan psikologis yang serius.
Untuk mengatasi dampak dari toxic relationship pada kesehatan mental, diperlukan langkah-langkah untuk menghentikan hubungan tersebut.
Kesimpulannya, toxic relationship dapat merugikan kesehatan mental seseorang.
Oleh karena itu, penting untuk mengenali tanda-tanda dari hubungan yang merugikan, dan segera mengambil langkah-langkah untuk keluar dari hubungan tersebut.
Dengan melakukan tindakan yang tepat, individu dapat memulihkan kesehatan mental dan membangun kembali rasa percaya diri mereka. (*)
(*/Haekal)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- HP Rp1,5 Jutaan yang Bagus Merek Apa? Ini 5 Rekomendasi Terbaik David GadgetIn
- 4 HP realme dengan Chipset Snapdragon dan RAM 8 GB Termurah Juni 2026
- Berapa Harga Sepatu Lari Ortuseight Ori? Ini 5 Pilihan Bagus untuk Daily Run
Pilihan
Terkini
-
Piala AFF 2026: Malaysia Tiru Langkah Timnas Indonesia Era Shin Tae-yong Sebelum Dipecat PSSI
-
Putus usai 14 Tahun Pacaran, Jung Kyung Ho dan Sooyoung SNSD Saling Unfollow
-
Masih Menarikkah Investasi Saham BBCA? Tengok Strateginya
-
Travel Jakarta-Madura Hantam Truk di Tol Ngawi-Solo, Dua Orang Terjepit Kabin Ringsek
-
Sudah 37 Ribu Anak Keracunan MBG, YLKI Tantang Nanik S Deyang: 100 Hari Pertama Harus Nol Kasus!
-
Korupsi Haji, Bos Maktour Blak-blakan Pernah Temui Yaqut Minta Kuota Haji Khusus
-
Lamine Yamal 'Dipaksa' Pulih Timnas Spanyol, Barcelona Akui Ketar-ketir
-
Update Harga Matic 125cc Juni 2026: Vario dan Gear Ketar-ketir Tunggu Banderol Kawasaki Brusky
-
Jaksa Tuding Nadiem Makarim Sembunyikan Kendali di Gojek Lewat Surat Kuasa
-
FLOW Kembali Isi Lagu Pembuka A Returner's Magic Should Be Special Season 2