Entertainment / Film
Jum'at, 03 April 2026 | 14:00 WIB
Menekraf Teuku Riefky Harsya memberi dukungan untuk film Pelangi di Mars. Dia menonton film garapan Upie Guava tersebut bersama pejabat jajaran Kabinet Merah Putih seperti Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman dan Utusan Khusus Presiden Ahmad Riza Patria di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]
Baca 10 detik
  • Menteri Kabinet Merah Putih menghadiri penayangan film Pelangi di Mars di Jakarta pada 2 April 2026 mendatang.
  • Film keluarga ini merupakan karya sci-fi pertama Indonesia yang menggunakan teknologi Extended Reality berbasis Unreal Engine nasional.
  • Produksi film selama lima tahun ini bertujuan memajukan industri kreatif lokal dan mengedukasi anak melalui teknologi.

Suara.com - Jajaran menteri dan wakil menteri dari Kabinet Merah Putih menghadiri acara Intimate Screening film fiksi ilmiah (sci-fi) keluarga, Pelangi di Mars, di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis (2/4/2026). 

Kehadiran para pejabat negara ini menjadi bentuk dukungan terhadap industri kreatif Nasional yang mulai merambah teknologi tinggi dalam proses produksinya.

Pelangi di Mars merupakan film sci-fi keluarga pertama di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan teknologi Extended Reality (XR) berbasis Unreal Engine. 

Film yang telah rilis secara nasional sejak 18 Maret 2026 ini memakan waktu produksi hingga 5,5 tahun dengan melibatkan studio DossGuavaXR. 

Ceritanya berlatar tahun 2100, mengisahkan petualangan anak manusia pertama yang lahir di Mars bernama Pelangi dan robot pendampingnya, Batik, dalam misi menyelamatkan Bumi.

Menekraf Teuku Riefky Harsya memberi dukungan untuk film Pelangi di Mars. Dia menonton film garapan Upie Guava tersebut bersama pejabat jajaran Kabinet Merah Putih seperti Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman dan Utusan Khusus Presiden Ahmad Riza Patria di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (2/4/2026). [Tiara Rosana/Suara.com]

Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf), Teuku Riefky Harsya memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian tim produksi dalam mengeksplorasi genre yang selama ini jarang disentuh sineas lokal. 

Menurutnya, ada tiga poin krusial yang membuat film ini layak didukung secara penuh oleh Pemerintah.

"Pertama, keberanian anak bangsa untuk mengambil genre science fiction yang terkait dengan isu lingkungan. Itu jarang sekali," kata Teuku Riefky Harsya saat ditemui usai pemutaran film.

"Kedua, keberanian berinovasi dalam memelopori pemanfaatan teknologi XR berbasis Unreal Engine. Ketiga, keterlibatan sekitar 300 animator dan 500 kru sejak lima tahun yang lalu," ujarya.

Baca Juga: Anak Indonesia Sampai Mars, 3 Alasan Kenapa Harus Bawa Anak-Anak Nonton Pelangi di Mars di Bioskop

Riefky menambahkan bahwa industri film nasional sedang berada di tren positif.

Berdasarkan data tahun 2025, tercatat 130 juta tiket bioskop terjual dengan 60 persen di antaranya merupakan penonton film nasional. 

Dia berharap film seperti Pelangi di Mars mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai tuan rumah di negeri sendiri sekaligus mampu bersaing di pasar global.

"Harapannya begitu, film-film Indonesia harus mendunia. Kementerian akan terus memberikan dukungan, termasuk fasilitasi akses pasar, pendanaan, dan pembiayaan terhadap hasil kreativitas berbasis kekayaan intelektual," imbuhnya.

Senada dengan menteri, sutradara Upie Guava mengungkapkan bahwa proyek ini bukan sekadar karya seni, melainkan hasil riset teknologi panjang yang dimulai sejak tahun 2020. 

Baginya, kreativitas harus didasari oleh kecerdasan intelektual dan keberanian mencoba hal baru.

Load More