/
Senin, 31 Oktober 2022 | 09:23 WIB
Terungkap, Sejarah Kang Dedi Mulyadi Pakai Iket Kepala, Dulu Dituduh Musrik Kini Ditiru Pejabat Sunda (KDM Chanel)

Suara Denpasar- Kang Dedi Mulyadi tidak bisa terlepas dengan aksesoris yang selalu dipakai, yakni iket kepala atau ikat kepala yang selalu dipakai di manapun berada jika keluar rumah.

Iket kepala ini bahkan selalu menjadi ikon dirinya di acara-acara formal selama menjabat sebagai wakil dan Bupati Purwakarta dua peridode hingga kini menjadi anggota DPR RI.

Bukan tanpa sebab kenapa pria yang kini digugat cerai Anne Ratna Mustika ini mengenakan iket kepala tersebut.

Kang Dedi pun akhirnya menjelaskan awak mula dirinya mengenakan iket kepala yang menjadi bagian tradisi warga di Sunda tersebut.

Kang Dedi Mulyadi menyebutkan jika iket kepala adalah lambang kehormatan, lambang kepemimpinan bagi seorang pria.

Dia pun menjelaskan jika sudah rutin mengenakannya hampir 20 tahun lamanya.

"Saya mulai pakai iket pertama kali saat jadi wakil bupati, gak tahu, gak ada yang nyuruh, semua saya lakukan alamiah, sehingga kemana-mana saya pakai iket," kata Kang Dedi Mulyadi seperti dilihat di akun youtube KDM Chanel, dikutip pada Senin (31/10).

Sejak saat itu dirinya selalu mengenakan iket dalam acara-acara pemerintahan dan non pemerintahan.

"Saya pejabat pertama yang pakai iket, sampai saya dikasih gelar si cepot, sampai dikatain pakai iket musrik, pakai iket kafir, tambah lagi saya nyebutin sampurasun," ungkapnya.

Baca Juga: Top 3, Nikita Mirzani Terancam 12 Tahun, Kang Dedi Mulyadi Lepas Iket Kepala, hingga Nathalie Holscher Move On dari Sule

Tudingan itu ia alami bertahun-tahun selama dirinya menjabat sebagai wakil Bupati sampai menjadi bupati dua periode lamanya.

"Tapi biasa saja, dimusrikin, dikafirin, karena kemusrikan dan kekafiran itu Allah yang menentukan, bukan orang yang menentukan, orang tidak bisa menentukan hanya dari kulitnya saja, merasa dekat dan tidak kan saya yang merasakan, bukan kamu bro," imbuhnya.

Karena itu dia pun tidak mempedulikan tudingan dari lawan-lawan politiknya soal mengenakan iket kepala tersebut.

"Saya pakai iket trus kemana-mana, sampai disebut pejabat yang melanggar tata etika birokrasi, ah gak papa," urainya.

Saat itu dirinya memiliki kebiasaan keliling kampung sambil mengenakan iket kepala terus menerus.

"Saya maunya dipanggilnya akang bukan bapak, akang saja biar dekat, biar gak ada lagi sekat antara pejabat dan rakyatnya," ungkapnya.

Kini setelah puluhan tahun setia memakai iket, aksesoris iket kini menjadi tren di kalangan pejabat maupun masyarakat.

"Kini iket tren, hampir semua pejabat Sunda sekarang pakai iket, banyak yang pengen dipanggil akang. Akhirnya melekatlah nama Kang Dedi," ceritanya.

Namun untuk pertama kalinya kemarin Kang Dedi melepaskan iket kepala saat menghadiri panggilan sidang perceraian yang dilayangkan Anne Ratna Mustika di Pengadilan Agama Purwakarta. ***

Load More