Depok.suara.com - Serangan Rusia ke Ukraina telah memasuki bulan ke-8. Namun sanksi demi sanksi yang dikeluarkan Barat tak terlalu efektif. Sehingga, negara yang dipimpin Presiden Vladimir Putin itu tak kunjung mengalami krisis seperti negara-negara lain.
Tak seperti negara-negara di Eropa, Rusia tidak bergantung pada negara lain untuk memenuhi energi gasnya sendiri. Sebaliknya, Kremlin memproduksi energinya sendiri dan menjadi pengekspor utama bagi banyak negara di blok Biru tersebut.
Akibatnya, 'suara' Eropa terkait sanksi Rusia terbelah. Hungaria menjadi salah satu negara yang menyatakan tidak dapat mendukung rencana sanksi putaran kedelapan Uni Eropa (UE) terhadap Rusia atas serangannya ke Ukraina, apalagi jika sanksi itu terkait energi.
Hal ini disampaikan kepala staf Perdana Menteri Viktor Orban pada akhir September lalu. Orban sendiri telah menjadi kritikus vokal dan mengatakan bahwa sanksi UE telah menjadi bumerang, di mana sanksi menaikkan harga energi dan memberikan pukulan bagi ekonomi Eropa sendiri.
"Hungaria telah melakukan banyak hal untuk mempertahankan persatuan Eropa tetapi jika ada sanksi energi dalam paket tersebut, maka kami tidak dapat dan tidak akan mendukungnya," kata kepala staf, Gergely Gulyas dalam sebuah pengarahan, dikutip dari Reuters, Jumat (7/10/2022).
"Kami sedang menunggu daftar sanksi final yang lengkap dan kemudian kami dapat merundingkannya. Hungaria tidak dapat mendukung sanksi energi."
Pemerintah Hungaria juga sedang dalam pembicaraan dengan Komisi Eropa untuk mengamankan miliaran euro dalam dana UE yang diblokir karena masalah aturan hukum. Gulyas mengatakan dia mengharapkan kesepakatan akan ditandatangani karena Budapest siap memenuhi semua komitmennya kepada komisinya.
Seperti yang diketahui, eksekutif UE tengah mengusulkan sanksi baru terhadap Rusia, termasuk pembatasan perdagangan yang lebih ketat, lebih banyak daftar hitam individu, dan batasan harga minyak untuk negara ketiga.
Namun, sanksi yang diusulkan tidak termasuk langkah-langkah yang lebih keras, termasuk larangan mengimpor berlian Rusia, yang diupayakan oleh Polandia dan tiga negara Baltik lainnya.
Baca Juga: Gus Miftah Kaget Farel Prayoga Nggak Ngaji: Izin Mbah, Farel Non Muslim!
Untuk mencapai hal tersebut, negara-negara Uni Eropa membutuhkan suara bulat untuk menjatuhkan sanksi. Sayangnya tak semua negara setuju.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Evakuasi Dramatis Pendaki 145 Kg di Gunung Gede Pangrango
-
Semester II-2026 Penuh Tekanan, Investor Saham Diminta Bersiap
-
Sinar Mas Land dan 2 Universitas Terkemuka Perluas Akses Pendidikan Global di BSD City
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Purbaya Akhirnya Turun Tangan soal Pajak JHT usai Diprotes Buruh
-
Pasar Kripto RI Makin Dilirik, BTSE Indonesia Kini Jadi Pemain Baru
-
Jangan Asal Ikut Tren! Teknologi AI Kini Bisa Bantu Kenali Kondisi Kulit Sebelum Beli Skincare
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Transformasi Industri Rendah Karbon Digenjot demi Target Net Zero Emission 2050