Bukan Sekadar Jumpscare, Aghniny Haque Ungkap Horor Berbeda di "Bisikan Desa Gringsing"

Senin, 10 Agustus 2026 | 18:48 WIB
(Dari kiri ke kanan): Aghniny Haque, Hesti Putri, dan Fatmah Nahdi saat media visit film Bisikan Desa Gringsing di kantor Suara.com, Jakarta Barat, Senin (10/8/2026). (Suara.com/ Mohammad Rhadzaki Ramadhan)

Suara.com - Bisikan Desa Gringsing menawarkan pengalaman horor yang tidak hanya mengandalkan jumpscare. Film arahan Ivander Tedjasukumana ini memadukan kekuatan cerita dan perkembangan karakter dengan teknologi virtual production dalam produksinya.

Pendekatan itu menjadi pengalaman baru bagi Aghniny Haque yang menjadi salah satu pemain film. Ia menyebut Bisikan Desa Gringsing sebagai proyek horor yang ambisius karena melibatkan kolaborasi Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

“Menurut aku itu adalah salah satu proyek horor yang sangat ambisius. Ini melibatkan kolaborasi tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Singapura,” ujar Aghniny saat media visit Bisikan Desa Gringsing di kantor Suara.com, Jakarta Barat, Senin (10/8/2026).

Bagi Aghniny, kekuatan cerita menjadi salah satu alasan tertarik membintangi Bisikan Desa Gringsing. Ia ingin terlibat dalam film horor yang tidak hanya mengandalkan jumpscare, tetapi memiliki cerita dan perkembangan karakter yang kuat.

Bisikan Desa Gringsing dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 24 September 2026. Setelah Indonesia, film ini akan dilanjutkan ke Malaysia, Singapura, Turki, dan Azerbaijan. (Dok. Mandela Pictures)

“Script-nya tuh kuat banget. Aku pengen kali ini tuh punya film horror yang memang ceritanya tuh kuat,” kata Aghniny.

Aghniny juga menyoroti karakter perempuan dalam film. Menurutnya, karakter-karakter perempuan tidak hanya hadir sebagai pelengkap, tetapi memiliki alasan dan perkembangan yang ikut menggerakkan cerita.

“Karakter-karakter perempuan yang ada di sini juga sih. Bukan tempelan dibuat semerta-merta hanya untuk kayak ketakutan aja. Tapi mereka juga punya alasan dan perkembangan karakter itu sendiri,” ujar Aghniny.

Selain kekuatan cerita, Bisikan Desa Gringsing menghadirkan teknologi virtual production sebagai bagian dari proses produksinya. Teknologi ini memungkinkan lingkungan digital ditampilkan melalui layar sehingga pemain dapat berakting dalam dunia visual yang dibangun secara langsung di studio.

Bagi Aghniny, metode itu membuat proses akting membutuhkan penyesuaian. Ia harus memadukan teknik bermain dengan teknologi sekaligus menjaga emosi karakter.

“Tantangannya menggabungkan antara syuting konvensional sama studio, sama bekerja sama tiga negara ini sih,” kata Aghniny.

Aghniny menilai pemain harus lebih presisi ketika berhadapan dengan lingkungan virtual. Respons terhadap suara, sosok, arah, hingga ukuran objek perlu disesuaikan agar emosi yang ditampilkan tetap tepat.

“Lebih presisi sih. Kita harus meleburkan, menggabungkan antara teknik, teknologi sama emosional kita,” ujar Aghniny.

Ia kemudian memberikan contoh bagaimana pemain harus menentukan respons terhadap elemen yang tidak hadir secara fisik di lokasi syuting.

“Misalkan ada suara datang. Oke, suara datangnya sebesar apa? Sosok datangnya sebesar apa dan dari mana? Jadi reaksinya enggak boleh kebesaran dan enggak boleh kesedikitan,” kata Aghniny.

Menurut Aghniny, virtual production juga membuka kemungkinan menghadirkan adegan yang sulit dilakukan dengan metode konvensional. Salah satunya adalah adegan di dalam mobil dengan lingkungan yang ditampilkan melalui layar besar.

Terkait
Terkini
Lihat Artikel Lainnya

Dapatkan Aplikasi
Suara.com