/
Senin, 10 Oktober 2022 | 19:22 WIB
Potret tragedi stadion Kanjuruhan yang menelan ratusan korban jiwa (Istimewa/instagram)

Depok.suara.com, Terkait perkembangan kasus tragedi Stadion Kanjuruhan Malang yang menelan ratusan korban jiwa beberapa waktu lalu, Aparat kepolisian menyebutkan bahwa mayoritas korban meninggal disebabkan karena kekurangan oksigen akibat berdesakan serta terinjak injak.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Dedi Prasetyo mengatakan, berdasarkan keterangan para ahli dan dokter spesialis tidak ada satupun korban meninggal dunia di Stadion Kanjuruhan yang disebebkan oleh gas air mata.

"Dari dokter spesialis penyakit dalam, penyakit paru, penyakit THT, dan juga spesialis penyakit mata, tidak satu pun yang menyebutkan bahwa penyebab kematian adalah gas air mata," ujar Dedi kepada wartawan, seperti dikutip Suara.com.

"Yang terjadi adalah, korban meninggal dunia lantaran kekurangan oksigen akibat berdesak desakan hingga terinjak injak," sambungnya.

Lebih lanjut Dedi mengatakan, efek dari gas air mata hanya menimbulkan iritasi dan tidak sampai menyebabkan kematian.

"Sampai saat ini belum ada jurnal ilmiah yang menyebutkan ada fatalitas gas air mata yang mengakibatkan orang meninggal dunia," katanya.

Selain itu kata Dedi, ada beberapa gas air mata yang ditemukan merupakan produk yang sudah kadaluwarsa, tercatat ada yang telah kedaluwarsa sejak tahun 2021.

"Ya, ada beberapa yang ditemukan ya. Yang tahun 2021, ada beberapa," terangnya

"Saya belum tahu jumlahnya, tapi masih didalami oleh labfor," tambahnya.

Baca Juga: Indonesia U-17 Tak Lolos Piala Asia, Netizen Layangkan Sindiran Keras

Karenanya, Dedi menuturkan, gas air mata kedaluwarsa tidak berbahaya. Berbeda dengan makanan kedaluwarsa.

"Kebalikannya (dengan makanan), dengan zat kimia atau gas air mata ini, ketika dia expired justru kadar kimianya itu berkurang. Sama dengan efektivitasnya gas air mata ini, ketika ditembakkan, dia tidak bisa lebih efektif lagi," pungkasnya.

Sumber: Suara.com

Load More