- Pandji Pragiwaksono melawak soal fisik pemimpin di Netflix; Gibran disebut "ngantuk" dalam materi stand-up.
- Dokter Tompi merespons kritik soal lelucon fisik, menjelaskan bahwa "ngantuk" mengacu pada kondisi medis ptosis.
- Tompi mengajak publik fokus kritik pada gagasan atau kebijakan, bukan fisik pemimpin yang tidak dapat mereka pilih.
Suara.com - Panggung stand-up comedy sering menjadi ruang refleksi sosial yang dibungkus humor. Itulah yang dilakukan Pandji Pragiwaksono dalam pertunjukan Mens Rea yang tayang di Netflix pada 27 Desember 2025.
Dalam materi tersebut, Pandji mengangkat fenomena publik yang kerap menilai pemimpin dari tampilan fisik. Ia menyebut beberapa tokoh nasional dengan label yang akrab di telinga publik.
“Ganjar ganteng, Anies manis, Prabowo gemoy,” ucapnya, sebelum kemudian menyinggung Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan istilah “ngantuk”.
“Atau wakil presidennya, Gibran ngantuk ya. Salah nada, maaf. Gibran, ngantuk ya?,” kata Pandji yang diiringi riuh tawa dari penonton.
Potongan itulah yang kemudian memicu respons dari dr. Tompi. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, dokter spesialis bedah plastik tersebut tidak mempersoalkan kritik politik atau humor yang disampaikan Pandji, melainkan fokus pada bagian yang menyentuh kondisi fisik seseorang.
Dalam unggahannya, dr. Tompi menjelaskan bahwa ekspresi mata yang terlihat “mengantuk” bukanlah hal sederhana. Secara medis, kondisi itu dikenal sebagai ptosis, yakni turunnya kelopak mata yang bisa disebabkan oleh faktor bawaan sejak lahir, gangguan fungsi otot, atau kondisi medis tertentu.
“Apa yang terlihat ‘mengantuk’ pada mata, dalam dunia medis dikenal sebagai PTOSIS, suatu kondisi anatomis yang bisa bersifat bawaan, fungsional, atau medis, dan sama sekali bukan bahan lelucon,” tulis dr. Tompi.
Ia menekankan bahwa banyak orang hidup dengan kondisi tersebut tanpa pernah memilihnya, sehingga menjadikannya sebagai bahan humor dinilai kurang tepat.
Meski demikian, Tompi tetap mengakui bahwa satire dan humor merupakan bagian sah dari ruang publik.
Baca Juga: Materi Mens Rea Pandji & Realitas Kelas Menengah: Terbahak Sambil Tercekik
“Kritik boleh, satire boleh, humor pun sah, namun merendahkan kondisi tubuh seseorang bukanlah kecerdasan, melainkan kemalasan berpikir,” ungkapnya.
Lebih jauh, dr. Tompi mengajak masyarakat untuk membedakan antara mengkritik ide dan mengomentari fisik. Menurutnya, kualitas diskusi publik akan lebih sehat jika fokus pada gagasan, kebijakan, dan tindakan para pemimpin, bukan pada aspek tubuh yang berada di luar kendali individu.
“Mari naikkan standar diskusi publik kita: kritisi gagasan, kebijakan, dan tindakan, bukan fisik yang tidak pernah dipilih oleh pemiliknya. Karena martabat manusia seharusnya tidak menjadi punchline,” ucap dia.
Menariknya, dr. Tompi juga menyampaikan bahwa ia tetap menikmati pertunjukan Pandji secara keseluruhan. Ia bahkan menyebut banyak materi dalam Mens Rea yang menurutnya relevan dan tepat sasaran.
“Btw saya nonton shownya di Netflix, keren kok materinya. Banyak benarnya,” tulisnya.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi ptosis memang bisa dikoreksi melalui tindakan medis seperti operasi, tetapi keputusan itu sepenuhnya berada di tangan masing-masing pasien.
Unggahan tersebut memperlihatkan bahwa respons dr. Tompi bukan ditujukan untuk membatasi ruang berekspresi atau humor, melainkan untuk mengingatkan bahwa di balik setiap candaan tentang fisik, ada dimensi kemanusiaan dan medis yang sering luput dari perhatian publik.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- 3 Klub Pemain Timnas Indonesia Berhasil Raih Tiket Promosi Musim Ini
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- HP Vivo yang Bagus Seri Apa? Ini Rekomendasi Seri X, V, dan Y Sesuai Kebutuhan
- 4 Rekomendasi Sampo Urang-Aring untuk Menghitamkan dan Menyuburkan Rambut
Pilihan
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
-
Nathalie Holshcer Sebut Pengawal Pribadinya Ditembak Polisi, Minta Tanggung Jawab Polri
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
Terkini
-
10 Minutes Gone: Misi Bruce Willis dan Michael Chiklis yang Berakhir Berdarah, Malam Ini di Trans TV
-
The Ice Road: Liam Neeson Pertaruhan Nyawa di Atas Es, Malam Ini di Trans TV
-
Rekomendasi Film Komedi Netflix, Aksi Kocak Kevin Hart di The Man from Toronto
-
Yasinta Moiwen Protes Tak Tahu Masuk Film Pesta Babi, Dandhy Laksono Angkat Bicara
-
Baru Terungkap! Dilan Janiyar Curhat Didukunin Asisten Pribadi Lewat Ritual Kelapa Hijau
-
Bob Marley: One Love, Sebuah Getaran Jiwa yang Menembus Layar Lebar, Segera Pergi dari Netflix
-
Westlife Bakal Guncang GBK, Seluruh Tiket Konser Resmi Habis Terjual
-
Bikin Heboh! Rombongan Orang Berselawat dan Main Rebana di dalam MRT Jadi Omongan
-
Berangkat Ibadah Haji Tanpa Keluarga, Raffi Ahmad Ternyata Punya Tugas Kenegaraan
-
Ditilep Calon Istri, Pria Ini Kehilangan Uang Ratusan Juta Rupiah dan Emas Jelang Nikah