/
Kamis, 03 Agustus 2023 | 16:20 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjajal menaiki kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jabodebek dari Stasiun Harjamukti, Cibubur, Depok, Jawa Barat, Kamis (3/8/2023). ((ANTARA/Indra Arief Pribadi))

Presiden Joko Widodo atau Jokowi menanggapi perihal salah desain pada pembangunan kereta ringan atau Light Rail Transit (LRT) Jabodebek. Ia meminta kepada setiap pihak untuk tidak mencari-cari kesalahan.

Hal tersebut disampaikannya karena kekurangan itu akan pasti ada dan ditindaklanjuti dengan perbaikan. Dengan begitu, mustahil apabila pembangunan LRT Jabodebek akan langsung sempurna dalam sekali pembangunan.

"Kalau ada koreksi akan kami perbaiki, tetapi jangan senang mencari-cari kesalahan karena kesalahan pasti ada karena baru pertama kali," kata Jokowi di Stasiun LRT Dukuh Atas, Jakarta, Kamis (3/8/2023).

Kepala Negara menekankan bahwa kereta ringan merupakan proyek perdana di Indonesia, sebagaimana kereta MRT dan juga kereta cepat Jakarta-Bandung. Oleh sebab itu, dirinya merasa wajar apabila muncul kekurangan.

“Sehingga apabila ada kekurangan, ada yang perlu dikoreksi sehingga itu wajar,” ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, Jokowi juga menuturkan kalau pihaknya mengutamakan keselamatan dan juga keamanan dalam pembangunan LRT Jabodebek. Oleh sebab itu, ia tidak mau pembangunan itu dilakukan secara tergesa-gesa.

"Memang kita mau melihat kesiapan sistem, urusan keamanan, urusan keselamatan, harus dilihat betul. Jadi tidak usah tergesa-gesa untuk segera dioperasikan, tetapi semuanya yang berkaitan dengan sistem, yang berkaitan dengan keamanan, yang berkaitan dengan keselamatan itu harus diutamakan," terangnya.

Salah Desain

Sebelumnya, Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo bikin heboh karena menyebut proyek LRT Jabodebek dibuat tak sesuai dengan perencanaan awal yang matang alias salah desain.

Baca Juga: Doa Mustajab Meminta Turun Hujan, Lengkap dengan Bahasa Arab, Latin dan Artinya

Dirinya mencontohkan salah satunya terkait dengan longspan atau jembatan lengkung bentang panjang yang berada dibawah jalan Gatot Subroto hingga jalan Kuningan, Jakarta Selatan.

"Itu salah desain karena dulu Adhi (PT Adhi Karya) sudah bangun jembatannya, dia nggak ngetes sudut kemiringan keretanya," kata Tiko sapaan akrabnya dalam acara InJourney Talks secara daring yang dikutip Rabu (2/8/2023).

Menurut dia seharusnya Adhi Karya membuat jembatan lengkung tersebut dengan lebar, bukan yang ada seperti sekarang yang memiliki space terbatas, hal ini kata dia akan berdampak pada kecepatan kereta yang akan lewat.

"Jadi sekarang kalau belok harus pelan sekali, karena harusnya lebih lebar tikungannya," paparnya.

"Kalau tikungannya lebih lebar dia bisa belok sambil speed up, karena tikungannya sekarang udah terlanjur dibikin sempit, mau nggak mau keretanya harus jalan hanya 20 km/jam, pelan banget," tambahnya.

Tak hanya itu masalah lain muncul terkait software yang harus dimiliki oleh kereta tanpa masinis tersebut. Dia bilang Siemens yang merupakan penyedia software LRT Jabodebek memprotes karena spesifikasi kereta yang dibua PT INKA (Persero) tidak sama satu dengan lainnya.

"Siemens suatu hari call meeting, komplain sama saya. Pak ini software-nya naik cost-nya, kenapa, spec keretanya INKA ini baik dimensi, berat maupun kecepatan dan pengeremannya berbeda-beda satu sama lain," papar Tiko.

"Jadi 31 kereta beda spec semua, jadi software-nya mesti dibikin toleransinya lebih lebar supaya bisa meng-capture berbagai macam spec tadi itu," tambahnya.

Load More