/
Kamis, 09 Maret 2023 | 13:20 WIB
Menguji Perilaku Mario Dandy secara Ilmiah, Psikolog: 'Tanda Jiwa Tak Baik' (Twitter Mariodandyss)

Suara Denpasar - Belakangan, marak pemberitaan mengenai perilaku pamer kekayaan. Dari mulai Mario Dandy, hingga anak Kepala Bea Cukai Makassar.

Ironisnya, hal tersebut dilakukan di tengah ketimpangan yang kian lebar di masyarakat. Bahkan apa yang dilakukan Mario Dandy merembet ke berbagai persoalan turunan lainnya.

Namun, apa yang menyebabkan Mario Dandy beserta orang-orang lain, gemar memamerkan kekayaan?

Sifat memamerkan kekayaan ala Mario Dandy itu mencoba dijawab oleh Novi Poesoita Candra, yang berlatar belakang akademisi Psikologi dari Universitas Gajah Mada (UGM).

Novi Poespita Candra menjelaskan bahwa kebiasaan orang yang memamerkan kekayaan -sebagaimana Mario Dandy- cenderung memiliki perasaan jiwa yang sedang tidak baik saja dalam kesehariannya.

"Orang yang senang hidup bermewah-mewahan menganut hedonism, yaitu hidup mengejar pleasure atau kesenangan. Hedonism ini muncul karena biasanya ingin mengurangi rasa sakit (pain) dalam jiwanya misal rasa kelelahan jiwa, kehilangan makna hidup, rasa bersalah dan lain-lain yang muncul," kata Novi, dilansir dari Antara, Kamis, 9/3/2023.

Lebih lanjut, menurut Novi, orang dengan rutinitas gaya hidup bermewah-mewahan, akan semakin melekat ketika menemukan lingkungan yang sesuai.

"Jadi, selain gaya hidup karena cara berpikir, maka lingkungan dia yang 'sama' membuat perilaku hedonism ini semakin menguat. Dalam teori behavioristik, adanya reinforcement positif dari lingkungan akan memperkuat sebuah perilaku," katanya lagi.

Sebagai tambahan informasi, bahwa untuk menyembuhkan sifat tersebut, menurut Novi, terdapat empat hormon yang harus dihidupkan agar mendapatkan jiwa yang bahagia dalam rutinitas sehari-hari.

Baca Juga: Genap 34 Tahun, Berikut 5 Rekomendasi Lagu Populer Taeyeon SNSD

Empat hormon tersebut adalah dopamine yang bertujuan meneruskan langkah positif untuk meraih pencapaian yang diimpikan dalam hidup.

Adapun hormon yang dapat membuat orang lebih bahagia, adalah oksitosin yang berguna untuk menghadirkan rasa cinta, kasih sayang, empatik dan juga rasa penerimaan yang tulus.

Lalu kemudian terdapat pula hormon serotonin yang akan menghidupkan rasa bermakna dan bermanfaat bagi orang lain seperti kegiatan sosial, voluntary dan lain sebagainya.

Untuk melengkapinya, orang-orang juga butuh dengan hormon endorphin atau sebuah kegembiraan yang lepas.

"Nah jika ada yang kurang dari yang di atas, maka tidak tercipta kebahagiaan. Maka ia akan sakit jiwanya dan mereka harus mengejar kesenangan dengan hedonism, yang sering orang awam sebut kebahagiaan semu," pungkasnya. (*/Dinda)

Load More