SUARA CIANJUR - Seringkali, lalu lintas di jalan tol tidak selalu berjalan lancar, dan terkadang terjadi kemacetan di lajur kanan dan kiri yang membuat kecepatan kendaraan melambat.
Dalam situasi seperti itu, setiap kendaraan menjaga jarak dengan mobil di depannya dan menyesuaikan kecepatan dengan kondisi lalu lintas.
Namun, jika ada satu kendaraan yang tiba-tiba melambat di depan, efek domino terjadi dan menyebabkan kemacetan merambat hingga ratusan meter ke belakang. Mobil di belakangnya juga ikut mengerem, dan hal ini berlanjut ke mobil-mobil di belakangnya.
Keadaan ini menyebabkan lalu lintas di jalur bebas hambatan semakin melambat, dan inilah yang disebut sebagai phantom traffic.
Bahkan kondisi ini masih bisa terjadi meskipun mobil terdepan hanya menginjak rem sebentar dan kemudian melaju lagi dengan cepat. Jika mobil terdepan berhenti secara total, efek phantom traffic bisa menjadi lebih parah.
Phantom traffic sering kali disebabkan oleh perilaku pengemudi yang menempati jalur cepat atau lajur kanan tanpa alasan yang jelas dan melambatkan kendaraannya.
Meskipun diberi isyarat dengan lampu atau klakson, pengemudi tersebut enggan berpindah dari lajur kanan ke lajur tengah.
Perilaku ini, yang dikenal sebagai lane hogger, sangat mengganggu dan berbahaya. Selain berpotensi menyebabkan phantom traffic, perilaku ini juga meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan beruntun.
Disarankan untuk tidak melakukan tailgating atau mengekor dengan jarak yang sangat rapat saat kendaraan di depan melambat atau mengerem sesaat. Praktik ini justru dapat memperburuk efek kemacetan yang terjadi.
Baca Juga: 6 Dokumen Syarat Registrasi Rekrutmen BUMN 2023
Menurut saran dari Science ABC, penting untuk selalu menjaga jarak aman dengan kendaraan di depan dan belakang. Dengan demikian, jika ada situasi di mana kendaraan di depan melambat atau mengerem tiba-tiba, kita memiliki waktu yang cukup untuk merespons dengan mengerem secara perlahan.
Selanjutnya, sebaiknya beralih ke lajur kanan dan melanjutkan perjalanan tanpa mengikuti "jejak" kendaraan sebelumnya. Dengan cara ini, kita telah berkontribusi dalam mencegah kemacetan lalu lintas atau fenomena phantom traffic di jalur bebas hambatan. (*)
SUMBER: INSTAGRAM SEVA
(*/Haekal)
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 HP Murah Memori 128 GB dan Kamera Bening di Bawah Rp1,5 Juta untuk Multitasking
- Dicukur Timnas Indonesia 5-1, Pemain Naturalisasi Kamboja Jadi Sasaran Kemarahan Fans
- 7 HP Murah Spesifikasi Terbaik di Bawah Rp2 Juta, Kamera 108 MP hingga NFC
- Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
- 9 Rekomendasi Lipstik Tahan Lama yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Hukum Tak Mampu Meyakinkan Publik, Main Hakim Sendiri Jadi Jalan Pintas
-
Rupiah Jebol ke Rp18.083 per Dolar AS, Terpuruk Paling Dalam di Asia usai Perry Warjiyo Mundur
-
Adik Kim Jong un ke Indonesia Cs: Hei Antek-antek Asing, Stop Jadi Corong Bayaran AS
-
Melania Trump Hendak Dibunuh saat Belanja Baju, Ada 'Orang Dalam' Berkhianat
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
Terkini
-
Pertamina EP Adera Sambung Harapan Anak Putus Sekolah Lewat Program Sekolah Kembali
-
Apa Itu Aplikasi AMPERA 24/7? Kini Warga Palembang Bisa Akses Layanan Polisi dari Ponsel
-
Murid Mengeluh Sepatunya Mengganjal saat Dipakai Sekolah, Isinya Diduga Paket Sabu
-
5 Fakta Mahasiswa KKN Tenggelam di Sungai Rawas, Perahu Terbalik Usai Tabrak Kayu
-
Ada Apa di Kejari Kabupaten Bogor? Kasi Pidsus Mendadak Dipanggil Kejagung
-
Pemenuhan Gizi Jadi Fondasi Tumbuh Kembang Anak, Ini yang Harus Diketahui Orang Tua
-
Dari Gudang hingga Rumah, Begini Perjalanan Produk Sebelum Sampai ke Tangan Konsumen
-
Ancaman Belum Usai: Sosiolog UNJ Ingatkan Bentrokan Matraman Rawan Dibajak Isu SARA
-
Tuntas Uji Coba 3 Bulan, Pemkab Bogor Godok Rute Baru Bus Listrik Bojong Gede - Exit Tol Citeureup
-
Ditahan KPK, Moch Mahrus Suap Anggota DPR Rp1,5 Miliar demi Raih Hibah Pokmas Jatim