Suara Denpasar - Nosstress, group musik asal Bali yang terkenal dengan lagu-lagu bergenre indie, akustik, folk, blues, dan pop itu mengapresiasi lagu Tabir Kelam.
Lagu Tabir Kelam sendiri merupakan lagu ciptaan solois delta blues bernama Made Mawut.
Lewat lirik lagunya itu, Made Mawut ingin masyarakat mengetahui kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim Soeharto pada tahun 1965.
Yang mana pada tahun itu hampir setengah juta orang dibantai dengan tuduhan sebagai komunis di Indonesia. Orang-orang tak bersalah itu dibantai setelah kegagalan kudeta G30S PKI tahun 1965.
Tentang orang-orang tak bersalah yang dibantai itulah Made Mawut membuat lagu Tabir Kelam.
Sebab setelah kekejian itu, masyarakat dipaksa melupakan peristiwa kelam tersebut dengan tebaran ancaman oleh penguasa.
Masyarakat dilarang bertutur jujur dengan apa yang terjadi sebenarnya. Peristiwa itu lebih besar dari murka alam sampai-sampai orang-orang yang dibantai itu hilang tanpa jejak. Keluargapun tidak mengetahui di mana jazad mereka dikebumikan.
Dalam lagu itu, Made Mawut berkolaborasi dengan Nosstress sehingga membuat lagu itu semakin hidup dan bisa dinikmati dengan sederhana.
Man Angga, salah satu personil band Nosstress mengatakan lagu Tabir Kelam ciptaan Made Mawut itu adalah upaya melawan lupa atas genosida yang terjadi di tahun 1965.
Baca Juga: Koleksi Gol Terbanyak, David Da Silva Bakal Raih Gelar Pemain Terbaik Persib Season 2022/2023?
Sehingga dia mengucapkan apresiasi sekaligus berterima kasih karena sudah diikutsertakan dalam melawan lupa genosida 65 melalui lagu Tabir Kelam.
"Saya atas nama pribadi (Man Angga) dan Guna Warma, Nosstress berterima kasih banyak sudah turut disertakan dalam karya-karya Made, dalam upaya mengungkapkan kebenaran sejarah," ujar Man Angga dalam acara tayang perdana dan bedah video musik Tabir Kelam, di Taman Baca Kesiman, Denpasar, Bali, Jum'at (7/4/2023) malam.
Man Angga menambahkan, bahwa lagu Tabir Kelam adalah sebagai salah satu media untuk mengetahui sejarah kekejaman rezim Soeharto sekaligus melawan ketakutan dari sejarah genosida 1965 itu.
Sebab bagi dia, ketidaktahuan akan sebuah sejarah kelam hanya akan mengulang sejarah itu sendiri.
Maka pengetahuan terhadap sejarah tersebut menjadi jalan untuk menghindari sejarah itu terulang kembali.
"Ketika ketakutan ini lestari, saya pikir sudah berhasil rezim itu menanamkan dengan baik karena yang berusaha dihapuskan dari kita para anak muda ini adalah keberanian, kemudian yang ingin mereka wariskan adalah ketidaktahuan, kebutaan akan sejarah. Jika kita menyerah sama ketakutan kita, niscaya kita akan sah mewarisi ketidaktahuan akan sejarah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Airlangga Tak Ambil Pusing: Yang Penting Institusi Berjalan
-
Kronologi Komplotan Curanmor Bersenpi di Gandus Terbongkar, Satu Ditangkap dan Dua Masih Buron
-
Kenapa John Herdman Tak Berada di Bench Timnas Indonesia? Disamakan dengan Luis Enrique
-
Napi Pekanbaru Kabur Dikejar ke Jakarta, Isu Iming-imingi Petugas Rp30 Juta Mencuat
-
Profil Mitchell Baker Bomber Keturunan Semarang-Yogya Harapan Baru Timnas Indonesia
-
BGN Siapkan Sistem Digital, Orang Tua Bisa Pantau Menu MBG
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
RUU Sisdiknas Dikritik, Wewenang Menteri Pilih Rektor Dinilai Ancam Demokrasi Kampus
-
Review Voicemails for Isabelle: Sebuah Arti Ketulusan Cinta yang Sejati
-
Review Viva Peeling Serum, Harga Rp20 Ribuan tapi Ampuh Bikin Wajah Glowing?