Suara Denpasar - Made Muliana Bayak seniman asal Bali ikut mengkampanyekan jaga bumi dari krisis Iklim. Ia mengajak peserta diskusi dan talk show untuk melukis pada kanvas yang sudah ia siapkan untuk menyampaikan aspirasi terkait krisis Iklim.
Komunitas 350.id Indonesia menyelenggarakan diskusi dan talk show di Amaris Hotel, Teuku Umar, Denpasar pada minggu (6/11/2022). Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi yaitu Sesi diskusi dan talk show.
Pada kesempatan tersebut, Made Bayak sebagai pengisi materi talk show yang bertajuk "Ruang Aspirasi dan Seni Anak Muda Bali Untuk Iklim" mempresentasikan beberapa aksi vandalisme yang dilakukan sejumlah orang di museum-mesum besar dunia.
Aksi vandalisme itu berupa pelemparan kue dan saos tomat pada lukisan terkenal dunia dibeberapa tempat. Salah satunya adalah maha karya Leonardo Da Vinci yaitu lukisan Mona Lisa di Museum Louvre, Paris, pada Minggu 29 Mei 2022.
Dalam penjelasannya, Made Bayak mengatakan bahwa para pelaku melakukan itu sebagai bentuk protes terhadap kerusakan lingkungan yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar dunia.
Setelah mempresentasikan materinya, Alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu mengajak peserta talk show untuk melukis atau mencoret-coret kanvas yang sudah tersedia sebagai partisipasi orang muda Bali untuk menuangkan aspirasi terhadap krisis iklim.
"Silahkan tuangkan ide kreatif atau aspirasi teman-teman, mau itu ajakkan untuk menjaga lingkungan ataupun protes terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini," ujar seniman yang sering dikenal sebagai seniman Plasticology karena mengolah sampah-sampah menjadi instalasi seni.
Semua peserta terlihat antusias menuangkan aspirasi. Ada yang menggambar ekskavator sebagai simbol eksploitasi alam, ada yang menggambar simbol perlawanan terhadap perampasan lahan oleh oligarki dan ada yang menuliskan ajakkan untuk menjaga bumi.
Untuk diketahui sebelumnya kegiatan ini diawali dengan diskusi dengan tema "Seriuskah Dunia Melakukan Transisi Energi Untuk Meredam Krisis Iklim?"
Yang menjadi pemateri pada sesi diskusi ini adalah I Gede Robi Supriyanto alias Robi Navicula vocalis musik rock terkenal asal Bali Navicula Band.
Robi Navicula berpandangan bahwa krisis iklim tidak akan terjadi atau bisa terselesaikan apabila pemerintah ketika melakukan suatu pembangunan ekonomi atau pembangunan apapun berlandaskan pada filosofi lokal asal Bali Tri Hita Karana.
Bagi Robi Navicula jika setiap program-program pembanguan membawa serta konsep Tri Hita Karana di dalamnya makan program itu akan disebut paling ideal karena memperhatikan hubungan masa depan (Hubungan ketuhanan) hubungan manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungan.
"Jadi apapun yang kita lakukan baik itu individu maupun pemerintah harus memperhatikan tiga unsur yang termuat dalam konsep Tri Hita Karana, karena ada unsur manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam lingkungan," ucap pendiri Navicula Band dan aktivis lingkungan dan sosial itu.
Selain Robi Navicula, Sisil yang merupakan pemateri lain dalam sesi diskusi tersebut ketika ditanyai pendapat terkait konflik agraria yang sering terjadi antara masyarakat dan pemerintah, ia berpendapat bahwa konflik agraria tersebut sangat kompleks untuk dipahami karena ada kompetisi dan klaim kepentingan.
"Ada kompetisi dan klaim lahan antara masyarakat, pemerintah dan korporasi, dan kadang-kadang klaim pemerintah itu tidak berdasar namun karena kekuatan terbesar ada pada pemerintah akhirnya masyarakat yang harus mengalah meskipun masyarakat sudah tinggal di sana sudah turun temurun, mereka yang menjaga lingkungan itu untuk diwarikan kepada anak cucu mereka nanti" ujar Sisil.
Berita Terkait
-
Robi Navicula: Kebijakan Pembangunan Pemerintah Mestinya Berlandaskan Tri Hita Karana
-
Gempa Terkini di Bali, Dirasakan di Denpasar dengan Pusat Gempa di Gianyar
-
Alasan Bali Dipilih Jadi Tempat TC Timnas Indonesia Jelang Piala AFF 2022
-
Diskusi di Kampus Unud Pertanyakan Apa Kontribusi G20 untuk Rakyat Bali
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- 5 HP Infinix Kamera Bagus dan RAM Besar, Harga Mulai Rp1 Jutaan
- 5 HP Samsung Kamera Bagus dan RAM Besar, Pas buat Multitasking
Pilihan
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
-
AS Blokade Semua Pelabuhan Iran Senin Hari Ini, Harga BBM Langsung Naik
-
Balas Rhoma Irama, LMKN Jelaskan Akar Masalah Royalti Musik Dangdut Jadi Rp25 Juta
Terkini
-
Sinopsis The King's Warden, Film Terlaris ke-2 di Box Office Korea
-
Industri Kendaraan Komersial Masih Hadapi Tantangan Meski GIICOMVEC 2026 Diklaim Sukses Besar
-
Gagal Samai Rekor Clean Sheet Yoo Jae Hoon di Pekan 27, Teja Paku Alam Santai
-
5 HP Infinix 5G Paling Worth It di Tahun 2026, Cocok untuk Gaming dan Streaming
-
Kemhan Luruskan Kabar 'Akses Udara Tanpa Izin' Militer AS: Itu Masih Pembahasan, Jangan Terprovokasi
-
3 Cara Cari Promo Indomaret Terbaru agar Belanja Bulanan Makin Hemat
-
Denny Sumargo Konfirmasi Yai Mim Meninggal Dunia, Sebut Berpulang Saat Ditahan
-
Sekjen ATSI Merza Fachys: Operator Siap Laksanakan Registrasi SIM Biometrik, Tapi...
-
Anwar BAB Sempat Merasa Janggal Sebelum Boiyen Menikah dengan Rully Anggi Akbar
-
Beda Kelas! Saat Steven Wongso Jadikan Obesitas Bahan Hinaan, Ade Rai Justru Bongkar Bahayanya