- Peneliti terorisme dan Deputi Bakom Ulta Levenia Nababan viral akibat perdebatan soal makar.
- Ulta berdebat dengan Asfinawati di Kompas TV mengenai konsep sekuritisasi dan tindakan pemerintah terhadap makar.
- Ulta juga memicu kontroversi di media sosial setelah mengaitkan erupsi enam gunung dengan program HAARP.
Posisi tersebut membuat pernyataannya mengenai isu politik, keamanan, dan kebijakan publik mendapat perhatian lebih luas.
Salah satu momen yang membuat namanya menjadi perbincangan terjadi dalam program Rosi Kompas TV bertajuk “Seruan 'Makar' Berujung Laporan.”
Dalam program tersebut, Ulta berdiskusi dengan akademisi Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera, Asfinawati.
Keduanya terlibat perdebatan mengenai konsep makar dan kapan pemerintah dapat mengambil tindakan.
“Apakah harus menunggu kekerasan dulu, lalu pemerintah bertindak?” kata Ulta dalam perdebatan tersebut.
Asfinawati kemudian memberikan tanggapan.
“Tapi ini kan bukan kekerasan, ini makar. Kan beda itu. Jangan disamakan makar hanya kekerasan,” ujarnya.
Potongan perdebatan tersebut kemudian menyebar di media sosial dan memunculkan berbagai reaksi dari warganet.
Sorotan terutama tertuju pada penggunaan sejumlah istilah akademik oleh Ulta ketika menjelaskan konsep sekuritisasi.
“Kalau saya melihatnya dari konsep sekuritisasi, ketika provokasi itu kemudian bereskalasi, lalu berlanjut menjadi memicu mobilisasi massa,” ujar Ulta.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan perbincangan di X.
Sejumlah pengguna media sosial mengkritik gaya penyampaiannya dan bahkan membandingkannya dengan gaya bicara Vicky Prasetyo.
Pernyataan soal HAARP Ikut Memicu Perdebatan
Kontroversi lain muncul ketika Ulta menyinggung High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) di tengah fenomena erupsi sejumlah gunung api di Indonesia.
Ulta mempertanyakan apakah erupsi enam gunung api yang terjadi pada waktu berdekatan sepenuhnya merupakan fenomena alam.
Ia juga mengaku memahami bahwa pandangannya dapat dianggap sebagai bagian dari teori konspirasi.
“Walau gak ada bukti ilmiah yang kredibel, tapi otak skeptis pasti berpikir atau setidaknya entertain pemikiran,” tulis Ulta melalui akun media sosialnya.
Ia kemudian mengaitkan waktu erupsi sejumlah gunung dengan pertemuan Presiden RI dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Vladivostok.
“Kenapa sehari setelah Presiden RI bersalaman mesra dengan Putin di Vladivostok, enam gunung vulkanik Indonesia erupsi secara bersamaan?” tulisnya.
Pernyataan itu langsung memicu kritik. Sejumlah warganet mempertanyakan dasar ilmiah yang digunakan untuk menghubungkan aktivitas vulkanik dengan HAARP maupun agenda politik.