Suara.com - Setelah sorotan dan semangat eksplorasi di hari pertama, Jakarta Music Con 2025 kembali menggema di Dome, Senayan Park, Jakarta, dengan suasana yang lebih intim dan reflektif. Hari kedua bukan sekadar lanjutan dari pesta musik, melainkan perayaan atas ide, perspektif, dan percakapan yang mempertemukan banyak kepala dan hati di balik industri musik Indonesia.
Ratusan peserta kembali memenuhi ruang-ruang diskusi yang disusun dalam dua rangkaian utama: Bicara Musik dan Bisik Musik. Di sinilah musik dibedah bukan hanya dari sisi bunyi, tetapi dari cara ia berinteraksi dengan budaya, teknologi, dan komunitas.
Dari Tren ke Transformasi: Wawasan Baru dari YouTube Music Academy
Rangkaian talk session Bicara Musik kembali menjadi magnet utama bagi para pelaku industri. Kolaborasi bersama YouTube Music Academy membuka diskusi tentang arah dan peluang musik di tengah perubahan perilaku audiens digital.
Sesi The Music Trend Playbook: Creating, Responding, and Amplifying menghadirkan Dimasz Joey (Mad Haus Group), Faris Adam (penyanyi Indonesia Timur), dan Tiara Dianita (The Maple Media) yang membedah bagaimana tren lahir dari budaya dan konteks sosial, bukan sekadar algoritma.
Dilanjutkan dengan Scaling Up: Building the Next Music Icons, Adryanto Pratono (JUNI Records), White Chorus, dan Ririe Cholid (Believe Indonesia) berbagi pandangan soal bagaimana membangun karier jangka panjang di tengah arus cepat dunia digital. Moderator Akbarry Noor menutup sesi dengan refleksi tajam: “Musisi besar bukan hanya mereka yang viral, tapi mereka yang bertahan.”
Komunitas dan Hak Cipta: Dua Pilar Ketahanan Musisi
Sore hari, panggung diskusi dipenuhi energi dari para penggemar dan penggiat komunitas dalam sesi Fan Power: Growing Your Music Community. Kanya Belfa Maharani (Sun Eater/Lomba Sihir) dan Sahila (Admin Zivellas OFC) berbagi bagaimana hubungan emosional antara musisi dan penggemar membentuk budaya kolaboratif yang autentik.
Tak lama setelahnya, Copyright Mythbusting: Ask Me Anything bersama Muara Sipahutar (YouTube Indonesia & Malaysia) menjadi sesi paling interaktif hari itu. Dengan pendekatan terbuka, Muara memecahkan mitos seputar hak cipta dan royalti digital, membuka ruang bagi musisi untuk memahami bahwa perlindungan karya bukan hal rumit, melainkan pondasi profesionalisme.
Dari Studio ke Algoritma: Menggabungkan Seni dan Sains Musik
Baca Juga: BIGHIT MUSIC Bantah Keterlibatan BTS dalam Proyek Tribute Michael Jackson
Memasuki Bisik Musik, kolaborasi dengan berbagai institusi kreatif menghadirkan perspektif baru tentang produksi dan strategi musik. Melalui sesi 360 Musician’s Playground: Brand. Release. Rights. All in One Circle oleh Sosialoka Indonesia, Rara Pratiwi, Bobby Pistar Sinaga, Eko Trafsilo, dan Rizkabum menyoroti pentingnya keseimbangan antara ekspresi artistik, branding, dan perlindungan hak kekayaan intelektual.
Di sisi lain, SAE Indonesia membuka wawasan teknis melalui Algorithm-Powered Music Production with Ableton Live bersama Lawrence Philip, yang menunjukkan bagaimana teknologi dan kecerdasan buatan kini menjadi mitra baru bagi para produser musik untuk berinovasi tanpa kehilangan sentuhan manusiawi.
Menutup dengan Nada Segar dan Suara Asli Industri
Menjelang malam, suasana di area Dome Senayan Park beralih ke ruang BIANG CIPTA Mini Talks, yang menghadirkan sesi Yang Seger-Seger Ajah: Special Live Session, yang dipandu oleh Arie Dagienkz dan Fadli Rizki. Para musisi bercerita tentang proses kreatif di balik lagu-lagu mereka, sambil sesekali berbagi tawa dan refleksi ringan. Momen ini menjadi jembatan yang mempertemukan musisi, penonton, dan kisah personal yang membentuk karya mereka.
Dari ruang diskusi, energi berlanjut ke Panggung Musik Jakarta Music Con x TuneCore Indonesia. Program submission yang melibatkan musisi independen ini kembali menghadirkan warna baru di malam pertama. Kali ini, MADMAX — grup dream/noise-pop beranggotakan perempuan — tampil dengan aransemen segar yang memperkaya skena alternatif lokal. Setelahnya, giliran Normatif, duo indie alternative rock, yang berhasil membuat penonton berlompat dan bersorak lewat performa energik mereka.
Tak berhenti di situ, kolaborasi antara Jakarta Music Con dan Baybeats Festival asal Singapura turut memberi warna lintas negara di panggung malam ini. Penampilan sub:shaman menjadi salah satu momen paling menarik, dengan perpaduan prog-rock, math-rock, dan jazz yang mereka kemas menjadi pengalaman musikal yang kompleks namun tetap mengalir.
Sebagai penutup, Swellow naik ke panggung membawakan set khas mereka yang kental dengan nuansa 90s indie rock. Lagu-lagu dengan melodi sederhana namun kuat membuat seluruh penonton ikut bernyanyi bersama. Tanpa kembang api atau efek besar, malam pertama Jakarta Music Con 2025 berakhir dengan cara yang paling jujur: musik yang hidup dari panggung dan disambut dengan hangat oleh mereka yang datang untuk mendengarkan.
Musik Sebagai Ruang Bertumbuh
Hari kedua Jakarta Music Con 2025 menegaskan satu hal penting, bahwa musik tidak hanya hidup di panggung, tetapi juga di ruang-ruang kecil tempat ide bertemu, diskusi terjadi, dan kolaborasi lahir.
Dalam dua hari penuh inspirasi, Jakarta Music Con bukan hanya merayakan industri musik, tetapi juga memperkuat ekosistemnya: dari pencipta hingga pendengar, dari teknologi hingga kreativitas. Musik terus berkembang, bukan karena tren, tapi karena percakapan yang tak pernah berhenti.***
Berita Terkait
-
Di Balik Nada & Cerita Jakarta Music Con 2025 Rayakan Kolaborasi dalam Industri Musik
-
Nokia 130 Music dan Nokia 150 Music, Berdesain Vintage dan Ramah di Kantong
-
Kalahkan aespa, Haechan NCT Raih Trofi Pertama Lagu 'CRZY' di Music Bank
-
Ros BLACKPINK Catat Sejarah, Menang Song of the Year di MTV VMA 2025
-
JMX 2025: Surga Musik dan Teknologi Gratis di Jakarta yang Wajib Kamu Datangi!
Terpopuler
- LHKPN Tembus Rp7,2 Miliar, Kendaraan Plt Jampidsus Rudi Margono Cuma Motor Honda Seharga Rp5 Juta
- HP Murah Tapi Bagus HP Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Mulai Rp1 Jutaan
- 5 Sepatu Kanky Warna Putih Mulai Rp160 Ribuan, Nyaman dan Stylish
- 5 HP Murah dengan NFC Harga Rp1 Jutaan untuk Multitasking dan Transaksi Cashless Lancar
- Tan Kian Orang Terkaya ke Berapa di Indonesia?
Pilihan
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
-
Kejagung Akhirnya Buka Suara Soal Temuan 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah: Kami Tak Tahu
-
Ada Ancaman Teror Bom, Seluruh Siswa dan Guru SDN 15 Srengseh Sawah Dipulangkan
-
Hari Pertama Sekolah Mencekam! SDN Srengseng Sawah 15 Diteror Bom, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
-
Iran Luncurkan Serangan Balasan ke Amerika, Serbuan Drone Meluncur
Terkini
-
Film Filosofi Teras Siap Mengajarkan Stoikisme Melalui Drama Keluarga yang Menguras Air Mata
-
Note of Mothership: Pesan Kemanusiaan Karya Anyar Legenda Musik Jepang Haruomi Hosono
-
Terlalu Berat! Para Pemain Film Sofia sampai Minta Terapis usai Baca Naskah
-
Bukan Akting! Ananta Rispo Akui Ditampar Sungguhan oleh Dodit Mulyanto demi Film Ketok Mejik
-
Berapa Harta Kekayaan Gus Miftah? Ini 6 Sumber Kekayaannya
-
Gandeng Musisi Lintas Negara, Bella Fawzi Rilis Lagu 'Our Power' demi Palestina
-
Nadine Kei Inara Buktikan Logika Data Science dan Jiwa Seni Bisa Berjalan Beriringan
-
Soundrenaline Sana Sini 2026 Siap Guncang Blok M, Ada Last Dinosaurs hingga Sal Priadi
-
Di Balik Tawa Temon Templar: Sosok Ayah Bertanggung Jawab dan Jenius Lulusan UI
-
Bukan Sekadar Akting, Titi Kamal Ternyata Punya Hobi Berburu Hantu di Lokasi Angker