- PT Didimax Berjangka menyelenggarakan seminar edukasi dan live trading di Bandung untuk meningkatkan literasi keuangan para investor.
- Para ahli memberikan edukasi analisis pasar serta praktik perdagangan langsung agar peserta memahami manajemen risiko secara nyata.
- Manajemen Didimax menegaskan operasionalnya legal dan melarang nasabah menggunakan skema titip dana demi keamanan portofolio pribadi.
Suara.com - Terjun ke dunia pasar keuangan tanpa dibekali fondasi pengetahuan yang mumpuni merupakan langkah awal menuju kerugian finansial.
Di tengah kemudahan akses platform digital saat ini, urgensi mengenai pentingnya proses belajar dan penguatan literasi sebelum menempatkan modal dalam instrumen investasi tingkat tinggi, seperti perdagangan berjangka, menjadi hal yang tidak dapat ditawar.
Menempatkan pemahaman mendalam mengenai manajemen risiko dan analisis pasar merupakan bekal krusial agar pelaku pasar mampu bertahan dalam siklus jangka panjang.
Kondisi sebaliknya justru sering memicu bahaya nyata berupa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau ketakutan tertinggal tren, yang kerap menjadi pemicu utama kehancuran portofolio investor pemula.
Dorongan psikologis akibat melihat keuntungan instan orang lain di media sosial sering kali membuat seseorang terburu-buru menyetor dana tanpa melakukan analisis mandiri.
Alhasil, urutan proses pun terbalik: bertransaksi terlebih dahulu, baru bersusah payah mencari pengetahuan setelah menderita kerugian besar.
Merujuk pada urgensi literasi tersebut, PT Didi Max Berjangka (Didimax) kembali menggelar kegiatan edukasi melalui Seminar dan Live Trading yang berlangsung hari ini di CGV 23 Paskal, Bandung.
Mengusung semangat peningkatan pemahaman keuangan yang sehat, agenda ini dihadiri oleh 250 peserta yang antusias menyerap wawasan perdagangan berjangka secara transparan dan bertanggung jawab.
Dalam kegiatan tersebut, Didimax menghadirkan barisan trader serta analis berpengalaman, di antaranya Mr. Syam, Mr. Vincent, dan Mr. Widiansyah. Para mentor membagikan strategi analisis teknikal maupun fundamental tingkat lanjut, mulai dari metode Smart Money Concept (SMC) hingga formula Money Hunter.
Baca Juga: Rupiah Melemah dan Suku Bunga Naik, Ini 3 Tipe Investasi untuk Pemula Amankan Tabungan
Selain menerima materi teori, para peserta mendapatkan kesempatan eksklusif untuk menyaksikan langsung praktik eksekusi live trading yang ditampilkan di layar besar bioskop. Langkah visual ini diambil agar masyarakat dapat memahami secara riil bagaimana psikologi pasar bekerja saat menghadapi fluktuasi harga.
Sebagai perusahaan pialang berjangka resmi, Didimax memposisikan program pelatihan berkelanjutan—baik melalui seminar tatap muka, webinar, hingga bimbingan privat—sebagai pilar bisnis utama untuk menekan tingkat kerugian akibat minimnya informasi di kalangan masyarakat.
Direktur Didimax, Cenli Yani, menegaskan bahwa seluruh gerak operasional perusahaan selalu berjalan di bawah koridor hukum dan kepatuhan regulasi industri perdagangan berjangka di Indonesia.
Oleh karena itu, Cenli menyatakan bahwa berbagai rumor atau informasi yang mengaitkan nama Didimax dengan praktik penipuan murni tidak memiliki dasar faktual sama sekali.
"Didimax beroperasi berdasarkan perizinan resmi dan berada di bawah pengawasan regulator terkait. Seluruh aktivitas bisnis kami dijalankan secara legal dan transparan," terang Cenli.
Dalam kesempatan yang sama, manajemen Didimax kembali memberikan peringatan keras kepada publik mengenai proteksi akun.
Nasabah sangat diimbau untuk melakukan setiap transaksi secara mandiri melalui login pribadi dan bertanggung jawab penuh atas setiap keputusan yang diambil.
Perusahaan menegaskan bahwa kendali penuh trading harus dipegang langsung oleh pemilik modal. Masyarakat sangat tidak disarankan untuk menggunakan skema titip dana atau menyerahkan akun kepada pihak lain yang mengiming-imingi profit pasti.
Berita Terkait
-
Bank Investasi China Berikan Pinjaman Rp71,5 Triliun untuk Indonesia, Mau Buat Apa?
-
Infrastruktur Kompleks di Balik Layar: Mengapa Gangguan Platform Trading Sering Bikin Trader Panik?
-
Investasi Digital China di RI Makin Marak, Apa Untung dan Ruginya?
-
Sukuk ST016 Jadi Pilihan Investasi Syariah Minim Risiko dengan Imbal Hasil Menarik
-
Satgas PASTI Hentikan Appeninc, VID, dan Sensenowai, Diduga Lakukan Penipuan Berkedok Investasi
Terpopuler
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
- Sepatu Lari Cocok untuk Jalan Kaki? Ini 3 Sepatu Terbaik Menurut Pakar Beserta Harganya
- 5 Sunscreen Lokal untuk Hempas Flek Hitam, Lengkap dengan Review dan Harganya
Pilihan
-
Kebakaran Kemayoran: Ratusan KK Terdampak, Korban Dievakuasi ke RS Hermina
-
Atma Jaya Yogyakarta Temukan Empat Mahasiswa Terlibat Kasus Riset AI, Kampus Siapkan Sanksi
-
Prabowo: Kalau Kita Lapar, Tidak Ada Bangsa Lain yang Kasihan dan Bantu
-
Prabowo Tabuh Genderang Perang: Kita Lawan Kelompok Anti Tanah Air
-
Prabowo Pidato 1 Juni 2026: Lawan Asing, Waktunya Kembali ke Ekonomi Pancasila
Terkini
-
Perkuat PT GMM, Bulog Fokus Jaga Kepercayaan dan Kemitraan dengan Petani Tebu Blora
-
Influencer Tak Lagi Dapat PPh UMKM 0,5 Persen, Purbaya: Tak Ada Lapangan Kerja
-
PT GMM Pastikan Penyampaian Aspirasi Petani Tebu di Blora Berjalan Tertib dan Kondusif
-
Profil PT MMS, Perusahaan yang Dianggap Bandel di Industri Sawit
-
5 Asosiasi Pengusaha Buka Suara soal DSI, Ingatkan Risiko Ganggu Ekspor SDA RI
-
Tak Miliki Bisnis Sawit, Ini Profil PT MMSGI
-
Danantara Bongkar Borok BUMN, Catat Penurunan Aset Hampir Rp100 Triliun
-
Jelang DSI Beroperasi, Pengusaha Kompak Minta Jaminan Kontrak Ekspor Tetap Aman
-
Setor Ratusan Triliun ke Negara, Tapi Petani Tembakau Belum Dilindungi Hukum
-
Gaji ke-13 ASN dan Pensiun Cair Mulai Besok, Taspen Ungkap Aturan hingga Penerima yang Tak Kebagian