- Sosiolog UGM menilai kasus kekerasan siswa di Kalbar dan Jakarta adalah gejala kegagalan sistem pendidikan otoriter negara.
- Aksi ekstrem siswa adalah "pedagogi putus asa" muncul karena minimnya ruang dialog keluarga, sekolah, dan negara.
- Paparan kekerasan melalui media sosial memperparah kondisi, diperburuk lemahnya pengawasan pemerintah terhadap akses digital anak.
Suara.com - Keterkaitan antara kasus pelemparan bom molotov oleh siswa SMP Negeri 3 Sungai Raya di Kalimantan Barat (Kalbar) ke sekolahnya dengan pelaku ledakan di SMAN 72 Jakarta memicu kritik keras terhadap wajah pendidikan dan kenegaraan Indonesia.
Sosiolog UGM, AB. Widyanta, menilai rentetan aksi nekat ini membuktikan bahwa anak-anak hanyalah korban dari sistem yang sakit. Menurutnya monster sesungguhnya adalah kultur kekerasan yang dipraktikkan oleh negara dan orang dewasa.
"Jadi ini, yang monster itu bukan anak SMP ini. Monster-monsternya itu adalah pejabat publik negeri ini, yang juga dengan telanjang mempraktikkan praktik kekerasan struktural dengan korupsi, kolusi, nepotisme, itu adalah bagian dari itu," tegas Widyanta saat dihubungi Suara.com, Kamis (5/2/2026).
Dalam analisisnya, Widyanta menarik garis merah yang tegas antara kasus di Kalbar dan SMAN 72 Jakarta.
Ia melihat kesamaan pola di mana sekolah gagal menjadi ruang dialog dan justru mereproduksi watak otoriter negara.
Kondisi itu memicu perlawanan dalam bentuk kekerasan ekstrem. Widyanta, bilang dua kasus kekerasan di dua lokasi oleh siswa itu tidak bisa dilepaskan pula dengan fenomena bunuh diri siswa siswa SD di Nusa Tenggara Timur (NTT), dinilai memiliki akar persoalan yang sama.
Ia memperingatkan bahwa fenomena ini tidak boleh dilihat sebagai kejadian kriminal yang terpisah. Melainkan gejala dari kegagalan sistemik yang ia sebut sebagai "pedagogi putus asa".
"Jadi ini nyambung ya. Fenomena ini jangan dibaca sebagai hal yang terpisah. Bunuh diri ataupun molotov adalah bahasa terakhir di mana ruang tidak diberikan oleh keluarga, tidak diberikan oleh sekolah, tidak diberikan oleh negara," ujarnya.
Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM itu menjelaskan bahwa tekanan emosional yang dialami anak-anak akibat kekerasan struktural dan kultural di lingkungan mereka akan berujung pada fatalisme.
Baca Juga: Terduga Pelaku Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Diamankan Polisi
Ketika sekolah dan keluarga gagal menyediakan ruang dialog, anak dihadapkan pada dua pilihan agresi ekstrem.
Pertama menyerang ke dalam yang membahayakan diri sendiri atau kedua menyerang keluar yang membahayakan orang lain.
"Peristiwa ini tidak jauh berbeda. Kalau mau peristiwa ekstrem yang membahayakan dirinya sendiri, itu dengan fenomena anak SD yang kemarin di NTT bunuh diri itu," tuturnya.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa perbedaan antara kasus bunuh diri dan pelemparan molotov atau ledakan di Jakarta itu hanyalah pada arah pelampiasan agresinya.
Berbagai tindakan dari siswa tersebut lahir dari represi yang sama, terutama ketika anak merasa terhimpit oleh aturan yang menuntut kepatuhan mutlak tanpa kanal untuk menyuarakan perasaan atau penderitaan mereka.
"Kalau yang tidak membahayakan orang lain tapi membahayakan dirinya sendiri, itu yang bunuh diri itu. Tapi kalau kemudian dia masih menyalurkan agresi emosionalnya itu keluar, maka yang terjadi adalah bahasa destruktif seperti itu," paparnya.
Berita Terkait
-
Lempar Bom ke Sekolah, Siswa SMP di Kubu Raya Ternyata Terpapar TCC dan Jadi Korban Perundungan
-
Bom Molotov Meledak di SMPN 3 Sungai Raya, Polisi Ungkap Terduga Pelaku Siswa Kelas IX
-
Terduga Pelaku Bom Molotov di SMPN 3 Sungai Raya Diamankan Polisi
-
Geger! Bom Molotov Dilempar ke Sekolah di Kubu Raya
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Pelatih FC Twente Usir Mees Hilgers: Saya Tak Berharap Dia Kembali ke Klub!
- PIP Termin II 2026 Kapan Cair? Ini Jadwal Lengkap dan Cara Ceknya agar Dana Tidak Hangus!
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
Pilihan
-
Aktris Sali Irsalina Dianiaya Pacar di Fatmawati, Mata Lebam Hingga Diselamatkan Polantas
-
Dipilih Lewat Seleksi Ketat, Bank Dunia Kembali Tunjuk Sri Mulyani Duduki Jabatan Strategis
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
Terkini
-
Ada Lex Specialist Dalam RUU PA: Penyitaan Aset Sebelum Persidangan Pokok Perlu Diuji
-
Raih 106 Juta Views, I Will Find You Masuk Top 10 Serial Populer di Netflix
-
Polda Jateng Tangkap Mahasiswa Penyebar Konten Pornografi Berbasis Deepfake
-
Nasdem Tolak Usulan Pilkada Tanpa Wakil, Ingatkan Risiko Konsentrasi Kekuasaan
-
Pemerintah Kebut MBG di Daerah 3T, Target Papua hingga Maluku Tuntas Pekan Ini
-
4 Awak Terluka dalam Serangan Terhadap Kapal di Laut Hitam
-
Wapres AS: Ada Orang Iran yang Radikal Ingin Perang Berlanjut
-
Raja Juli Antoni dari Partai Apa? Ini Rekam Jejaknya di Politik
-
Pemerintah Izinkan Pesantren Kelola Dapur MBG, Syaratnya Minimal 1.000 Santri
-
Dugaan Pelibatan Anak dalam Promosi Vape, DPR Minta Aparat Hukum Mengusut secara Tuntas