Suara Denpasar - Kebijakan pemerintah Nusa Tenggara Timur terkait masuk sekolah pukul 5 pagi menuai kontroversi.
Meski beberapa sekolah sudah menerapkan aturan tersebut, namun nyatanya kebijakan ini masih menjadi perdebatan.
Menurut Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), kebijakan itu tampaknya tidak melalui kajian akademis. Hal tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Koordinator Nasional P2G Satriwan Salim di Jakarta.
"P2G menilai kebijakan Pemprov NTT masuk sekolah pukul 05.00 WITA tampaknya tidak melalui kajian akademis terlebih dulu, " ujarnya pada Selasa (28/2/2023) seperti dilansir dari Antara.
Oleh sebab itu, P2G berharap agar kebijakan tersebut bisa dikaji lagi. Sebab seharusnya memang ada beberapa kajian yang harus dilalui seperti kajian filosofis, sosiologis, pedagogis, termasuk geografis.
Hal itu lantaran banyak jarak rumah siswa dan sekolah di NTT cukup jauh. Tak hanya siswa, namun juga guru. Jarak rumah mereka ke sekolah bahkan ada yang mencapai lima kilometer.
Alih-alih kebijakan sekolah masuk jam 5 pagi, ia menilai seharusnya pemerintah NTT lebih fokus pada masalah yang sifatnya lebih esensial. Misalnya saja masalah stunting .
Merujuk pada data Kemenkes pada 2021, NTT tercatat sebagai provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi sebesar 37,8 persen. Terkait masalah pendidikan, masih banyak kondisi ruang kelas yang butuh perbaikan.
Berdasarkan data NPD Kemdikbudristek pada 2021, ada 47.832 sekolah yang rusak. Selain itu masalah gaji guru honorer juga perlu mendapat perhatian.
Baca Juga: Mahasiswa Wajib Tahu! 5 Situs Jurnal Internasional untuk Referensi Kuliah
Masih ada ribuan guru yang upahnya jauh di bawah UMK atau UMP yakni sekitar Rp200.000-Rp750.000 per bulan.
"Mestinya kebijakan pendidikan Pemprov fokus saja pada masalah yang esensial dan pokok di atas," lanjutnya. (*/Ana AP)
Berita Terkait
Terpopuler
- Megawati: Saya Dipanggil Polisi 3 Kali, Diperiksa Jaksa Sampai Malam
- Febrie Adriansyah Minta Emas 74 Kg dan Uang Ratusan Miliar Segera Dikembalikan
- Besok, Front Mahasiswa UI hingga IPB Siap Gelar Aksi 'Merebut Kemerdekaan' di Jakarta
- Sunscreen Apa yang Bisa Memudarkan Flek Hitam di Wajah? Ini 9 Rekomendasi Terbaiknya
- PJJ Jakarta 18 Agustus 2026 Besok: Berlaku untuk Sekolah Negeri-Swasta, ASN Boleh WFH 50 Persen
Pilihan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Terputus Komunikasi Pasca Gempa, Mahasiswa NTT di Jogja Bergantung Bantuan Warga untuk Bertahan
-
Polwan Ditarik Mundur, Aksi BEM UI di Menara UOB Berujung Saling Dorong dengan Aparat
-
Gaji Manajer Kopdes Merah Putih Rp7,8 Juta per Bulan Viral, Benarkah Batal Rp16 Juta?
-
Dihadang Polisi di UOB Plaza, Massa UI: Ini Bukti Kita Belum Merdeka!
Terkini
-
Bye Kusam! 4 Brightening Pad Solusi Buat Wajah Cerah dan Lembap Seketika
-
Adu Nasib Anak Pelatih Timnas Indonesia: Putra Kluivert Paling Sukses, STY dan Herdman Beda Jalan
-
Lulus S2 di Semarang, WN Afghanistan Malah Dideportasi Gara-Gara Bikin Restoran
-
Tolic Wanti-wanti Rival: Ketika Semua Menyatu, Persib Bakal Jadi Tim Luar Biasa
-
Cari Bibit Unggul, Ratu Tisha Puji Festival Sepak Bola Rakyat di 5 Kota
-
Investor Asing Bawa Kabur Dana Rp488,49 Miliar, ISAT dan ANTM Banyak Dijual
-
Masa TNI Disuruh Masak?: Gatot Nurmantyo Kritik Masifnya Militer di Program MBG dan Kopdes
-
Lahir di Tengah Cuaca Panas Ekstrem, Bayi Gajah Sumatera di Padang Sugihan Dapat Perawatan
-
Geger Sekaten Solo: Keributan Pecah, Adu Dorong hingga Ada yang Dipukul di Bangsal Pagongan
-
Bukan Modifikasi Cuaca, BMKG Jelaskan Penyebab Hujan yang Guyur Jakarta Hari Ini