Entertainment / Film
Kamis, 22 Januari 2026 | 10:05 WIB
Gala premiere film Tolong Saya! Dowajuseyo di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan pada Rabu, 21 Desember 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]
Baca 10 detik
  • Film horor-romansa "Tolong Saya! (Dowajuseyo)" produksi Heart Pictures tayang 29 Januari 2026, menggabungkan budaya Indonesia-Korea.
  • Aktor utama, Cinta Brian dan Saskia Chadwick, menghadapi tantangan berat melafalkan dialog bahasa Korea dan aksen Inggris.
  • Proses produksi di Korea Selatan terkendala cuaca dingin ekstrem, sementara Saskia menjalani latihan intensif untuk adegan kerasukan.

"Aku benar-benar kayak bisa 'Cut!' gitu, terus tanya 'Benar enggak bahasa Koreanya?' ke Kak Geba. Dia selalu ada untuk mengonfirmasi dan membetulkan," tutur Saskia.

Kim Geba Kembali Belajar dari Nol

Menariknya, Kim Geba yang dikenal fasih berbahasa Korea justru mengaku ini adalah pengalaman pertamanya berakting menggunakan bahasa leluhurnya dalam sebuah film

Pria yang berperan sebagai Dr. Park Min Jae ini bahkan harus mempelajari kembali dasar-dasar Hangeul agar tampil sempurna.

"Ini pertama kali aku syuting film pakai bahasa Korea. Waktunya enggak terlalu lama, jadi aku benar-benar belajar di rumah dari dasar Hangeul. Beban banget memang, tapi aku tahu hasilnya pasti bagus karena segigih itu aku mencoba belajar, walaupun itu bukan bahasa sehari-hari aku," beber Geba.

Totalitas Adegan Kesurupan

Selain tantangan bahasa, aspek horor dalam film ini juga digarap dengan serius. Tolong Saya! (Dowajuseyo) mengisahkan Tania yang diteror oleh arwah korban pelecehan seksual bernama Min Yong. 

Untuk adegan kesurupan, Saskia Chadwick harus menjalani pelatihan intensif selama dua minggu bersama pelatih akting.

Saskia mengaku dirinya bukan orang yang luwes, sehingga adegan tubuh yang bergerak aneh saat kerasukan menjadi tantangan fisik yang berat. 

Baca Juga: Nuits de la Lecture 2026 Resmi Digelar, Rayakan Literasi Lewat Tema Kota dan Desa

"Sama Om Dadang (acting coach) dilatih selama dua minggu. Biasanya kita reading dari jam delapan pagi sampai lima sore, lalu lanjut latihan scene kesurupan sampai jam delapan malam. Banyak trial and error-nya, apakah harus nangis sambil teriak atau ekspresi menyeramkan lainnya," kenang Saskia.

Kim Geba turut menambahkan perspektif mengenai horor di Korea Selatan. Menurutnya, konsep kesurupan atau arwah gentayangan tidak sepopuler di Indonesia.

"Di Korea ada cerita horor, tapi mungkin tidak sesering di Indonesia. Kalau di sini (Indonesia) orang lebih cenderung percaya hal mistis. Kalau di Korea atau Barat, reaksinya lebih skeptis. Tapi karena di Indonesia banyak yang mengaku pernah lihat, jadi temanya lebih sering dialami," jelas Geba.

Cuaca Ekstrem dan Dinamika Kakak-Adik

Proses syuting yang memakan waktu sekitar dua Minggu di Korea Selatan, khususnya di Busan dan Seoul, menyisakan cerita tak terlupakan mengenai cuaca. 

Para pemain yang mengira akan menghadapi musim panas yang terik justru dibuat menggigil.

Load More