Suara.com - Seperti yang telah diketahui, hormon seks sangat mempengaruhi masing-masing sifat khas baik bagi perempuan maupun laki-laki. Contohnya pembesaran payudara dan pelebaran pinggul pada perempuan dan peningkatan massa otot maupun pertumbuhan rambut di bagian wajah pada laki-laki.
Tapi ternyata, lebih dari itu hormon seks juga memiliki dampak besar pada sistem kekebalan tubuh untuk membantu melawan dan melindungi dari penyakit. Seperti yang dikutip dari MailOnline, hal tersebut memiliki dasar evolusi yang mengatakan bahwa laki-laki lebih sulit terkena virus, namun sistem kekebalan tubuh yang reaktif membuat mereka lebih rentan terhadap penyakit autoimun dan alergi.
Virus sendiri melihat laki-laki lebih rentan dibanding perempuan. Laki-laki juga lebih banyak meninggal secara signifikan akibat penyakit menular daripada perempuan. Misalnya, laki-laki 1,5 kali lebih mungkin meninggal karena TBC, dan dua kali lebih mungkin terkena limfoma Hodgkin setelah terinfeksi virus Epstein-Barr (EBV).
Kaum Adam juga lima kali lebih mungkin terkena kanker setelah terinfeksi human papillomavirus (HPV), dibandingkan perempuan. Ini terjadi, karena sistem kekebalan tubuh perempuan dapat merespons lebih kuat terhadap serbuan asing, terutama virus.
Sementara hormon testosteron laki-laki cenderung meredam respons kekebalan tubuh, hormon estrogen perempuan dapat meningkatkan jumlah sel imun dan intensitas responnya. Sehingga nantinya, perempuan bisa pulih lebih cepat dari infeksi dibandingkan laki-laki.
Perempuan dikenal telah mengembangkan banyak mekanisme untuk menularkan infeksi terutama dari ibu ke anak selama masa kehamilan, kelahiran atau saat menyusui. Jadi bisa dikatakan, perempuan adalah kapal yang lebih baik bagi virus.
Sementara itu, virus juga telah memilih laki-laki sebagai jenis kelamin yang lebih lemah hingga mempopulerkan istilah 'flu laki-laki'. Hal tersebut juga merupakan tanda bahwa laki-laki terlalu mendramatisasi gejala flu dan merupakan sebuah bukti bahwa pada kenyataannya mereka dapat menderita lebih sering karena virus dapat mengurangi respons imun mereka.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
Terkini
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh