Suara.com - Bercak hitam di Wajah Menggangu, Ada Laser Canggih Atasi Masalah Pigmentasi.
Munculnya bercak cokelat atau bintik hitam di wajah sangat menggangu. Masalah ini disebabkan oleh pigmentasi yang dikenal dengan sebutan melasma. Perubahan warna pada kulit tersebut biasanya dipicu oleh paparan sinar UV, penggunaan kosmetik, penuaan, atau faktor genetik.
Untuk mengatasi masalah pigmentasi, dokter Aryani Sudharmono, SpKK, memperkenalkan alat canggih sebagai solusi permasalahan kulit tersebut. Yakni berupa laser dengan teknologi canggih tanpa efek samping.
“Namanya laser Picoway, sebuah revolusi canggih di bidang laser untuk mengatasi masalah pigmentasi (flek hitam, tahi lalat, tanda lahir,) dan tato multi warna. Laser dengan panjang gelombang ganda ini sangat inovatif dan memungkinkan mengatasi masalah kulit,” ujarnya Aryani Sudharmono saat ditemui Suara.com di Senopati Skin Center, belum lama ini di Jakarta.
Ia menjelaskan, kelebihan Picoway adalah laser dengan 3 panjang gelombang yang pertama dan satu-satunya di dunia. Tiga panjang gelombang itu antara lain, 1064 nano meter (nm), 785 nm, dan 532 nm, dalam satu system laser.
“Laser ini merupakan laser picosecound terbaik yang selama ini dicari para dokter untuk mengatasi masalah pigmentasi dan menghilangkan tato. Pulsa ultrashoot pada picoway memungkinkan dampak fotoakustik yang kuat untuk memecah partikel pigmen,” jelasnya.
Alat ini sudah berada di SSC sejak Januari dan alat ini disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dan didatangkan dari California, USA dan sudah mendapatkan uji tingkat keamanan yang sudah teruji.
“Laser ini dapat digunakan untuk semua pasien semua umur, sekalipun anak yang baru lahir. Untuk menghilangkan tanda lahir, agar nanti tidak menjadi besar,” sambungnya.
Dokter Aryani menambahkan, laser ini sangat aman, efektif, nyaman, dan minimal downtime. Selain mengatasi masalah pigmentasi juga bisa mengatasi keriput, selulit, dan bekas luka. Lebih lanjut ia menjelaskan cara kerja laset Picoway.
Baca Juga: Ingin Awet Muda? Pijat Wajah Selama 2 Menit Saja
“Cara kerjanya laser ditembakkan langsung ke kulit yang bermasalah secara berkala. Dengan cara kerja yang memberi efek kejut, maka tidak diperbolehkan untuk ibu hamil dan menyusui. Sebeb efek kejutnya bisa membahayakan,” tandasnya.
Menurutnya, laser canggih tersebut dapat mengatasi masalah bercak hitam di wajah atau yang masalah pigmentasi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jaksa Skakmat Nadiem: Mau Putus Konflik Kepentingan, Kok Saham Gojek Tak Dijual?
- Anaknya Terlibat di Program MBG, Wamenaker Afriansyah Noor Beri Penjelasan Usai Namanya Terseret
- Resmi! Chatib Basri Dapat Jabatan Baru Hari Ini
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
Pilihan
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
-
'Kalau Semua Diam, Siapa yang Akan Bicara?' Alasan Zaskia Adya Mecca Dukung Aksi Mahasiswa
-
Silakan Tabrak Kami! Polisi Tantang Massa Mahasiswa UI yang Nekat ke Bundaran HI
-
Mahasiswa Belum Muncul, Begini Kondisi Terkini Bundaran HI Jelang Aksi 12 Juni
-
Harry de Fretes Bagikan Kabar Haji Bolot Meninggal, Keluarga: Hoaks, Itu Orang Kurang Kerjaan
Terkini
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional
-
Pengembangan Vaksin Dalam Negeri Kian Maju, Perlindungan terhadap HPV Jadi Fokus
-
Mikroplastik Ada di Makanan, Minuman, hingga Udara: Seberapa Besar Risikonya bagi Kesehatan?