Suara.com - Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang digelar Indonesian Business Council (IBC) pada 3–4 Februari 2026 di Shangri-La Hotel Jakarta kembali menjadi ruang dialog strategis bagi pemangku kepentingan ekonomi global. Forum ini menghadirkan pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, investor, dan mitra internasional dari 53 negara untuk membahas arah pertumbuhan jangka panjang Indonesia di tengah lanskap global yang terus berubah.
IES 2026 menegaskan fokus pada peningkatan kualitas investasi, penguatan sumber daya manusia, serta percepatan transisi menuju ekonomi hijau yang berdaya saing. Pendekatan ini mencerminkan upaya Indonesia memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus memposisikan diri sebagai tujuan investasi jangka panjang yang kredibel di kawasan regional sampai internasional.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menyoroti arah kebijakan pemerintah dalam mendorong transisi energi dan perlindungan sistem alam sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto juga telah berdiskusi dengan King Charles III mengenai isu konservasi, termasuk perlindungan satwa hampir punah seperti gajah sumatra serta ekosistem, sebagai bagian dari dialog global tentang keberlanjutan.
Menurut Hashim Djojohadikusumo, Indonesia tengah mempercepat pengembangan energi terbarukan, seperti tenaga surya, sekaligus mulai mempersiapkan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional. Langkah ini dipandang penting untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung agenda pertumbuhan hijau jangka panjang.
Komitmen terhadap penguatan fondasi ekonomi nasional turut ditegaskan Chair of Board of Trustees IBC, Arsjad Rasjid. Ia menilai strategi investasi Indonesia perlu bertumpu pada tiga pilar utama: kepastian regulasi, permodalan, dan kapabilitas. Dengan tata kelola yang kuat serta kredibilitas pasar yang terjaga, minat global dinilai dapat dikonversi menjadi peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan daya saing ekonomi yang berkelanjutan.
Sejalan dengan hal tadi, peran sumber daya manusia menjadi perhatian penting dalam diskusi. Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya menjaga laju pertumbuhan, namun memastikan pertumbuhan itu mampu mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas tenaga kerja. Koordinasi kebijakan lintas sektor—antara pengembangan keterampilan, arah investasi, dan pemanfaatan teknologi—dipandang krusial untuk memperkuat posisi tenaga kerja nasional dalam rantai nilai global.
Chief Operating Officer IBC, William Sabandar, menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkualitas hanya dapat dicapai apabila investasi diarahkan secara konsisten untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia. Menurutnya, Indonesia membutuhkan ekosistem yang mampu menyelaraskan pengembangan talenta dengan kebutuhan industri dan agenda transformasi ekonomi, sehingga pertumbuhan tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dalam kualitas pekerjaan dan daya saing.
Dari perspektif industri, Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit Puji Santoso, menekankan pentingnya ekosistem manufaktur yang kompetitif dan siap menghadapi pasar global. Ia menilai insentif dan regulasi yang tepat akan membantu industri nasional beradaptasi dan bersaing dalam lanskap ekonomi yang semakin terbuka.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Samudera Indonesia, Bani Mulia, menyoroti peran strategis Indonesia sebagai tuan rumah dalam jalur perdagangan global, termasuk di sektor maritim. Dengan operasi yang menjangkau pasar internasional, ia menegaskan pentingnya standar layanan dan logistik yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen global secara adaptif.
Baca Juga: VinFast dan Upaya Membangun EV yang Paham Asia Tenggara
Menutup rangkaian diskusi, IES 2026 kembali menegaskan perannya sebagai platform strategis yang menjembatani kepentingan kebijakan publik dan dunia usaha. Melalui dialog yang terbuka dan kolaboratif, forum ini mencerminkan upaya Indonesia memperkuat daya saing ekonomi, sekaligus menjaga relevansi dan kepercayaan di tengah dinamika ekonomi global.***
Berita Terkait
-
VinFast dan Upaya Membangun EV yang Paham Asia Tenggara
-
Klasterku Hidupku BRI Jadi Penggerak UMKM Panaba Banyuwangi
-
BRI Dorong UMKM Batam Lewat MoU Investasi dan Digitalisasi Qlola
-
Dari MBG Sampai ASRI, Presiden Prabowo Menggugah 4 Ribu Lebih Peserta Rakornas Kemendagri 2026
-
Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Wilayah Sumatera Paparkan 11 Prioritas
Terpopuler
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- 5 Rekomendasi Bedak Wardah Colorfit yang Warnanya Auto Menyatu di Kulit
- 4 Rekomendasi Parfum Lokal Wangi Tidak Lebay dan Tahan Lama untuk Perempuan
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Rupiah Ambruk Karena Kondisi Fiskal, Panda Bond dan Swap Currency Tak Selesaikan Masalah
-
Fundamental Terjaga, Tugu Insurance Bukukan Laba Rp265,62 Miliar di Kuartal I-2026
-
Investor Masih Kabur saat IHSG Menguat? Rupiah Kuncinya
-
Bahlil Mau Terapkan Skema Bagi Hasil Migas di Sektor Pertambangan
-
Ada Pejabat Baru di Lingkungan Kementerian ESDM, Ini Daftarnya
-
Pengamat Ingatkan Efek Pelemahan Rupiah Bikin APBN Berdarah-darah
-
Bahlil Fokus Ganti LPG 3 Kg ke CNG, Berapa Harga Jualnya?
-
Dirikan Learning Center di Fakultas Pertanian UGM, Wujud Kepedulian BRI terhadap Pendidikan
-
Rupiah Turun Terus, Purbaya Siapkan Dana Stabilisasi Obligasi
-
Pengamat: Aturan Soal Migas Jadi Biang Kerok Rupiah Terus Jeblok