Depok.suara.com - Tragedi Kanjuruhan menyebabkan banyak publik yang menyoroti. Tidak hanya dari dalam negeri, media asing pun menyorot tajam peristiwa yang menewaskan 125 orang.
Media asing Channel News Asia Channel ini bahkan menyebut aksi polisi yang menggunakan gas air mata dalam pertandingan antara Arema vs Persebaya tanpa ragu disebut fatal dan "tidak bisa dimaafkan".
Dalam headlinenya, CNA menuliskan headline "'Tidak dapat dimaafkan' bagi polisi untuk menggunakan gas air mata dalam penyerbuan sepak bola Indonesia yang mematikan: Analis". Judul itu berdasarkan hasil wawancara dengan seorang analisis.
Menyadur CNA, Departemen Bisnis Olahraga Internasional di Universitas Victoria, Profesor Hans Westerbeek menjelaskan lingkungan stadion Kanjuruhan yang tertutup menawarkan sedikit pelarian bagi para korban. Padahal, dalam kejadian itu, mereka berusaha melarikan diri dari efek tersedak dan terbakar gas air mata.
Terbatasnya akses keluar menyebabkan sedikitnya 125 orang tewas, termasuk dua orang polisi. Westerbeek pun menegaskan jika penyelidikan harus dipusatkan pada peran pihak berwenang, di mana ini adalah polisi.
Dirinya mengatakan bahwa gas air mata memicu kepanikan yang luar biasa di tengah kerumunan. Situasi ini diperparah saat gas air mata ditembakkan di ruang terbatas seperti stadium.
“Fakta bahwa orang tidak bisa bernapas, bahwa mereka berjuang untuk mendapatkan oksigen. Tentu dari sudut pandang kebijakan dan prosedur polisi, harus diketahui bahwa (gas air mata) menciptakan jumlah kepanikan terbesardi ruang terbatas,” kata Profesor Hans Westerbeek mengatakan kepada CNA Asia First, Senin (5/10/2022).
"Tentu saja, tidak bisa dimaafkan menggunakan gas air mata," tegasnya.
Diketahui, kekacauan bermula saat para suporter menyerbu lapangan. Situasi itu rupanya ditanggapi polisi dengan tembakan gas air mata yang diarahkan ke tribun.
Baca Juga: PSSI Putuskan BRI Liga 1 Berhenti, Luis Milla Motivasi Anak Asuhnya
Alhasil, suporter di tribun yang tidak ikut merangsek ke tengah lapangan terkena dampak fatal. Mereka panik berusaha bernapas dan menghindari semburan gas air mata.
Tak sedikit yang terinjak-injak hingga terhimpit kehabisan napas saat mereka menyerbu ke arah gerbang di Stadion Kanjuruhan di Malang.
Dalam kejadian itu, polisi menyebut banyak korban yang hancur atau mati lemas. Tak terkecuali 32 anak-anak yang meninggal dunia. Ini menjadi salah satu bencana stadion paling mematikan di dunia.
“Di ruang terbatas, mengapa Anda memutuskan untuk membuat tingkat kepanikan, di mana pada dasarnya Anda menggiring orang ke area yang tidak ada jalan keluar?” tanyanya.
"Saya pikir itu akan menjadi fokus investigasi internal dan lokal dari tindakan polisi," tandas Profesor Hans Westerbeek.
Sementara itu, Badan Sepak Bola Dunia, FIFA mengatakan dalam peraturannya bahwa polisi atau otoritas keamanan dilarang membawa atau menggunakan senjata api atau gas pengendali massa.
Sumber: Suara.com
Berita Terkait
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang Mendadak, Bisa Jadi Tanda Batu Saluran Kemih
-
Motul Perluas Jangkauan di Jawa Barat, Dorong Pertumbuhan Ekosistem Otomotif Nasional
-
Igor Tolic Beberkan Faktor X yang Bikin Persib Hajar Arema di Piala Presiden 2026
-
Naik Kereta untuk Liburan? Jangan Lupa Siapkan Antisipasi Jika Jadwal Berubah
-
Febrie Adriansyah Ditahan di Rutan KPK, Koalisi Sipil Desak Pengusutan Tuntas Tanpa Intervensi
-
MAXI Yamaha Day Jabar 2026 Pikat Komunitas dengan Budaya dan Alam Kuningan
-
Gap antara Kampus dan Industri Masih Lebar, Mahasiswa Bisa Rugi Kalau Tak Bersiap
-
Hanya Gara-gara Colokan Kabel, Bisnis MUA di Tuban Kebakaran Rugi Rp400 Juta
-
Tangis Ayah untuk NH, Dugaan Perundungan yang Berulang, Bocah Kelas 3 SD Meninggal
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Dua Kali: Abu Hitam Pekat Selimuti Langit Selat Sunda