/
Senin, 01 Agustus 2022 | 19:14 WIB
Lokasi penimbunan paket Bansos Jokowi di Depok. (Suara.com/Arga).

Ditemukan sejumlah fakta baru terkait temuan lokasi penimbunan bantuan sosial (Bansos) Presiden Jokowi di sebuah lahan dekat gudang JNE, Jalan Tugu Jaya, Kelurahan Tirta Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok. Fakta baru itu terungkap setelah video temuan "kuburan massal" paket bansos beredar di media sosial. 

Mengutip Suara.com, penimbuan paket bansos di masa pandemi Covid-19 itu tidak diketahui oleh perangkat RT setempat. 

Bikin Syok Pak RT

Ketua RT10/RW03, Sugeng mengaku baru tahu adanya temuan paket bansos yang diduga ditimbun tersebut dari berita.

"Kalau kami sendiri di lingkungan Tirtajaya, kami tidak tahu. Saya tahu dari Youtube," kata Sugeng saat dijumpai di lokasi.

Sugeng mengaku tidak pernah melihat atau mengetahui adanya aktivitas mencurigakan di lahan tersebut. Sebelumnya, lahan itu memang kerap dijadikan lahan parkir untuk mobil milik gudang JNE.

"Di sini mobil penuh, jadi warga tidak tahu. Ketua lingkungan jadi tidak tahu kalau di sini ada aktivitas mencurigakan. Ini tempat parkir JNE, jadi kami tidak tahu. Bukan kami tidak memperhatikan lingkungan, kami cukup waspada jadi kami tidak tahu persis," ucap Sugeng.

Keluarkan Bau Tak Sedap

Bau tidak sedap yang keluar dari lubang galian bekas "kuburan" paket bansos di dekat gudang JNE. Ceceran beras dengan aroma tak sedap juga tampak terlihat di galian tersebut.

Baca Juga: Polisi Periksa Pihak Kemensos dan JNE soal Beras Bansos Presiden Ditimbun di Depok

Pada bagian lahan yang digali tersebut juga telah ditutup terpal. Warga di sekitar lokasi pun mengeluhkan aroma tidak sedap imbas beras busuk yang diduga ditimbun tersebut.

Ngaku buat Septic Tank

Fakta lain yang terungkap setelah kasus ini terungkap adalah dari keterangan tukang gali bernama Nanang Firmansyah. Saat itu, melakukan penggalian lubang dengan lebar dua meter dan kedalalman 1,5 meter bersama rekannya yang bernama Rusdi. 

Awalnya, Nanang diminta untuk menggali lubang dari rekannya yang bernama Dadung. Saat itu, pihak JNE menghubungi Dadung untuk mencari tenaga menggali septic tank.

"Saya awalnya dikasih orderan dari teman, namanya Pak Dadung untuk gali septic tank, ya sudah," kata Nanang saat dijumpai di lokasi.

"Intinya minta cari tenaga. Saya enggak siap tenaga, saya cari teman. Dia (Nanang) mau," kata Dadung menambahkan.

Diangkut Pakai Beko

Kemudian, Nanang melakukan penggalian bersama rekannya yang bernama Rusdi. Mereka berdua melakukan penggalian secara manual menggunakan pacul, pengki, dan garpu selama dua hari.

Fakta baru terkait penimbunan bansos Presiden juga diungkap oleh pemilik lahan bernama Rudi Samin. Dia mengaku sempat mendapatkan informasi 
dari keterangan mantan pegawai JNE pernah ditolongnya setelah dituduh mencuri. Mantan pegawai berinisial S itu disebut pernah bercerita soal dugaan paket bansos dipendam di lahan tersebut. 

Setelah teringat soal itu, Rudi akhirya menggali lahan itu dengan menggunakan alat berat. Terungkap jika lahan itu pernah dipakai untuk menimbun paket bansos. 

“Saya ingat punya klien inisial S, bahwa yang bersangkutan pernah kerja di sini (JNE) dan dia ngaku pernah diperintahkan bawa sembako ke dalam mobil besar oleh koordinator JNE inial A. Saya penasaran, maka saya cari, sampai dua hari. Nah hari ketiga saya dapat dengan menggunakan beko,” kata Rudi saat ditemui di lokasi, Senin. 

Kemensos dan JNE Bakal Diperiksa

Setelah peristiwa penemuan "kuburan" bansos Jokowi viral di medsos, polisi akhirnya turun tangan untuk menyelidiki kasus tersebut. Sejumlah pihak mulai dari Kementerian Sosial (Kemensos) dan JNE bakal dijadwalkan untuk diperiksa oleh pihak kepolisian. Kasus ini ditangani oleh Satreskrim Polres Depok. 

"Penyidik Polres Depok melakukan pemanggilan pemeriksaan terhadap beberapa pihak yang hari ini sudah dilakukan di antaranya dari pihak Kemensos, JNE Pusat dan JNE Depok," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Endra Zulpan kepada wartawan, Senin.

Berdasar hasil pemeriksaan awal, kata Zulpan, pihak JNE menyebut bansos yang ditimbun tersebut merupakan beras rusak akibat terkena hujan dalam proses pengiriman. Mereka juga mengklaim telah menggantinya ke pemerintah.

"Dia menganggap beras itu milik JNE karena JNE telah mengganti ke pihak pemerintah," ungkap Zulpan.

Kendati begitu, Zulpan menyebut perwakilan dari JNE yang diperiksa belum bisa menunjukkan bukti dokumen terkait ganti rugi beras ke pemerintah.

Atas hal itu, penyidik rencananya akan melakukan pemeriksaan kembali ke salah satu pejabat JNE.

"Keterangan ini belum didukung dokumen. Jadi ini masih keterangan secara lisan," ujar Zulpan.

Load More