Bisnis / Makro
Rabu, 04 Februari 2026 | 21:34 WIB
Para pembicara dalam sesi “How Can Indonesia Leverage The Green Sectors to Boost Growth?”, yaitu Mattia Romani, Partner at Systemiq; Visiting Senior Fellow at Grantham Research Institute of Climate Change and Environment, London School of Economic and Political Science (LSE); Anindya Bakrie, The Chairman of The Indonesian Chamber of Commerce and Industry (KADIN); Fatima Al Madhloum Al Suwaidi, Head of Development and Investment Asia Pacific of Masdar; Hashim Djojohadikusumo, Special Envoy of the President of the Republic of Indonesia for Climate and Energy; Eddy Soeparno, Deputy Speaker of the People's Consultative Assembly of the Republic of Indonesia (MPR RI); Elim Sritaba, Chief Sustainability Officer of APP Group; serta moderator Satya Tripathi, Secretary-General of Global Alliance for A Sustainable Planet (GASP) (Suara.com/CNR ukirsari)

Suara.com - Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang digelar Indonesian Business Council (IBC) pada 3–4 Februari 2026 di Shangri-La Hotel Jakarta kembali menjadi ruang dialog strategis bagi pemangku kepentingan ekonomi global. Forum ini menghadirkan pemimpin pemerintahan, pelaku usaha, investor, dan mitra internasional dari 53 negara untuk membahas arah pertumbuhan jangka panjang Indonesia di tengah lanskap global yang terus berubah.

IES 2026 menegaskan fokus pada peningkatan kualitas investasi, penguatan sumber daya manusia, serta percepatan transisi menuju ekonomi hijau yang berdaya saing. Pendekatan ini mencerminkan upaya Indonesia memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus memposisikan diri sebagai tujuan investasi jangka panjang yang kredibel di kawasan regional sampai internasional.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo saat berbagi cerita dalam lawatan Presiden Prabowo Subianto ke London, Britania Raya, salah satu topik yang disebutkan saat berbincang dengan King Charles III adalah konservasi gajah (Suara.com/CNR ukirsari)

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menyoroti arah kebijakan pemerintah dalam mendorong transisi energi dan perlindungan sistem alam sebagai bagian dari strategi pembangunan ekonomi. Ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo Subianto juga telah berdiskusi dengan King Charles III mengenai isu konservasi, termasuk perlindungan satwa hampir punah seperti gajah sumatra serta ekosistem, sebagai bagian dari dialog global tentang keberlanjutan.

Menurut Hashim Djojohadikusumo, Indonesia tengah mempercepat pengembangan energi terbarukan, seperti tenaga surya, sekaligus mulai mempersiapkan pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir sebagai bagian dari bauran energi nasional. Langkah ini dipandang penting untuk menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung agenda pertumbuhan hijau jangka panjang.

Komitmen terhadap penguatan fondasi ekonomi nasional turut ditegaskan Chair of Board of Trustees IBC, Arsjad Rasjid. Ia menilai strategi investasi Indonesia perlu bertumpu pada tiga pilar utama: kepastian regulasi, permodalan, dan kapabilitas. Dengan tata kelola yang kuat serta kredibilitas pasar yang terjaga, minat global dinilai dapat dikonversi menjadi peningkatan produktivitas, penciptaan lapangan kerja berkualitas, dan daya saing ekonomi yang berkelanjutan.

Sejalan dengan hal tadi, peran sumber daya manusia menjadi perhatian penting dalam diskusi. Tantangan Indonesia ke depan bukan hanya menjaga laju pertumbuhan, namun memastikan pertumbuhan itu mampu mendorong peningkatan produktivitas dan kualitas tenaga kerja. Koordinasi kebijakan lintas sektor—antara pengembangan keterampilan, arah investasi, dan pemanfaatan teknologi—dipandang krusial untuk memperkuat posisi tenaga kerja nasional dalam rantai nilai global.

Chief Operating Officer IBC, William Sabandar, menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkualitas hanya dapat dicapai apabila investasi diarahkan secara konsisten untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia. Menurutnya, Indonesia membutuhkan ekosistem yang mampu menyelaraskan pengembangan talenta dengan kebutuhan industri dan agenda transformasi ekonomi, sehingga pertumbuhan tidak hanya tercermin dalam angka, tetapi juga dalam kualitas pekerjaan dan daya saing.

Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit Puji Santoso menyampaikan pentingnya ekosistem manufaktur yang kompetitif dan siap menghadapi pasar global (Suara.com/CNR ukirsari)

Dari perspektif industri, Chief Technology Officer Danantara Indonesia, Sigit Puji Santoso, menekankan pentingnya ekosistem manufaktur yang kompetitif dan siap menghadapi pasar global. Ia menilai insentif dan regulasi yang tepat akan membantu industri nasional beradaptasi dan bersaing dalam lanskap ekonomi yang semakin terbuka.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Samudera Indonesia, Bani Mulia, menyoroti peran strategis Indonesia sebagai tuan rumah dalam jalur perdagangan global, termasuk di sektor maritim. Dengan operasi yang menjangkau pasar internasional, ia menegaskan pentingnya standar layanan dan logistik yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen global secara adaptif.

Baca Juga: VinFast dan Upaya Membangun EV yang Paham Asia Tenggara

Menutup rangkaian diskusi, IES 2026 kembali menegaskan perannya sebagai platform strategis yang menjembatani kepentingan kebijakan publik dan dunia usaha. Melalui dialog yang terbuka dan kolaboratif, forum ini mencerminkan upaya Indonesia memperkuat daya saing ekonomi, sekaligus menjaga relevansi dan kepercayaan di tengah dinamika ekonomi global.***

Load More