/
Rabu, 21 September 2022 | 11:02 WIB
Ilustras Irjen Ferdy Sambo dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo (Suara Denpasar)

Suara Denpasar - Banyak pihak menuding jalannya kasus pembunuhan Brigadir Joshua Hutabarat atau Brigadir J terkesan ngambang.

Itu jika tidak mau dikatakan bertele-tele. Jelang tiga bulan penanganan kasus yang menjadi viral saban hari di negeri ini. Keraguan publik terus terjadi kendati sudah dibentuk tim khusus (timsus) Polri.

Timsus juga sudah menetapkan lima tersangka dalam kasus pembunuhan berencana tersebut. Yakni Irjen Ferdy Sambo, Putri Candrawathi, Kuat Ma'aruf, Bhadara Richard Eliezer, dan Bripka Ricky atau RR.

Belum lagi puluhan polisi terseret dalam kasus menghalang-halangi penyelidikan dengan ikut mengaburkan atau menghilangkan barang bukti di antaranya sudah dijadikan tersangka oleh penyidik Timsus.

Namun, keraguan publik terus saja menggelinding. Sebab, diperjalanan kasus kembali mencul isu soal pemerkosaan hingga hasil lie detector tokoh utama dalam kasus ini tidak diumumkan ke publik.

Ribetnya penanganan kasus yang melibatkan Kaisar Sambo, sebutan warganet untuk mantan Kadiv Propam Polri itu secara tersirat diakui Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat bincang-bincang dengan Melina Aras yang ramai di Tiktok.

Jelas Kapolri dalam penanganan kasus Brigadir J ada empat kelompok yang dia petakan. "Ada empat kelompok pertama yang memanf betul betul mengetahui , kelompok internal yang mendampingi FS," katanya. Kelompok itu adalah para ajudan Ferdy Sambo.

Yang menarik adalah kelompok kedua yang belakangan membuat runyam kasus ini. Yakni mereka yang tahu pada saat CCTV ditemukan kemudian menutupi.

"Tetap menutupi karena ada hubungan psiko-hirarki, memiliki hubungan dekat dan menjadi anak buah yang bersangkutan," jelas Kapolri.

Baca Juga: Lantang Kritik Kasus Ferdy Sambo, Susno Duadji Ngaku Kerap Diteror Tapi Tidak Takut: Kasus Ini Very Simpel

Ini juga yang menjadi biang masalah. Sebab, banyak polisi akhirnya bimbang harus melakukan apa dalam kasus ini.

Namun, sebagai abdi masyarakat dan penegak hukum. Harusnya anggota Polri harus memilih bahwa dalam situasi dan kondisi organisasi sedang mengalami hantaman yang luar biasa. Harusnya ikut terbuka dan menjaga organisasi.

Tapi, banyak di antara oknum polisi itu malah memilih menjadi penjaga Ferdy Sambo karena menganggap dia menjadi pimpinannya.

Seperti diketahui, kematian Brigadir J sampai saat ini masih banyak menyimpan teka-teki dan melebar ke mana-mana.

Bahkan, warganet menuding masih ada ketakutan di petinggi Polri jika menghukum Ferdy Sambo, itu akan berujung dengan aksi perlawanan yang bersangkutan. Misal, membongkar borok oknum pejabat Polri yang lain ke publik. ***

Load More