SUARA GARUT - Pada umumnya, kita mengenal ulama hanya dari kalangan laki-laki. Namun apakah anda tahu, bahwa ulama banyak pula dari kalangan perempuan.
Seperti halnya Imam Syafi’i saat mukim di Mesir. Ia memiliki guru dari kalangan perempuan yang bernama Sayidah Nafisah.
Begitu juga di Indonesia, banyak ulama dari kalangan perempuan yang memiliki kapasitas keilmuan yang cukup tinggi, karena mereka dididik langsung oleh para orang tua dari kalangan pesantren serta mondok di pesantren selama bertahun-tahun, dan bahkan menjadi istri dari para kyai di pesantren.
Ketua umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya , ia menyampaikan apresiasi atas harapan kepada ahli ilmu dari kalangan perempuan, hal tsersebut ia sampaikan saat mengisi sambutan dalam acara acara Halaqah Fikih Peradaban dan Bahtsul Masail Kiai & Ibu Nyai se-Indonesia di Pesantren Al Muhajrin Purwakarta, Jawa Barat.
“Saya pribadi sudah cukup lama menginginkan segera dilakukan yaitu suatu majelis ilmiah yang bisa menjadi Wahana untuk mengkonsolidasikan para ahli ilmu di kalangan perempuan-perempuan Nahdlatul Ulama.” Ujar Gus Yahya saat mengisi sambutan pada pembukaan halaqah fikih peradaban di Chanel Youtube TVNU yang di lihat garut.suara.com pada hari Jum’at 12 Mei 2023.
Iapun menyampaikan dua kepentingan dari kegiatan halaqah fikih peradaban tersebut.
Pertama ia berharap sebagaimana nama Nahdlatul Ulama karena memiliki label ulama, maka harus diisi oleh orang yang benar-benar ahli ilmu agama.
“Pertama bahwa ketika Nahdlatul Ulama ini menyebut label ulama. Sehingga diberi nama Nahdlatul Ulama yang dimaksud memang adalah sungguh-sungguh Ahli ilmu. Dan ahli ilmu dalam hal ini adalah ahli-ahli ulumiddin. (yakni) ulama yang dimaksud di dalam Nahdlatul Ulama itu adalah ulama-ulama yang memang ahli dalam ilmu-ilmu agama.” Tegas Gus Yahya
Iapun berharap, para ulama dari NU mampu melihat masalah peradaban dan kemudian memberi tanggapan terhadap masalah tersebut dari sudut pandang islam.
“Fikih peradaban ini yang kita inginkan adalah bagaimana Islam melihat masalah peradaban dan kemudian memberi tanggapan dari sudut pandang Islam.”
Baca Juga: Anak Terlanjur Hamil Jadi Penyebab Perkawinan Anak Meningkat, Orangtua Harus Bagaimana?
Kedua, harapan Gus Yahya yaitu para ulama mampu melakukan aktifitas ilmiah yang berangkat dari wawasan keislaman untuk menanggapi masalah-masalah nyata. Bukan hanya sebagai pengikut dari wacana- yang tumbuh dari luar lingkungan agama islam.
“kedua, Mari kita kembangkan satu aktivisme ilmiah, dengan satu nalar. Bahwa kita berangkat dari wawasan keislaman. kita menanggapi masalah-masalah nyata, bukan sekedar menjadi pengikut dari wacana-wacana yang tumbuh di luar lingkungan agama ini.” Tutupnya (*)
Editor: Farhan
Berita Terkait
Terpopuler
Pilihan
-
LIVE Final Piala Asia Futsal 2026: Israr Megantara Menggila, Timnas Indonesia 3-1 Iran
-
Menuju Juara Piala Asia Futsal 2026: Perjalanan Timnas Futsal Indonesia Cetak Sejarah
-
PTBA Perkuat Hilirisasi Bauksit, Energi Berkelanjutan Jadi Kunci
-
Klaten Berduka! Wakil Bupati Benny Indra Ardianto Meninggal Dunia
-
Kisah Petani Gurem, Dihantui Pangan Murah Rendah Gizi
Terkini
-
Uang Jatah Rp7 Miliar Tiap Bulan: Inilah Alur Suap Eksklusif PT Blueray ke Oknum Bea Cukai!
-
Profil Liu Jianqiao Wasit Cina di Final Piala Asia Futsal 2026 Banyak Kontroversi
-
Gus Ipul Ajak Para Kades Tindaklanjuti Arahan Presiden Kawal Data Kemiskinan
-
Menstruasi itu Normal: Perempuan dengan Segala Drama 'Tamu Bulanannya'
-
Kirim Doa untuk Timnas Futsal Indonesia, Akun Divisi Humas Polri Malah Dirujak Netizen
-
5 Risiko Pakaian Bekas, Ini Peringatan Dokter Penyakit Kulit
-
Wajah Ridwan Kamil Dicopot dari Underpass Depok, Ikon 'Jabar Juara' Akan Diganti Tokoh Lokal?
-
Film 'The Tank': Tank Tempur dan Penjara Jiwa dalam Peperangan
-
5 Lipstik Matte Lokal Murah Meriah, Nyaman Dipakai Seharian
-
Final Piala Asia Futsal 2026: Profil Israr Megantara, Anak Tambun yang Hancurkan Iran