/
Senin, 03 Oktober 2022 | 12:27 WIB
Tangkapan layar video kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang. (Istimewa)

Deli.Suara.com - Aremania angkat bicara terkait dengan tragedi Kanjuruhan yang merenggut nyawa seratusan orang, Sabtu (1/10/2022) malam kemarin.

Menurut Aremania, kalau tragedi Kanjuruhan merupakan pembantaian. Suporter ditembaki gas air mata oleh polisi. Sementara pintu ditutup.

Hal ini dinyatakan oleh salah seorang Aremania, Fanda Ardianto saat mengikuti doa bersama untuk ratusan korban meninggal dalam tragedi Kanjuruhan. Mereka berkumpul di Jalan Semeru Kota Malang, Minggu (2/10/2022) malam. Ada ribuan orang yang hadir di sana.

"Harus ada tersangka. Ratusan orang dibunuh di depan mata ribuan orang. Masak satu tersangka saja satu hari gak bisa. Kan gak masuk akal," ujarnya, dilansir dari suara.com, Senin (3/10/2022).

Fanda juga membandingkan tragedi Kanjuruhan dengan Peru berbeda. 

"Kalau di Peru itu kecelakaan, bencana karena tribun jatuh. (Sedangkan) di Indonesia ini pembantaian. Gimana gak dibantai, ditembaki gas air mata tapi pintu ditutup. Gimana gak banyak orang meninggal, banyak anak kecil," jelasnya.

Terkait advokasi bagi korban, lanjut dia, pihaknya juga telah menggandeng kuasa hukum atau pengacara.

"Kami akan terus mengawal proses hukum dan mendorong keadilan ditegakkan seadil-adilnya," pungkasnya.

Alasan Polisi Tembakkan Gas Air di Stadion
Kapolda Jawa Timur Irjen Pol. Nico Afinta dalam jumpa pers di Kabupaten Malang, Jawa Timur, Minggu, menyebutkan dua dari 127 orang yang meninggal dunia tersebut merupakan anggota Polri.

Baca Juga: Jual Sekarung Ganja Segar, 2 Pemuda Ini Ditangkap Polsek Binjai Timur

"Dalam kejadian itu, telah meninggal 127 orang; dua diantaranya adalah anggota Polri," kata Nico di Malang.

Dia menjelaskan sebanyak 34 orang dilaporkan meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan, sementara sisanya meninggal dunia saat mendapatkan pertolongan di sejumlah rumah sakit setempat.

Menurut Nico, sesungguhnya, pertandingan di Stadion Kanjuruhan awalnya berjalan dengan lancar. Namun, setelah permainan berakhir, sejumlah pendukung Arema FC merasa kecewa dan beberapa di antara mereka turun ke lapangan untuk mencari pemain dan ofisial.

Petugas pengamanan kemudian melakukan upaya pencegahan dengan melakukan pengalihan agar para suporter tersebut tidak turun ke lapangan dan mengejar pemain. Dalam prosesnya, akhirnya petugas melakukan tembakan gas air mata.

Menurutnya, penembakan gas air mata tersebut dilakukan karena para pendukung tim berjuluk Singo Edan yang tidak puas dan turun ke lapangan itu telah melakukan tindakan anarkis dan membahayakan keselamatan para pemain dan ofisial.

"Karena gas air mata itu, mereka pergi keluar ke satu titik, di pintu keluar. Kemudian terjadi penumpukan dan dalam proses penumpukan itu terjadi sesak nafas, kekurangan oksigen," katanya.

Load More