Suara Denpasar - Sindrom Tourette adalah sebuah kondisi neurologis yang ditandai dengan adanya gerakan tics atau suara yang tidak disengaja, yang muncul secara tiba-tiba dan tidak dapat dikendalikan.
Kondisi ini umumnya terjadi pada masa kanak-kanak dan remaja, namun dapat berlangsung hingga usia dewasa.
Gejala Sindrom Tourette
Gejala utama dari Sindrom Tourette adalah tics, yaitu gerakan atau suara yang tidak disengaja yang muncul secara tiba-tiba dan tidak dapat dikendalikan.
Tics dapat berupa gerakan mata, kepala, wajah, atau bagian tubuh lainnya. Sedangkan suara yang tidak disengaja bisa berupa suara menggaruk, bersin, atau mengeluarkan kata-kata yang tidak terkait.
Selain itu, penderita Sindrom Tourette juga dapat mengalami gejala lain seperti:
Kesulitan dalam berkomunikasi
Kesulitan dalam menjaga konsentrasi
Gangguan tidur
Baca Juga: Pedangdut Yeni Inka Menikah dengan Polisi, Ternyata Berawal dari Perselingkuhan
Gangguan perilaku dan emosi, seperti perilaku impulsif, gangguan obsesif-kompulsif, dan depresi.
Penyebab Sindrom Tourette
Penyebab Sindrom Tourette hingga kini belum diketahui secara pasti, namun para ahli meyakini bahwa kondisi ini berkaitan dengan ketidakseimbangan kimiawi di otak.
Selain itu, faktor genetik juga berperan penting dalam menentukan risiko seseorang mengalami Sindrom Tourette.
Pilihan Pengobatan Sindrom Tourette
Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan Sindrom Tourette secara total. Namun, terapi dan obat-obatan dapat membantu mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Berikut adalah pilihan pengobatan untuk Sindrom Tourette:
Terapi perilaku
Terapi perilaku dapat membantu penderita Sindrom Tourette dalam mengontrol gerakan dan suara tidak disengaja yang muncul.
Terapi ini melibatkan teknik-teknik seperti terapi perilaku kognitif dan terapi perilaku eksposur dengan respons pencegahan.
Obat-obatan
Obat-obatan dapat membantu mengurangi gejala Sindrom Tourette seperti tics, impulsivitas, dan gangguan obsesif-kompulsif. Obat yang umum digunakan adalah antipsikotik dan alpha-adrenergic agonists.
Terapi komplementer
Terapi komplementer seperti akupunktur, yoga, dan meditasi dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.
Terapi ini dapat membantu penderita Sindrom Tourette untuk mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup.
Kesimpulan
Sindrom Tourette adalah kondisi neurologis yang ditandai dengan adanya gerakan atau suara tidak disengaja yang muncul secara tiba-tiba dan tidak dapat dikendalikan.
Penyebab Sindrom Tourette belum diketahui secara pasti, namun faktor genetik dan ketidakseimbangan kimiawi di otak berperan penting.
Terapi dan obat-obatan dapat membantu mengurangi gejala Sindrom Tourette, namun tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan kondisi ini secara total.
Terapi perilaku, obat-obatan, dan terapi komplementer seperti akupunktur, yoga, dan meditasi dapat membantu mengurangi gejala dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Penderita Sindrom Tourette juga dapat memperbaiki kualitas hidup dengan menjalani gaya hidup sehat dan menghindari faktor-faktor yang dapat memicu munculnya gejala, seperti stres dan kelelahan.
Dalam menghadapi penderita Sindrom Tourette, diperlukan dukungan dan pemahaman dari lingkungan sekitarnya, terutama keluarga dan teman-teman.
Penderita Sindrom Tourette sering mengalami stigma dan diskriminasi karena gejala yang tidak disengaja dan kadang-kadang dianggap aneh oleh orang lain.
Oleh karena itu, penting untuk memberikan dukungan moral dan emosional yang diperlukan agar penderita merasa diterima dan dihargai.
Dalam menjaga kesehatan mental dan fisik penderita Sindrom Tourette, penting untuk memperhatikan asupan makanan yang sehat, menjaga tidur yang cukup, dan berolahraga secara teratur.
Selain itu, penderita juga dapat memperoleh dukungan dari kelompok dukungan dan organisasi yang menyediakan informasi dan bantuan untuk penderita Sindrom Tourette dan keluarga mereka. (*/Ana AP)
Berita Terkait
Terpopuler
- Bedak Apa yang Tahan Lama? Ini 5 Produk yang Bisa Awet hingga 12 Jam
- 5 Pemain Top Dunia yang Berpotensi Ikuti Jejak Layvin Kurzawa Main di Super League
- Pasca Penonaktifan, 3.000 Warga Kota Yogyakarta Geruduk MPP untuk Reaktivasi PBI JK
- 10 HP OPPO RAM 8 GB dari yang Termurah hingga Flagship 2026
- 4 Pilihan Smart TV 32 Inci Rp1 Jutaan, Kualitas HD dan Hemat Daya
Pilihan
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Komisi III DPR Tolak Hukuman Mati Ayah di Pariaman yang Bunuh Pelaku Kekerasan Seksual Anaknya
-
Bocah-bocah di Sarang Polisi: Asal Tangkap Perkara Aksi Agustus
-
Selamat Jalan 'Babeh' Romi Jahat: Ikon Rock N Roll Kotor Indonesia Tutup Usia
-
Sidang Adat Pandji Pragiwaksono di Toraja Dijaga Ketat
Terkini
-
Mengenang Perjuangan Penyintas Tsunami Aceh dalam Hafalan Shalat Delisa
-
Dari Novel ke Film: The Housemaid Sebuah Thriller Psikologis yang Mencekam
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Polisi Jamin Mahasiswi Penabrak Jambret di Jogja Bebas Pidana, Laporan Pelaku Tak Akan Diterima
-
Ratchaburi vs Persib, Bojan Hodak Akui Ngeri
-
Geledah KPP Madya Banjarmasin dan Kantor PT BKB, KPK Amankan Dokumen Restitusi
-
Profil Carla Yules, Miss Indonesia Jadi Finalis Program 'Bake Your Dream'
-
Dunning-Kruger Effect: Kenapa yang Inkompeten Justru Paling Percaya Diri?
-
5 Laptop AI Terbaik Awal 2026, Lebih Efisien untuk Kerja Profesional
-
Harga Minyak Stabil di Tengah Ketegangan Diplomatik AS - Iran