Entertainment / Film
Jum'at, 09 Januari 2026 | 20:00 WIB
Aurora Ribero [Suara.com/Tiara Rosana].
Baca 10 detik
  • Film Surat Ke 8 mengangkat isu kesenjangan generasi (generation gap) dan hambatan komunikasi antara orang tua dan anak dalam sebuah keluarga.
  • Sutradara Franklin Darmadi menggunakan surat sebagai simbol untuk menjembatani perasaan dan mengajarkan arti keikhlasan dalam hubungan domestik.
  • Proses syuting telah dimulai dengan melibatkan aktor Aurora Ribero, Arief Didu, dan Unique Priscilla untuk memberikan perspektif yang relevan bagi penonton.

Suara.com - Rumah produksi Wokcop Pictures resmi memulai proses pengambilan gambar untuk film drama keluarga terbaru bertajuk Surat ke-8 pada Rabu, 7 Januari 2026.

Film ini menggandeng deretan aktor lintas usia, yakni Aurora Ribero, Arief Didu, dan Unique Priscilla, untuk menghidupkan kisah tentang jarak emosional dan cinta tanpa syarat dalam keluarga.

Di tengah maraknya genre horor dan laga di industri perfilman Tanah Air, Surat ke-8 hadir menawarkan kedalaman cerita domestik yang relevan.

Film ini menyoroti isu generation gap atau kesenjangan antargenerasi yang kerap memicu konflik akibat minimnya komunikasi antara orang tua dan anak.

Sutradara Franklin Darmadi menempatkan surat sebagai simbol komunikasi intim untuk menjembatani hati yang terpisah. Menurutnya, film ini bukan sekadar bicara soal kehilangan.

"Surat-surat menjadi jembatan yang menghubungkan hati yang terpisah, mengajarkan kita bahwa merelakan bukanlah kekalahan, melainkan puncak dari sebuah keikhlasan dan pengorbanan," ujar Franklin di sela-sela syuting di Tangerang Selatan.

Aurora Ribero, yang berperan sebagai Cahaya, mengaku langsung jatuh hati pada kesederhanaan namun kedalaman naskah film ini. Menurutnya, isu yang diangkat sangat dekat dengan realitas masyarakat.

"Ceritanya sederhana, tapi dalam. Surat ke-8 terasa sangat dekat dengan kehidupan banyak orang karena ada peran anak, bapak, ibu, partner, jadi banyak yang bisa relate. Packaging-nya simpel, tapi banyak rasa yang akan didapat," ungkap Aurora.

Sementara itu, perspektif orang tua diwakili oleh karakter Fajar (Arief Didu) dan Mentari (Unique Priscilla).

Baca Juga: Beli Tiket Film Penerbangan Terakhir di M-Tix, Ada Promo Buy 1 Get 1 Free

Arief Didu menilai film ini merefleksikan niat baik orang tua yang sering kali gagal tersampaikan dengan tepat kepada anak.

"Semua yang dilakukan seorang ayah pada dasarnya adalah cerminan dari keinginannya agar anaknya baik-baik saja. Masalahnya, sering kali ada hal-hal yang tidak tersampaikan dengan baik, sehingga anak tidak sepenuhnya memahami isi pikiran orang tuanya," tutur komika sekaligus aktor tersebut.

Senada dengan Arief, Unique Priscilla melihat perannya sebagai potret nyata beban emosional seorang ibu dalam menjaga keutuhan rumah tangga.

"Dari film ini aku belajar bahwa menjadi seorang ibu itu tidak mudah. Ia sering menjadi perekat antara bapak, anak, dan anggota keluarga lainnya, menjaga agar komunikasi tetap berjalan dalam kondisi apa pun," imbuh Unique.

Melalui Surat ke-8, Wokcop Pictures mengajak penonton merenungkan kembali pentingnya empati dan penerimaan di dalam rumah, tempat di mana setiap anggota keluarga belajar untuk saling melepaskan dan menerima perbedaan.

Load More