Suara.com - Mikroplastik mungkin terdengar seperti ancaman yang jauh dan tak terlihat. Namun, partikel plastik berukuran sangat kecil ini ternyata hadir sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari makanan dan minuman yang dikonsumsi, hingga berbagai produk rumah tangga yang dipakai setiap hari.
Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang polusi plastik terbesar ketiga di dunia dengan menghasilkan sekitar 3,4 juta metrik ton sampah plastik per tahun, sebagaimana dilaporkan Ecoton (5/6/2026). Kondisi ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam diskusi “Less Waste Talk: Langkah Kecil untuk Lingkungan Kita” yang diselenggarakan oleh Yoursay.id dan Suara Hijau bekerja sama dengan KOPHI Jawa Tengah.
Ancaman yang Ternyata Sangat Dekat
Kepala Divisi Program dan Aksi KOPHI Yogyakarta, Nurhayati, menegaskan bahwa mikroplastik bukan lagi persoalan masa depan, melainkan ancaman yang sudah sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Oke, jadi sebetulnya mikroplastik ini tuh ancaman yang dekat banget, teman-teman, karena semua hal yang ada di kehidupan kita sehari-hari itu sebetulnya ada mikroplastiknya,” ujar Nurhayati.
Menurutnya, salah satu sumber mikroplastik yang kerap luput dari perhatian berasal dari pakaian berbahan polyester. Saat dicuci, serat-serat plastik dari kain tersebut dapat terlepas dan masuk ke saluran air, kemudian mencemari lingkungan. Selain itu, air minum dalam kemasan juga berpotensi menjadi sumber paparan mikroplastik yang dapat berdampak pada lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Berdampak Buruk pada Kesehatan
Tidak hanya mengancam lingkungan, mikroplastik juga dapat berdampak pada kesehatan manusia. Nurhayati menjelaskan bahwa partikel mikroplastik dapat masuk ke dalam tubuh melalui beberapa jalur.
“Jalur kontaminasinya itu bisa melalui udara, pencernaan, dan juga kontak dermal,” ungkapnya.
Baca Juga: Park Bom Tinggalkan Agensi Setelah 8 Tahun, Fokus Pulihkan Kesehatan
Paparan melalui udara dapat terjadi akibat partikel-partikel plastik berukuran sangat kecil yang berasal dari aktivitas industri maupun pembakaran sampah dan kemudian terhirup ke dalam sistem pernapasan. Sementara itu, jalur pencernaan terjadi ketika sampah plastik yang tidak terkelola dengan baik terbawa ke sungai dan laut, kemudian dikonsumsi oleh biota laut seperti ikan yang pada akhirnya menjadi makanan manusia.
Selain itu, mikroplastik juga dapat masuk melalui kontak dermal atau kontak dengan kulit. Menurut Nurhayati, hal ini dapat berkaitan dengan penggunaan produk perawatan diri yang dikemas menggunakan bahan plastik. Dengan begitu, masyarakat perlu lebih cermat dalam memperhatikan bahan kemasan produk yang digunakan sehari-hari.
Sebuah jurnal yang diterbitkan dalam Environmental Science & Technology pada 2024, bahkan menyebutkan bahwa masyarakat Indonesia diperkirakan mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik setiap bulan. Meski dampaknya tidak langsung terasa, akumulasi mikroplastik dalam tubuh tetap perlu menjadi perhatian.
“Sebetulnya mikroplastik ini dampaknya ke tubuh itu memang gak langsung. Jadi dia kayak butuh jangka waktu yang lama, baru tuh kita bisa merasakan dampak-dampak negatifnya di dalam tubuh kita,” jelasnya.
Perubahan Dimulai dari Langkah Kecil
Oleh karena itu, Nurhayati mengingatkan pentingnya langkah-langkah sederhana untuk mengurangi pencemaran mikroplastik, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, membawa tumbler sendiri, serta menerapkan prinsip think before buying sebelum membeli suatu produk.
Langkah kecil tersebut dapat membantu mengurangi timbulan sampah plastik sekaligus menjaga lingkungan tetap sehat bagi manusia maupun keanekaragaman hayati. Meskipun tidak terlihat oleh mata, ancaman mikroplastik sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan memerlukan perhatian bersama.
Penulis: Natasha Suhendra
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
Terkini
-
Memilih Susu Anak Tak Cukup Lihat Kandungan DHA, Orang Tua Perlu Cermati Komposisi Utamanya
-
Pencernaan Sehat Jadi Kunci Anak Aktif, Lahap Makan, dan Tidur Nyenyak
-
Stop Anggap Lemak Itu Jahat! Ini Alasan Mengapa Anak Justru Wajib Mengonsumsinya
-
Etawanesia dan Etawalin: Rekomendasi Susu Kambing Etawa Unggulan, Paling Diminati 2 Tahun Terakhir
-
Jangan Anggap Sepele Payudara Nyeri Saat Menyusui, Mastitis Bisa Berujung Operasi Abses
-
Mengenal Rontgen Gigi 3D: Teknologi yang Bantu Diagnosis Lebih Akurat dan Cepat
-
World Milk Day 2026: Perjalanan Peternak Menjaga Kualitas Nutrisi Segelas Susu
-
2 Susu Kambing Etawa untuk Mendukung Pemenuhan Nutrisi Penderita Saraf Kejepit
-
Bukan Cuma Perempuan, Faktor Pria Capai 30 Persen Kasus Infertilitas di Indonesia
-
Ribuan Sekolah Bergerak, Kesadaran Membangun Budaya Hidup Sehat Kian Menguat