Suara.com - Bagi Anda pengendara sepeda motor sebaiknya berhati-hati, pasalnya aktivitas ini ternyata bisa menjadi salah satu pemicu kondisi saraf kejepit atau dalam istilah medis disebut Herniated Nucleus Pulposus (HNP).
Disampaikan dr. Sri Wahyuni, SpKFR, pakar rehabilitasi Klinik Nyeri dan Tulang Belakang, Gedung Onta Merah, Jakarta, terdapat beberapa faktor risiko terjadinya saraf kejepit antara lain merokok, olahraga berat seperti angkat besi, atau aktivitas pekerjaan tertentu yang sering mengangkat beban secara berulang.
“Dalam beberapa penelitian juga dikatakan, orang yang sering mengendarai sepeda motor memiliki risiko lebih besar untuk terjadi saraf kejepit, mencapai 2,7 kali lipat,” ujar dia di Jakarta, Kamis (1/2/2018).
Data yang ada di beberapa negara, seperti Finlandia dan Italia, menunjukan prevalensi saraf kejepit mencapai 3 persen dari populasi, prevalensi yang sama juga terjadi di Indonesia.
"Semakin tinggi usia seseorang, semakin tinggi pula kemungkinan terjadinya saraf kejepit. Kasus ini paling banyak diderita mereka dengan usia antara 30 hingga 50 tahun. Risiko terjadinya HNP akan menjadi lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan dengan perbandingan dua banding satu," tambah dia.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, selaku pakar nyeri Klinik Nyeri dan Tulang Belakang mengatakan, saat penekanan bantalan sendi tulang belakang terjadi pada saraf motorik maka akan berdampak pada melemahnya bagian tubuh yang memiliki saraf, sementara jika penekanan bantalan sendi tulang belakang terjadi pada saraf sensori, maka pasien bisa mengalami baal atau mati rasa.
"Sementara jika nyeri yang terjadi bersifat menjalar, menandakan sudah terjadi inflamasi pada saraf, sebagai tanda sudah tidak ada lagi ruang untuk saraf, atau dengan kata lain kondisi saraf kejepit yang terjadi sudah sangat besar dan memenuhi rongga tulang belakang," tambah dr Mahdian.
Ia menambahkan, umumnya saat seorang pasien datang ke klinik dengan keluhan nyeri pingang yang menjalar hingga kaki, dokter akan melakukan pemeriksaan kemampuan gerak tulang belakang dari lumbar hingga servikal. Selain itu dokter juga akan melakukan pemeriksaan neurologis seperti kelemahan bagian tubuh tertentu, kebas atau mati rasa, dan pemeriksaan refleks.
"Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Computed Tomography Scan (CT-scan) merupakan modalitas diagnosis saraf kejepit yang baik untuk saat ini. Pemeriksaan lain seperti CT myelography juga dapat digunakan pada pasien," tambah dia.
Baca Juga: Jawaban Mulan Jameela soal Pelakor Bikin Netizen Geregetan
Sebagai langkah pengobatan, ia menambahkan, dokter akan melakukan terapi konservatif seperti pemberian obat-obatan serta melakukan terapi fisik pada pasien, termasuk meminta pasien mengurangi faktor risiko, seperti obesitas.
"Beberapa modalitas terapi minimal invasive prosedur seperti radiofrekuensi dapat dilakukan pada pasien, jika terdapat kerusakan saraf yang bersifat progresif atau berat. Pembedahan seperti laminektomi atau bedah minimal invasive seperti Percutaneous Endoskopi Lumbar Disectomy (PELD) dan Percutaneous Laser Disc Decompression (PLDD) juga bisa dilakukan," tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
-
Jenderal Iran: Trump Harus Tahu, Hari Ini Kami Baru Tembakkan Rudal Stok Lama
-
Israel Klaim Menhan Iran dan Komandan Garda Revolusi Tewas, Nasib Khamenei Masih Misterius
-
Menlu Iran: Demi Allah! Kami Akan Balas Kematian 51 Siswi SD yang Dibantai Israel - AS
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia