Suara.com - Studi baru menemukan, lebih dari separuh anak-anak di Amerika Serikat tidak mendapatkan jumlah aktivitas fisik yang sesuai rekomendasi setiap pekannya.
Para peneliti mengatakan hanya lima persen anak-anak yang memenuhi capaian 60 menit per hari beraktivitas fisik atau 420 menit per minggu.
Sementara, anak-anak yang kelebihan jumlah waktu beraktivitas fisik justru mengalami risiko cedera dan kelelahan.
Tim peneliti dari Nationwide Children's Hospital, di Columbus, Ohio, berharap temuan ini mendorong dokter untuk memantau pasien anak-anak mereka lebih jeli dan memberikan 'resep latihan' untuk memastikan mereka tetap sehat.
Seperti dilansir Dailymail, Jumat (2/11/2018), dalam penelitian ini tim memantau lebih dari 7.800 anak-anak antara usia lima hingga 18 tahun yang mendatangi klinik kesehatan anak-anak rawat jalan selama periode tiga tahun.
Anak-anak dianggap aktif jika mereka mendapat 60 menit aktivitas per hari atau 420 menit kegiatan per minggu, seperti yang direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia. Hasilnya menunjukkan bahwa 49,6 persen anak-anak tidak cukup aktif dan hanya lima persen anak-anak yang aktif melakukan aktivitas fisik. Totalnya, hanya 5,2 persen anak-anak yang memenuhi sasaran harian yang sesuai rekomendasi.
Selain itu, anak laki-laki rata-rata 61 menit lebih banyak melakukan aktivitas fisik per minggu daripada anak perempuan. Para peneliti juga menemukan anak laki-laki 39 persen lebih mungkin untuk memenuhi 420 menit yang direkomendasikan per minggu daripada anak perempuan.
"Olahraga atau melakukan aktivitas fisik harus dilakukan karena merupakan bagian vital dalam kesehatan. Ia menambhkan, ada banyak keuntungan dari aktivitas fisik," kata presenter abstrak Julie Young sekaligus asisten peneliti di Divisi Kedokteran Olahraga Anak di Nationwide Children's Hospital.
Ia menyarankan para dokter untuk melakukan percakapan penting dengan keluarga untuk memastikan anak-anak mendapatkan manfaat dari beraktivitas fisik. Tim juga menemukan bahwa aktivitas fisik meningkat secara signifikan ketika anak-anak tubuh besar.
Baca Juga: Penahanan Sembilan Tersangka Suap Meikarta Diperpanjang 40 Hari
Aktivitas fisik pada anak usia dini tidak hanya penting untuk mengembangkan keterampilan motorik, tetapi juga dapat menciptakan perilaku yang mengikuti anak-anak sepanjang hidup mereka. Beberapa penelitian menunjukkan, anak-anak yang tidak berolahraga memiliki otot dan tulang yang lebih lemah daripada anak-anak yang berolahraga secara teratur. Mungkin risiko terbesar dari kurangnya olahraga pada anak adalah kelebihan berat badan atau obesitas.
Terbukti tingkat obesitas meningkat tiga kali lipat sejak tahun 1970-an, mempengaruhi satu dari lima anak di AS dan 14 persen dari mereka yang berusia antara dua hingga empat tahun, menurut data dari American Academy of Pediatrics 2018 National Conference and Exhibition in Orlando, Florida (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit).
Hal itu terjadi karena studi menemukan, lebih dari separuh anak-anak di Amerika Serikat tidak mendapatkan jumlah aktivitas fisik yang sesuai rekomendasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- 4 HP Motorola Harga Rp1 Jutaan, Baterai Jumbo hingga 7.000 mAh
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang