SUARA CIANJUR – Seksualitas adalah bagian penting dari kehidupan manusia, dengan berbagai pilihan dan preferensi yang dapat dieksplorasi bersama pasangan.
Salah satu bentuk eksplorasi seksual adalah hubungan seksual anal, di mana pasangan terlibat dalam penetrasi melalui anus.
Namun, penting untuk memahami bahwa hubungan seksual anal tidak hanya melibatkan aspek sensual dan emosional, tetapi juga memiliki sejumlah resiko dan tantangan yang perlu diperhatikan.
Ketika dilakukan tanpa persiapan dan pelumas yang cukup, dapat menyebabkan dampak buruk pada dinding dalam anus. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko infeksi dan memudahkan masuknya virus, termasuk virus HIV.
Penelitian dari International Journal of Epidemiology menunjukkan bahwa orang yang terlibat dalam hubungan seks anal memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, dibandingkan dengan mereka yang terlibat dalam hubungan seks vaginal.
Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur dinding anus dan vagina, yang mempengaruhi kemampuan masing-masing organ untuk menahan infeksi.
Selain resiko IMS, hubungan seks anal juga dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan. Beberapa resiko yang perlu diperhatikan meliputi:
Kesulitan Menahan Buang Air Besar
Penggunaan otot spinkter ani yang berulang akibat hubungan seks anal yang tidak tepat, dapat menyebabkan otot ini melemah, yang pada akhirnya bisa menyebabkan kesulitan dalam menahan buang air besar.
Baca Juga: Sukses Jadi Idol K-Pop, Winter aespa Ternyata Sempat Ingin Jadi Tentara
Iritasi dan Infeksi
Bergesekan dengan wasir atau luka pada anus dapat menyebabkan iritasi dan infeksi. Infeksi dapat menjadi serius jika tidak ditangani dengan baik.
Risiko Kehamilan (Heteroseksual)
Meskipun jarang terjadi, ada kemungkinan sperma dapat bergerak menuju vagina dari anus, meningkatkan risiko kehamilan.
Kesehatan Kanker
Paparan virus HPV dapat menyebabkan kutil kelamin, dan meningkatkan risiko kanker anus. Orang yang sering terlibat dalam hubungan seks anal, memiliki risiko lebih tinggi terhadap kondisi ini.
Berhubungan seksual adalah keputusan pribadi, dan setiap individu memiliki hak untuk memutuskan apakah ingin terlibat dalam hubungan anal atau tidak. Namun, penting untuk memahami dan mempertimbangkan resiko yang terkait dengan keputusan ini. (*)
(*/Haekal)
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Stop Stigma Anti-Negara! Kritik Bukan Ancaman, Semua Presiden Wajib Tunduk pada Konstitusi!
-
John Herdman Incar Juara FIFA ASEAN Cup, Panggil Pemain Terbaik Timnas Indonesia
-
Mengapa Harga Emas Antam Terjun Bebas Pekan Ini? Simak Analisisnya
-
Cara agar Sunscreen Tidak Luntur Saat Berkeringat? Ini 3 Pilihan yang Sweatproof Lengkap Ulasannya
-
Grammy Awards Tambah Kategori Best Asian Pop Music Performance Mulai 2027
-
Karir Pekerja Terancam AI? Ini Kunci Agar Tetap Relevan di Masa Depan
-
Mengapa Pengetahuan Masyarakat Adat Penting untuk Mengatasi Krisis Iklim?
-
4 Posisi Cermin di Rumah yang Bisa Datangkan Keberuntungan Menurut Feng Shui
-
Ulasan Novel Halte Alam Baka, Pertemuan di Batas Dua Dunia yang Mengharukan
-
Turki Tersingkir di Piala Dunia 2026, Arda Guler: Sedih dan Malu