Suara Denpasar - Museum kereta api Indonesia di Kabupaten Bondowoso dibuka kembali pada Rabu (23/11/2022) siang.
Pada pembukaan kembali itu diwarnai aksi drama kolosal yang diperankan oleh anak-anak hingga kaum dewasa di area dalam stasiun Bondowoso yang sudah lama mati suri tersebut.
Drama kolosal yang dimainkan tentang tragedi gerbong maut, dimana 46 pejuang Indonesia asal Bondowoso gugur dalam peristiwa tersebut.
Tragedi gerbong maut sendiri terjadi pada 21 Juli 1947 akibat agresi militer 1 yang dilakukan oleh Belanda.
Dalam drama kolosal itu, nampak sederet kaum perempuan sedang asyik bermain bersama.
Kemudian mereka riang gembira usai mendengar bacaan text proklamasi yang diproklamirkan oleh Presiden Soekarno lewat Radio pada 17 Agustus 1945.
Suasana lantas berubah ketika Belanda melancarkan agresi militer 1 sejak Juli 1947.
Penduduk yang awalnya ditampilkan hidup ceria, tenang dan damai, berubah kembali menjadi kaum tertindas.
Belanda pada agresi militer 1 menyisir dari Kabupaten Situbondo, Bondowoso, Jember hingga ke Surabaya.
Baca Juga: Kontroversi Ban Kapten One Love di Piala Dunia 2022: Dilarang FIFA, Timbul Aksi Protes
Sampai akhirnya muncul perlawanan dari para pejuang dari Bondowoso dengan cara gerilya.
Banyak pejuang gugur dalam peristiwa itu, namun yang masih hidup disandera dan dimasukkan ke dalam gerbong untuk dikirim ke Surabaya menggunakan moda transportasi kereta api.
Tetapi, dikarenakan muatan terlampau penuh dan minim ventilasi, puluhan pejuang gugur kehabisan nafas di dalam gerbong sesampainya di stasiun Wonokromo, Sidoarjo.
Drama kolosal ditutup dengan perobekan warna biru pada bendera belanda dan menjadi merah putih, bendera Republik Indonesia.
Bendera merah putih itu lantas diserahkan kepada keturunan dari pak Singgih, salah satu pejuang yang gugur dalam peristiwa gerbong maut.
Keturunan dari pak Singgih kemudian menyerahkan bendera merah putih pada Bupati Bondowoso KH. Salwa Arifin, yang diwakili oleh Asisten II Pemkab Bondowoso, Abdur Rahman sebagai lambang diteruskannya semangat perjuangan membangun negeri. (*)
Terpopuler
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
- Persija Sudah Temukan Pengganti Mauricio Souza, Target Juara Super League Musim Depan
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Persib Bandung Buka Suara Terkait Sanksi FIFA, Ternyata Ini Penyebabnya
-
Bilal Indrajaya Nobatkan Karya The Beatles Ini sebagai yang Terindah di Dunia
-
BanBan Running Club Minta Maaf Usai Bikin Konten di Stadion Teladan Medan
-
India 'Buang Muka' dari Sawit Indonesia, Harga Referensi CPO Juni 2026 Terkoreksi 1,91 Persen
-
5 Pemain Kunci PSG untuk Kalahkan Arsenal di Final Liga Champions
-
Surat Kecil Untuk Tuhan: Janji dan Misteri di Balik Persahabatan
-
Ratu Sofya Lelah 2 Tahun Konflik dengan Sang Ibu Tak Kunjung Usai
-
Resmi Berpisah, Ini Statistik Mentereng M Rahmat di Bali United
-
Beli Tiket Rp14 Juta Cuma Dapat Punggung, Kirana Larasat Kecewa Nonton Konser F4 'FForever'
-
Buku Ya Tuhan, Desain Grafis, Deadline, Doa: Curhat Absurd Pekerja Kreatif