- Frasa "In this economy" jadi simbol frustrasi Gen Z hadapi tingginya biaya hidup 2025.
- Gen Z pilih Doom Spending akibat sulitnya akses hunian dan ketimpangan upah riil.
- Fenomena ini dorong pergeseran gaya hidup ke arah ultra-hemat demi bertahan finansial.
Suara.com - Menutup tahun 2025, frasa “In this economy?” bukan lagi sekadar banyolan di media sosial, melainkan sebuah fenomena sosiologi-ekonomi yang menggambarkan rasa frustrasi mendalam Generasi Z Indonesia.
Kalimat ini kerap muncul setiap kali anak muda dihadapkan pada harga kebutuhan dasar yang dianggap tidak masuk akal jika dibandingkan dengan pertumbuhan upah.
Di tengah optimisme makroekonomi yang sering dipaparkan pemerintah, Gen Z justru merasakan tekanan berbeda karena fenomena di mana gaya hidup minimalis bukan lagi pilihan, melainkan paksaan keadaan.
Sepanjang 2025, fenomena “In this economy” meledak seiring dengan beberapa tekanan ekonomi domestik, antara lain:
Lonjakan Biaya Sewa dan Hunian: Tingginya harga properti membuat kepemilikan rumah bagi anak muda di kota besar seperti Jakarta terasa mustahil. Akibatnya, sebagian besar pendapatan Gen Z terserap untuk biaya kos atau kontrak yang naik pasca-inflasi properti.
Inflasi Gaya Hidup Digital: Kenaikan harga paket data, biaya langganan aplikasi, hingga pajak digital membuat biaya "eksistensi" di dunia maya semakin mahal.
Ketimpangan Upah dan Biaya Makan: Meskipun inflasi umum terkendali, harga bahan pangan olahan dan lifestyle dining mengalami lonjakan signifikan. Frasa "Makan siang Rp50 ribu in this economy?" menjadi keluhan umum di kalangan pekerja entry-level.
Kondisi ini memicu pergeseran perilaku ekonomi yang drastis. Banyak anak muda yang mulai meninggalkan impian membeli aset besar dan beralih ke konsumsi mikro yang memberikan kepuasan instan, atau yang sering disebut Doom Spending berbelanja untuk meredakan kecemasan masa depan.
Namun, di sisi lain, muncul gerakan Quiet Saving, di mana Gen Z mulai sangat selektif dan cenderung "menghilang" dari pergaulan sosial demi menjaga kesehatan finansial. Mereka lebih memilih kopi di rumah ketimbang nongkrong di kafe aesthetic yang harganya kini setara dengan upah kerja setengah hari.
Baca Juga: Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
Pemerintah dan pengamat ekonomi menyoroti bahwa fenomena ini harus direspons dengan kebijakan upah yang lebih kompetitif dan penyediaan hunian terjangkau di pusat kota. Jika tidak, kesenjangan antara realitas ekonomi di atas kertas dan apa yang dirasakan anak muda di lapangan akan semakin lebar.
Gen Z di tahun 2025 tidak lagi takut untuk tidak punya uang, mereka lebih takut terjebak dalam siklus finansial yang membuat mereka tidak pernah bisa "naik kelas" secara ekonomi. Pada akhirnya, "In this economy" adalah sinyal darurat bahwa ekonomi masa kini perlu lebih inklusif bagi generasi penerusnya.
Meski dalam kondisi penuh kesulitan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa masa depan generasi Z akan aman.
"Ada gen Z nggak (di sini)? Masa depan Anda aman. Kita jaga domestik demand supaya ekonomi (bagus)," kata Purbaya dalam Dialog Interaktif Pemerintah Pusat dan Daerah di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (11/12/2025).
Purbaya memandang pertumbuhan ekonomi tinggi akan mulai terasa di 2026 pada level 6%. Berbagai kebijakan untuk mendorong pertumbuhan terus diarahkan agar target dapat tercapai.
"Tahun 2026 akan beda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya setelah krisis. Kita expect ekonomi kita akan tumbuh 6%," imbuh Purbaya.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
- Foto Pangakalan Militer AS di Arab Saudi Hancur Beredar, Balas Dendam Usai Trump Hina MBS
Pilihan
-
Mulai Besok! BPH Migas Resmi Batasi Pembelian Pertalite dan Solar, Cek Aturan Mainnya
-
Masyarakat Diminta Tak Resah, Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Harga BBM Belum Ada Kenaikan
-
Clara Shinta Minta Tolong, Nyawanya Terancam karena Suami Bawa Senjata Api
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
Terkini
-
BPR Pembangunan Nagari Bangkrut, LPS Mulai Bayarkan Klaim Simpanan Nasabah
-
IHSG Berpeluang Rebound Hari Ini Usai Trump Sebut AS 'Tinggalkan' Perang Iran
-
Daftar Lengkap Harga BBM Pertamina Per 1 April 2026 di Seluruh Indonesia
-
Harga Naik Tidak Wajar, BEI Gembok Satu Emiten Asal Surabaya
-
Harga Emas Antam, Galeri 24 dan UBS Hari Ini Naik! Update Segera di Pegadaian
-
Pefindo Catatkan Rating AAA Untuk Stabilitas Finansial Peruri
-
Perbandingan Harga BBM Indonesia dengan Negara Lain di Asia Tenggara
-
AS Mau Keluar dari Iran, Wall Street Langsung Meroket
-
Tak Hanya Kejar Cuan, Emiten TAPG Kerek Kualitas Hidup Masyarakat Sekitar Operasional
-
BEI Resmi Ubah Aturan Free Float, Emiten Wajib Tingkatkan Porsi Saham Publik Bertahap