Suara.com - Pembekuan sel telur perlahan menjadi tren bagi banyak masyarakat di belahan dunia. Proses ini dilakukan dengan ekstraksi sel telur dari ovarium, dan menyimpannya dalam kondisi ideal untuk penggunaan masa depan.
Cara ini diyakini dapat membantu meningkatkan kesempatan perempuan untuk hamil pada usia matang. Namun, sebelum terburu-buru melakukannya, para peneliti menyarankan Anda tidak terlalu bergantung pada prosedur ini, bila bisa memiliki anak pada usia lebih muda.
Ingin tahu lebih dalam tentang pembekuan sel telur? Berikut, beberapa fakta yang bisa menjelaskannya seperti dilansir dari Boldsky:
Fakta 1
Meski saat ini proses pembekuan sel telur tersedia, tidak bijak rasanya jika Anda menunda kehamilan. Bila Anda memiliki waktu di usia yang cukup, sumber daya dan kesehatan yang baik, lebih baik tidak lagi menunda memiliki anak.
Apalagi, mengingat efisiensi, tingkat keberhasilan, keamanan dan risiko dari pembekuan sel telur belum sepenuhnya dipastikan.
Fakta 2
Bagi perempuan yang memiliki alasan tak terelakkan untuk menunda kehamilan, proses pembekuan sel telur tentu akan sangat membantu. Langkah ini cukup tepat, terutama bagi mereka yang hampir kehilangan tingkat kesuburan karena alasan kesehatan.
Fakta 3
Statistik menunjukkan, persentase perempuan yang benar-benar menggunakan sel telur mereka yang sudah mereka simpan cukup kecil. Sebenarnya, dari 100 perempuan yang melakukan membekukan sel telurnya, hanya lima perempuan yang menggunakannya. Sisanya, umumnya bisa berubah pikiran.
Fakta 4
Satu-satunya hal yang perlu Anda ingat adalah, pembekuan sel telur tidak menjamin 100 persen kehamilan. Prosesnya mungkin dikatakan dapat membantu menyimpan sel telur, tapi banyak faktor lain berperan dalam kehamilan yang sukses dan sehat.
Fakta 5
Jika Anda ingin membekukan sel telur, disarankan untuk melakukannya saat Anda masih muda. Laporan menunjukkan, perempuan yang menyimpan sel telur mereka setelah 35 tahun, memiliki kesempatan untuk hamil lebih rendah.
Fakta 6
Banyak yang harus dipelajari untuk menyimpulkan seberapa efisien metode ini. Saat ini, sejumlah kecil kasus tercatat. Jadi, akan lebih bijak mengandalkan metode ini hanya dalam situasi yang tak terelakkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak