Bisnis / Makro
Rabu, 06 Mei 2026 | 18:20 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Hachi Grill Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (6/5/2026). [Suara.com/Dicky Prastya]
Baca 10 detik
  • Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa berencana mengaktifkan kembali Dana Stabilisasi Obligasi guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah.
  • Langkah ini diambil di Jakarta pada 6 Mei 2026 untuk mencegah pelarian modal asing akibat kenaikan yield obligasi.
  • Pemerintah akan berkoordinasi dengan Bank Indonesia untuk melakukan pembelian kembali obligasi demi menahan pelemahan nilai tukar Rupiah.

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyiapka Dana Stabilisasi Obligasi atau Bond Stabilization Fund untuk menjaga nilai tukar Rupiah yang menurun beberapa waktu belakangan.

Sebagai informasi, Dana Stabilisasi Obligasi adalah dana cadangan khusus yang disiapkan Pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar Surat Berharga Negara (SBN) saat terjadi tekanan masif, seperti pelarian modal asing (capital outflow) yang berisiko memicu krisis.

"Di Pemerintah saya punya bond stabilization fund sendiri yang ada beberapa pihak, tetapi kita juga bisa mencukupi dengan saya sendiri untuk sementara. Jadi cukup," katanya saat ditemui di Hachi Grill Kebon Jeruk, Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Menkeu Purbaya menjelaskan kalau Bond Stabilization Fund  sebenarnya bukan hal baru. Instrumen ini sudah ada tapi tidak pernah dijalankan. 

Bendahara Negara juga memastikan Bond Stabilization Fund berbeda dengan Bond Stabilization Framework yang dimiliki Komite Stabilitas Sistem Keuangan, di mana ini dijlalankan apabila dalam keadaan krisis.

"Bukan hal yang baru, tapi enggak pernah dijalanin. Artinya ada, tapi mati. Sebetulnya sudah ada, tapi mati. Saya mau hidupin aja," beber dia.

Purbaya mengatakan Dana Stabilisasi Obligasi dihidupkan lantaran adanya kenaikan yield obligasi Pemerintah sejak awal 2026. Saat dirinya menyuntik dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke perbankan, yield (imbal hasil) obligasi sempat ada di angka 5,9 persen.

Namun setelahnya yield terus naik, mulai dari 6,1 persen dan sekarang 6,7 persen. Akibat imbal hasil terus naik, lanjut Purbaya, maka harga bond bisa jatuh.

"Kalau bond jatuh apa? Asing yang punya bond di sini kan ada capital loss. Ada di sana aturan-aturan di lembaga investasi itu. Kalau loss sekian, musti potong sekian. Jadi itu memicu pelemahan nilai tukar," papar dia.

Baca Juga: Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok

Maka dari itu Purbaya ingin menahan pelemahan tersebut dengan menjaga harga obligasi. Dengan demikian tidak ada modal asing yang keluar dari instrumen tersebut.

Lebih lanjut ia juga bakal koordinasi dengan Bank Indonesia (BI) terkait wacana buyback obligasi melalui Bond Stabilization Fund yang akan dijalankan dalam waktu dekat.

"Belum tahu, tapi kita akan koordinasi dengan bank sentral. Saya akan coba bantu Rupiah dengan cara saya sendiri," pungkasnya. 

Load More