/
Rabu, 28 September 2022 | 07:30 WIB
Menteri Keuangan, Sri Mulyani. (Foto: Istimewa)

Deli.Suara.com – Kondisi perekonomian dunia pada 2023 mendatang diperkirakan akan memburuk. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani, mengutip pernyataan Bank Dunia pada Senin (26/9/2022). 

Sri Mulyani mengatakan seluruh negara di dunia tahun depan akan masuk ke jurang resesi. Salah satu tandanya sudah bisa dilihat saat ini yaitu seluruh bank sentral di dunia telah menaikkan suku bunga.

“Bank Dunia sudah menyampaikan kalau bank sentral di seluruh dunia melakukan peningkatan suku bunga secara cukup ekstrem dan bersama-sama, maka dunia pasti akan mengalami resesi di 2023,” kata Sri Mulyani pada konferensi pers APBN KiTa secara virtual.

Menurut Sri Mulyani, kenaikan suku bunga akan menghambat pertumbuhan ekonomi di negara tersebut.

Dalam catatan Sri Mulyani, negara-negara yang telah menaikkan suku bunga acuan di antaranya bank sentral Inggris sebesar 200 basis poin dan Amerika Serikat yang sudah menaikkan suku bunga 300 basis poin sejak awal 2022.

Pertanda lainnya dunia akan masuk ke jurang resesi adalah turunnya aktivitas Purchasing Managers Index (PMI) secara global.

Pada Agustus 2022 lalu, PMI manufaktur global turun dari 51.1 ke 50.3. Sri Mulyani menyebut, penurunan tersebut juga menyumbang pelemahan pada ekonomi global. 

Di tengah ancaman resesi dunia tersebut, Sri Mulyani mengklaim ekonomi Indonesia saat ini masih menunjukkan tren yang cukup baik. Di antara negara-negara G20 dan ASEAN-6, hanya 24 persen saja yang aktivitas manufakturnya masih meningkat dibanding bulan lalu.

Sri Mulyani menyebut negara-negara itu adalah Indonesia, Thailand, Filipina, Rusia, Vietnam dan Arab Saudi. Ia menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2022 mendapat 5,01 persen. Sementara inflasi juga masih terkendali di level 4,35 persen pada Juli 2022.

Baca Juga: Klaim Kode Redeem ML 28 September 2022, Siapa Cepat Dia Dapat

“Indonesia dengan kelima negara yang lain masih pada level yang akseleratif. Ini hal yang cukup positif tapi kita juga sangat menyadari lingkungan global kita mengalami pelemahan,” tutur Sri Mulyani.

Sementara itu, untuk mencegah dampak resesi ekonomi yang lebih parah pada tahun depan, Bank Dunia meminta negara-negara di dunia mulai meningkatkan produksi di berbagai sektor.

Hal ini disampaikan oleh Presiden Bank Dunia David Malpass. Menurutnya, dengan meningkatkan produksi, maka pasokan pada suatu negara akan melimpah dan karenanya inflasi bisa ditekan.

Namun, walaupun ancaman resesi di depan mata, namun ada kabar yang cukup menggembirakan di tengah ancaman tersebut. Kabar baik ini mengenai jumlah utang luar negeri pemerintah Indonesia yang terus menurun. 

Sri Mulyani mengungkapkan, tidak hanya utang pemerintah, utang korporasi pun juga semakin rendah.

Menurut data Bank Indonesia, utang pemerintah Indonesia pada akhir Mei 2022 sebesar USD 415 miliar. Jumlah tersebut turun 4,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya. 

Load More