Suara.com - Film dokumenter yang melukiskan tentang pencemaran minyak di Laut Timor (A Crude Injustice) telah terpilih untuk pemutarannya di 20 negara di seluruh dunia.
"Saat ini pemutaran di Irvine Film Festival California, AS dari 25-26 Januari, kemudian akan diputar lagi di Cinema Verde Film Festival di Gainsville Florida dari 8 - 11 Februari," kata Ketua Tim Advokasi Rakyat Korban Montara Ferdi Tanoni di Kupang, Sabtu.
Ia menambahkan film dokumenter yang melukiskan tentang ledakan anjungan minyak Montara di Blok Atlas Barat Laut Timor pada 21 Agustus 2009 itu akan diputar juga di Colorado Environmental Film Festival 22-24 Februari.
Film dokumenter tersebut, juga akan diputar di Festival Film Peace on Earth di Chicago dari 9-11 Maret serta di SOMA Film Festival di New Jersey dari 16-18 Maret 2018.
"Film dokumenter ini mengisahkan tentang tragedi tumpahan minyak yang maha dahsyat di Laut Timor pada saat itu, yang kemudian ditutup-tutupi oleh Pemerintah Federal Australia kepada dunia internasional," kata Tanoni.
Padahal, kata dia, aliran minyak mentah dari anjungan Montara itu telah menimpa rakyat di wilayah pesisir kepulauan Nusa Tenggara Timur yang menyebar di 13 kabupaten dan kota.
"Lebih dari 100.000 mata pencaharian masyarakat pesisir seperti rumput laut telah habis dimangsa akibat wilayah perairan budidaya telah terkontaminsasi dengan minyak mentah," katanya.
Situasi yang sama, juga dialami oleh para nelayan tradisional Nusa Tenggara Timur yang tingkat pendapatannya terus menurun dari waktu ke waktu akibat wilayah perairan setempat terkontaminasi dengan minyak mentah, serta zat beracun seperti timah hitam.
Wilayah perairan yang menjadi area tangkapan nelayan, katanya, disiram pula dengan bubuk kimia yang sangat beracun "dispersant" oleh pemerintah Australia untuk menemgelamkan tumpahan minyak Montara ke dalam dasar Laut Timor.
"Ini sebuah kisah buruk yang sama sekali tidak menghormati hak-hak asasi manusia, khususnya para nelayan yang telah menjadikan Laut Timor sebagai ladang kehidupannya serta para petani rumput laut yang telah menganggap komoditas tersebut sebagai emas hijau," ujarnya.
Ia mengatakan di tengah kesulitan para petani rumput laut dan nelayan tradisional NTT tersebut, muncul lagi penyakit aneh di tengah masyarakat hingga membawa kematian.
"Bencana pencemaran minyak di Laut Timor yang maha dahsyat itu, ikut pula menghancurkan sekitar 60.000 hektare terumbu karang di kawasan Laut Timor dan Taman Nasional Perairan Laut Sawu," katanya.
Tanoni yang juga mantan agen Imigrasi Australia itu menegaskan bahwa kehidupan ekonomi dan kesehatan masyarakat di wilayah pesisir Nusa Tenggara Timur tampak sangat memprihatinkan.
"Mereka mengalami sebuah titik balik yang sangat memilukan, sehingga dengan pemutaran film 'A Crude Injustice' itu diharapkan dapat membuka mata hati para politisi dan pemerintah di Indonesia dan Australia untuk segera menyelesaikan masalah tersebut," katanya.
Produser film "A Crude Injustice" Jane Hammond, menurut Tanoni, masih berusaha mendapatkan versi bahasa Indonesia kemudian melakukan studi tur ke Timor Barat setelah film "A Crude Injustice" dalam bahasa Indonesia selesai dibuat.
Rencananya, dia akan membawa sekitar enam dermawan dan wartawan dari Australia untuk pemutaran film di desa-desa di Timor Barat dan pulau terselatan Indonesia, Rote Ndao.
Studi tur tersebut diharapkan dapat melibatkan mereka dalam masalah ini, agar mereka dapat membangun hubungan dengan masyarakat serta membantu mendorong untuk melakukan kampanye keadilan ini secara bersama-sama.
Atas dasar itu, Tanoni mendesak Pemerintah Indonesia untuk memprioritaskan penyelesaian kasus tumpahan minyak Montara ini, agar rakyat tidak terus menderita berkepanjangan, setelah tragedi Montara itu meledak di Laut Timor sekitar 8,5 tahun yang lampau.
Tanoni yang juga pemegang mandate hak ulayat masyarakat adat di Laut Timor ini juga mendesak Pemerintah Indonesia untuk segera meninjau ulang dan atau membatalkan seluruh kerja sama bilateral dengan Pemerintah Australia, jika masalah ini tidak diselesaikan secara adil oleh pihak Australia. [Antara]
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Kulit Wajah di Indomaret dan Harganya
- 7 Sabun Cuci Muka dengan Kolagen untuk Kencangkan Wajah, Bikin Kulit Kenyal dan Glowing
- Oki Setiana Dewi Jadi Kunci Kasus Pelecehan Syekh Ahmad Al Misry Terbongkar Lagi, Ini Perannya
- 6 HP Realme Kamera Bagus dan RAM Besar, Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan
- Cushion Apa yang Tahan 12 Jam Tanpa Luntur? Ini 4 Pilihan Terbaiknya
Pilihan
-
BREAKING NEWS! Iran Resmi Buka Blokade Selat Hormuz Sepenuhnya
-
Kisah di Balik Korban Helikopter Sekadau, Perjalanan Terakhir yang Tak Pernah Sampai
-
DPR Minta Ombudsman RI Segera Konsolidasi Internal Usai Ketua Jadi Tersangka Korupsi Nikel
-
Siti Nurhaliza Alami Kecelakaan Beruntun di Jalan Tol
-
Timnas Indonesia U-17 Diganyang Malaysia, Kurniawan Ungkap Borok Kekalahan
Terkini
-
Viral Murid Acungkan Jari Tengah ke Guru, Dedi Mulyadi Usul Pelaku Dihukum
-
Uya Kuya Klarifikasi Disebut Punya 750 Dapur MBG
-
Inara Rusli dan Insanul Fahmi Menikah Siri Tanpa Saksi, Bagaimana Hukumnya dalam Islam?
-
Ditanya Terus soal Kopi Sianida, Jessica Wongso Kena Mental dan Tutup Akun
-
Jauh dari Riau ke Copenhagen: Kisah Rully Irawan Menemukan Makna 'Rumah' Lewat Musik
-
Bocil Ini Viral Bikin Klinik Kecantikan Khusus Gen Alpha, Sekali Perawatan cukup Bayar Rp2000
-
Raffi Ahmad Berduka atas Meninggalnya Nayato Fio Nuala: Berjasa dalam Perjalanan Hidup
-
Raisa Ternyata Alami Baby Blues, Ingin Jatuh dari Tangga demi Bisa Tidur di RS
-
Sebut Sudah Nikah Siri, Inara Rusli Mengaku Lupa Siapa Penghulu dan Saksi Pernikahannya
-
Viral! Cowok 18 Tahun Masuk IGD Ngaku Menstruasi, Dokter Ungkap Fakta Pilu di Baliknya