“Kita tuh di masyarakat kayak semacam punya ekspektasi yang super tinggi terhadap ibu. Ibu tuh harus sempurna gitu, ibu tuh enggak boleh marah, enggak boleh sedih, enggak boleh kesel,” ungkap Marissa.
Lebih lanjut, bintang film Perempuan Tanah Jahanam ini menganggap ada fenomena toxic yang berkembang di masyarakat, yakni menuntut seorang ibu menjadi sosok yang sempurna.
“Ibu tuh kayak semacam bukan manusia gitu, cuma satu sisi aja gitu. Itu enggak benar, karena mendengar cerita-cerita kalian, ya memang itulah menjadi ibu,” bebernya.
Padahal menurutnya, seorang ibu tidak ada yang sempurna, dan hal tersebut sepenuhnya wajar. Menurutnya, tidak masalah jika seorang ibu menunjukkan hal-hal yang dianggap 'tidak keibuan'.
Jika perasaan terus ditekan demi memenuhi standar yang tidak realistis, banyak ibu justru bisa 'gila' karena memendam semuanya sendiri.
“Menjadi seorang ibu itu 'messy'. Dan itu okay. It's okay to have all this un-motherly supposedly dalam tanda kutip gitu ya. Karena kalau enggak bakal banyak banget ibu yang 'gila'. Karena dia menekan perasaannya sendiri,” ungkapnya.
Sikap Marissa Anita Sejalan dengan karakter Gen Z
Keputusan Marissa Anita menunda kehamilan karena ketakutan terhadap tuntutan "ibu sempurna" dan perlunya kemapanan finansial terlebih dahulu mencerminkan pergeseran nilai yang signifikan, terutama yang sangat beresonansi dengan Generasi Z.
Meskipun Marissa bukan Gen Z, alasannya menunjukkan tekanan budaya yang dirasakan oleh banyak perempuan modern, yaitu citra Intensive Mothering yang disebarluaskan oleh media sosial menciptakan standar keibuan yang mustahil.
Baca Juga: Biodata dan Pendidikan Marissa Anita yang Gugat Cerai Andrew Trigg
Ibu modern dituntut tidak hanya berhasil di rumah, tetapi juga harus berkarir cemerlang, menjaga penampilan, dan memastikan stimulasi terbaik untuk anak. Penundaan menjadi langkah defensif untuk melindungi kesehatan mental dari kecemasan berlebihan, sebuah fokus utama yang sangat dijunjung tinggi oleh Gen Z.
Alasan kedua, yaitu kebutuhan untuk mapan, menunjukkan realisme finansial yang kuat, karakteristik kunci dari Gen Z. Generasi ini tumbuh di tengah kenaikan biaya hidup yang tajam, inflasi biaya pendidikan, dan sulitnya kepemilikan aset.
Bagi Gen Z, memiliki anak tidak lagi dilihat sebagai milestone yang otomatis mengikuti pernikahan, melainkan sebagai sebuah nvestasi besar yang membutuhkan perhitungan matang.
Mereka memandang bahwa stabilitas ekonomi bukan hanya 'cukup', tetapi 'mapan' adalah prasyarat etis untuk menjamin kualitas hidup terbaik bagi anak. Dengan demikian, mereka bersedia menunda peran orang tua demi mengutamakan karier dan stabilitas finansial jangka panjang.
Kontributor : Anistya Yustika
Berita Terkait
-
Gen Z Tidak Kurang Dukungan Hanya Kecanduan Pengakuan, Benarkah?
-
Cerita Cinta Gen Z di Era Digital: Dimulai dari DM, Tanpa Status, Berujung Ghosting
-
Gen Z dan Post-Holiday Blues: Kenapa Balik Kerja Terasa Berat?
-
Post-Lebaran Syndrome pada Gen Z: Raga Udah di Kantor, Nyawa Masih di Kampung
-
Membaca Filsafat ala Gen Z di Buku Filosofi Teras Karya Om Piring
Terpopuler
- 6 HP 5G Terbaru Paling Murah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Jempolan
- Aksi Ngamen di Jalan Viral, Pinkan Mambo Ngaku Bertarif Fantastis Setara BLACKPINK
- Proyek 3 Triliun Dimulai: Makassar Bakal Kebanjiran 200 Ton Sampah dari Maros dan Gowa Setiap Hari
- Berapa Gaji Pratama Arhan? Kini Dikabarkan Bakal Balik ke Liga 1
- Banyak Banget, Intip Hampers Tedak Siten Anak Erika Carlina
Pilihan
-
Hizbullah Klaim Hancurkan Kapal Militer Israel Sebelum Serang Lebanon
-
Jusuf Kalla Mau Laporkan Rismon Sianipar ke Polisi! Ini Masalahnya
-
Di Balik Lahan Hindoli, Seperti Apa Perkebunan yang Jadi Lokasi 11 Sumur Minyak Ilegal?
-
Traumatik Mendalam Jemaat POUK Tesalonika Tangerang: Kebebasan Beribadah Belum Terjamin?
-
'Ayah, Ayah!' Tangis Histeris Keluarga Pecah saat Jenazah 3 Prajurit TNI Gugur Tiba di Tanah Air
Terkini
-
Ngamen di Pinggir Jalan Sepatan, Pinkan Mambo Raup Saweran Rp26 Juta dalam 3 Jam
-
Sinopsis Film Jadi Tuh Barang, Kisah Kocak Oki Rengga dari Patah Hati hingga Jadi Pawang Hujan
-
Reaksi Arya Khan Disindir Michelle Ashley Bikin Pinkan Mambo Downgrade Sampai Ngamen di Jalanan
-
Dokter Piprim Kecam Billboard Promosi Film Aku Harus Mati, Dinilai Berbahaya Bagi Mental Anak
-
Niko Al Hakim Ungkit Penelantaran Kucing di 2024, Pihak yang Rescue Bela Rachel Vennya
-
Pesona Nikita Willy Berhijab Saat Liburan di Jepang Curi Perhatian
-
Karina Ranau Protes, Foto Almarhum Epy Kusnandar Dipakai Jual Jaket Kang Mus
-
Tidak Direstui Fans! Siapa Elias Ronnenfelt? Pria yang Dirumorkan Dekat dengan Jenna Ortega
-
Film Autopsy: Dead Body Can Talk, Jejak Kebenaran di Meja Autopsi
-
Sudah Operasi Ganti Kelamin, Lucinta Luna Pastikan Tak Bisa Punya Anak Meski Kembali Jadi Cowok