Entertainment / Gosip
Selasa, 18 November 2025 | 16:36 WIB
Marissa Anita (Netflix)

“Kita tuh di masyarakat kayak semacam punya ekspektasi yang super tinggi terhadap ibu. Ibu tuh harus sempurna gitu, ibu tuh enggak boleh marah, enggak boleh sedih, enggak boleh kesel,” ungkap Marissa.

Lebih lanjut, bintang film Perempuan Tanah Jahanam ini menganggap ada fenomena toxic yang berkembang di masyarakat, yakni menuntut seorang ibu menjadi sosok yang sempurna.

“Ibu tuh kayak semacam bukan manusia gitu, cuma satu sisi aja gitu. Itu enggak benar, karena mendengar cerita-cerita kalian, ya memang itulah menjadi ibu,” bebernya.

Padahal menurutnya, seorang ibu tidak ada yang sempurna, dan hal tersebut sepenuhnya wajar. Menurutnya, tidak masalah jika seorang ibu menunjukkan hal-hal yang dianggap 'tidak keibuan'.

Jika perasaan terus ditekan demi memenuhi standar yang tidak realistis, banyak ibu justru bisa 'gila' karena memendam semuanya sendiri.

“Menjadi seorang ibu itu 'messy'. Dan itu okay. It's okay to have all this un-motherly supposedly dalam tanda kutip gitu ya. Karena kalau enggak bakal banyak banget ibu yang 'gila'. Karena dia menekan perasaannya sendiri,” ungkapnya.

Sikap Marissa Anita Sejalan dengan karakter Gen Z

Keputusan Marissa Anita menunda kehamilan karena ketakutan terhadap tuntutan "ibu sempurna" dan perlunya kemapanan finansial terlebih dahulu mencerminkan pergeseran nilai yang signifikan, terutama yang sangat beresonansi dengan Generasi Z.

Meskipun Marissa bukan Gen Z, alasannya menunjukkan tekanan budaya yang dirasakan oleh banyak perempuan modern, yaitu citra Intensive Mothering yang disebarluaskan oleh media sosial menciptakan standar keibuan yang mustahil.

Baca Juga: Biodata dan Pendidikan Marissa Anita yang Gugat Cerai Andrew Trigg

Ibu modern dituntut tidak hanya berhasil di rumah, tetapi juga harus berkarir cemerlang, menjaga penampilan, dan memastikan stimulasi terbaik untuk anak. Penundaan menjadi langkah defensif untuk melindungi kesehatan mental dari kecemasan berlebihan, sebuah fokus utama yang sangat dijunjung tinggi oleh Gen Z.

Alasan kedua, yaitu kebutuhan untuk mapan, menunjukkan realisme finansial yang kuat, karakteristik kunci dari Gen Z. Generasi ini tumbuh di tengah kenaikan biaya hidup yang tajam, inflasi biaya pendidikan, dan sulitnya kepemilikan aset.

Bagi Gen Z, memiliki anak tidak lagi dilihat sebagai milestone yang otomatis mengikuti pernikahan, melainkan sebagai sebuah nvestasi besar yang membutuhkan perhitungan matang.

Mereka memandang bahwa stabilitas ekonomi bukan hanya 'cukup', tetapi 'mapan' adalah prasyarat etis untuk menjamin kualitas hidup terbaik bagi anak. Dengan demikian, mereka bersedia menunda peran orang tua demi mengutamakan karier dan stabilitas finansial jangka panjang.

Kontributor : Anistya Yustika

Load More