/
Minggu, 04 September 2022 | 12:47 WIB
foto sejumlah politisi PDI Perjuangan menangis tanggapi kenaikan harga BBM di era SBY. [witter/@ekowboy2] (Suarasumut.id)

Suara Denpasar - Sindiran pedas dilayangkan netizen kepada tokoh-tokoh PDI Perjuangan yang menangis saat era SBY ada kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Sebab, saat PDI Perjuangan menjadi partai berkuasa dan aparat partainya menjadi Presiden. Nah, ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi resmi mengumumkan kenaikan harga BBM bersubsidi pada Sabtu (3/9/2022) siang.

Di mana Pertalite harganya menjadi Rp 10.000 per liter, sementara Solar menjadi Rp 6.800 per liter. Tak ada satu pun tokoh PDI Perjuangan yang menangis.

"Mana buku sakti anti naik BBM dari PDIP?" sentil warganet seperti dikutip dari Suara com. Umum diketahui pada 2008 saat SBY berencana menaikkan harga BBM langsung disikapi tokoh PDI Perjuangan.

Bahkan air mata Mgawati menetes saat Rakernas PDI Perjuangan di Makassar, Sulawesi Selatan pada 27 Mei 2008. Ia mengaku ikut sakit hati melihat kemiskinan di Indonesia yang salah satunya diakibatkan oleh kenaikan harga BBM.

"Banyak rakyat lapar karena tingginya angka kemiskinan, tidak mendapatkan pendidikan yang bagus, tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik," demikian ucap Megawati saat itu.

"Ini gak ada adegan nenek-nenek sama anaknya nangis lagi nih? Mana nih... ayo donk nangis," tulis warganet. "@puanmaharaniri nanges la woi," desak warganet. Setali tiga uang dengan sang putri yakni Puan Maharani. Ketika menjadi Anggota DPR RI dari Fraksi PDIP.

Dia juga menangis dalam sidang paripurna sebagai bentuk protes kenaikan harga BBM.
Ada lagi Rieke Diah Pitaloka dan Ribka Tjiptaning yang juga menangis usai sidang paripurna. "Mpo oneng @riekediahp kok ga demo lagi, kemana mpo?" sentil warganet.***

Baca Juga: Habib Jafar Beri Pandangan Soal Fenomena Ramainya Seorang Pesulap dengan Orang Pintar

Load More