/
Senin, 26 Juni 2023 | 07:30 WIB
Ahmad Dani Ternyata Tidak Ingin Sama Dengan Mendiang Ayahnya, Ini Sebabnya. (Foto: Tangkapan layar / YouTube Vena Melinda)

SUARA GARUT - Musisi kondang Ahmad Dhani memiliki kemampuan yang luar biasa dalam berbagai hal, salah satunya ketertarikanya soal tasawuf.

Saat di wawancarai Venna Melinda, Ahmad Dhani mengemukakan ketertarikanya dalam dunia filsuf, khususnya filosofi Islam terkait tasawuf.

Menurut Venna, Ahmad Dhani adalah sosok yang bukan saja sibuk dengan dunia sebagai seorang musisi, namun lebih jauh dari itu.

Saat itu, Vena Melinda menanyakan mengapa Ahmad Dhani cinta sejarah, padahal biasanya musisi itu sibuk dengan keduniawian, tapi malah tertarik dengan filosofi Jawa.

Ahmad Dhani mengatakan, setiap manusia diwarisi dengan gen dan memori orang tuanya.

"Setiap kita itu memiliki gen dan terwarisi memori orang tua," kata Ahmad Dhani saat ditanya Vena Melinda.

Ahmad Dhani menyebut bahwa memori kita itu tidak mati, namun akan tersimpan pada generasi keturunanya, dia mencontohkan memorinya akan tersimpan pada Al, El, dan Dul.

"Nanti anaknya Al, El, dan Dul juga akan mewarisi memori ini," cetus Ahmad Dhani.

Menurutnya hal itu terdapat dalam ilmu tasawuf yang ia baca, namun dalam ilmu kejiwaan kata dia malah belum menemukanya.

Baca Juga: Deretan Pemain Inggris yang Pernah Berkostum Real Madrid, Terkini Ada Jude Bellingham

"Jadi kalau orang tuanya memiliki peran dalam sejarah, nanti anak-anaknya mewarisi itu," ujarnya.

Sehingga, akan muncul rasa keingintahuan dari generasi penerusnya.

Ahmad Dhani menjelaskan hampir semua pelajaran saat SMP, dan SMA jeblok, kecuali sejarah.

Seperti dijelaskan Ahmad Dhani, rupanya ayah suami Mulan Jameela itu, merupakan politisi dan tercatat sebagai anggota DPR RI zaman Orde Baru, tahun 1966.

Belakangan diketahui, Ahmad Dhani merupakan putra Edy Abdul Manaf, seorang pria berdarah Sunda asal Garut.

Pembelajaran politik kata Ahmad Dani sudah menjadi makanan sehari-hari keluarganya.

Ahmad Dhani menyebutkan, dia disekolahkan ke SMP Muhamadiyah, karena didorong faktor idiologis mendiang ayahnya.

Akan tetapi saat tumbuh remaja Ahmad Dhani menjadi anak yang rebel atau tidak mau ikut nasehat orang tua.

"Sejak SMA saya dan ayah saya sudah berbeda pandangan soal apapun," katanya.

Diakuinya, dia tidak mau sama dengan ayahnya, karena sudah ingin menjadi diri sendiri.

Oleh sebab itu, sebagai anak politisi, Ahmad Dhani malah menekuni dunia musik.

"Saya tidak mau sama dengan ayah, ayah saya politisi, saya memilih jadi musisi, idiologis ayah Muhamadiyah, saya memilih Nahdlatul Ulama (NU)," tandasnya.

Perubahan prilaku tersebut kata Ahmad Dhani, sejak dirinya remaja terutama saat SMA, sehingga ia tumbuh menjadi anak yang susah dikontrol orang tua. Baik secara pemikiran maupun hal-hal lainya.

Akan tetapi, saat ini kata Ahmad Dhani, saat ayahnya sudah meninggal dunia, dia baru merasakan bahwa apa yang dikatakan orang tua banyak benarnya.

"Akhirnya saat ini, saya harus katakan yang paling benar adalah Papa Saya," kata Ahmad Dani.

Akan tetapi pada prinsipnya dia memang tidak ingin sama dengan orang lain, termasuk sama ayahnya saat masih anak-anak. (*)

Load More