- Penyanyi Kadri merilis video musik lagu "Mambangkik Batang Tarandam" di Pelabuhan Teluk Bayur bawah arahan sutradara DVH Bale.
- Badai yang terjadi saat syuting tengah malam memberikan efek visual alami untuk memperkuat atmosfer emosional video musik tersebut.
- Lagu ciptaan Jimmo dengan aransemen Popo Fauza ini menyampaikan pesan agar orang bangkit dari patah hati.
Suara.com - Pelabuhan Teluk Bayur bukan sekadar titik keberangkatan kapal bagi penyanyi Kadri.
Di bawah arahan sutradara DVH Bale, pelabuhan ikonik di Sumatra Barat ini bertransformasi menjadi saksi bisu sebuah drama tentang cinta, tradisi, dan ketangguhan mental dalam video musik terbaru Kadri bertajuk "Mambangkik Batang Tarandam".
Bukan tanpa alasan Teluk Bayur dipilih sebagai latar utama. Bagi masyarakat Minang dan penikmat sastra, lokasi ini membawa memori kolektif pada mahakarya Buya Hamka, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Romantisme tragis antara Zainuddin dan Hayati seolah berdenyut kembali dalam visualisasi lagu ini.
"Saya sangat antusias saat tahu lokasinya di Teluk Bayur. Tempat ini mengingatkan saya pada kisah Van der Wijck. Ini menjadi tantangan besar bagi saya untuk menghasilkan video musik yang berkualitas, bukan sekadar memamerkan pemandangan indah," kata DVH Bale.
Suasana dramatis video ini pun diperkuat oleh alam. Saat proses syuting berlangsung tengah malam, badai tiba-tiba turun tanpa rencana.
Bukannya menghambat, hujan badai tersebut justru memberikan efek visual alami yang memperkuat atmosfer emosional lagu, seolah melambangkan sesuatu yang lama terpendam kini muncul kembali ke permukaan.
Filosofi "Move On" ala Minangkabau
Meski dibalut suasana melankolis, Kadri menegaskan bahwa lagu ini bukanlah ratapan kesedihan.
"Mambangkik Batang Tarandam", sebuah pepatah Minang yang berarti membangkitkan kembali marwah yang lama terbenam, diterjemahkan Kadri sebagai pesan untuk bangkit dari patah hati.
"Orang Minang itu pantang menyerah. Cinta memang soal komitmen dan kesetiaan, tapi kalau memang harus putus, ya jangan terpuruk. Cari lagi yang lebih lucu," imbuh Kadri dengan nada humoris namun penuh makna.
Bagi Kadri, cinta harus dijalani dengan serius, namun kehilangan cinta tidak boleh membuat seseorang kehilangan selera humor dan semangat hidup.
Benturan Adat di Era Modern
Nando Satoko, yang turut terlibat dalam proyek ini, melihat bahwa isu yang diangkat masih sangat relevan dengan dinamika sosial saat ini.
Sebagai pria berdarah Minang, ia menyoroti bagaimana batas-batas adat mulai mencair namun tetap menyisakan ruang diskusi yang menarik.