Entertainment / Film
Senin, 11 Mei 2026 | 20:00 WIB
Tim produksi film Nobody Loves Kay kaget lihat potret kemiskinan masa lalu Kairi [Youtube/CGV Kreasi]
Baca 10 detik
  • Tim produksi melakukan riset mendalam hingga ke pelosok Filipina untuk memotret realitas kemiskinan dan titik nol perjuangan Kairi sebelum sukses.
  • Sutradara dan kru memiliki keterikatan emosional dengan tema zero privilege, menjadikan film ini cerminan perjuangan mengejar mimpi dari keterbatasan.
  • Mengangkat isu universal tentang benturan antara ambisi anak muda di dunia e-sports dengan kekhawatiran serta harapan konvensional orangtua.

Suara.com - Tim produksi film Nobody Loves Kay melakukan riset yang tak main-main demi menghidupkan kisah nyata pro player Mobile Legends, Kairi "ONIC Kairi" Rayelsdelsol, ke layar lebar.

Tak hanya melakukan wawancara mendalam, mereka bahkan ikut sang atlet mudik langsung ke kampung halamannya di Bataan, Filipina, dan menemukan realitas yang jauh dari gemerlap dunia e-sports.

Dalam konferensi pers yang digelar di Senayan, Jakarta Pusat, pada Senin, 11 Mei 2026, produser Faisal Hibatullah mengungkapkan bahwa perjalanan tersebut membuka mata mereka terhadap titik terendah perjuangan Kairi.

Mereka diajak langsung ke rumah sang nenek, tempat Kairi dibesarkan, yang berada di sebuah kawasan padat setelah menempuh perjalanan lima jam dari Manila.

"Itu beneran se... emang semiskin itu katakanlah. Rumahnya tuh kayak masuk gang, masuk gang lagi, pinggir kali," ungkap Faisal.

"Dan sekarang Kairi tuh beneran bangun rumahnya sendiri, gede banget," tambahnya.

Dedikasi ini bukan tanpa alasan, terutama bagi sang sutradara, Bernardus Raka. Dia mengaku menemukan koneksi personal yang kuat dengan kisah hidup Kairi.

Menurutnya, film ini bukan sekadar proyek, melainkan cerminan dari perjuangannya sendiri yang juga dimulai dari nol tanpa adanya privilage.

"Pengalaman personalnya dia tuh hampir sama dengan pengalamanku. Kairi tidak punya HP, aku dulu untuk mengejar mimpiku sebagai sutradara, aku enggak punya kamera, aku nggak punya laptop, dan aku tidak kuliah film," jelas Raka.

Baca Juga: Raffi Ahmad Dukung Atlet Esports Berlaga di HOK World Cup 2025, Janjikan Bonus

"Zero privilege yang dimiliki Kairi itu hampir sama dengan punyaku. Device-nya aja beda," lanjutnya.

Semangat "berjuang dari bawah" ini menjadi benang merah yang menyatukan seluruh kru dan pemain.

Film Nobody Loves Kay secara tajam mengangkat konflik universal yang relevan lintas generasi, yakni tabrakan antara mimpi anak muda yang dianggap "tidak biasa" dengan harapan orangtua yang mendambakan masa depan konvensional.

Produser Faisal Hibatullah menyoroti bagaimana mimpi generasi Z untuk menjadi streamer atau gamer profesional sering kali diremehkan.

Hal ini diamini oleh Mian Tiara, pemeran ibu Kay, yang berbagi pengalaman pribadinya.

"Itu terjadi di generasi saya ketika orangtua saya, terutama ibu saya, tidak mempercayai bahwa mimpi saya yang mau jadi seniman. Saya butuh tahunan untuk mendengar ibu saya ngomong, 'Kamu kerja kantoran aja nak, yang safe'," kenang Mian.

Load More