Suara.com - Adanya smartphone dan internet memang sangat memudahkan kehidupan sehari-hari. Namun, penggunaannya pun perlu adanya batasan. Sebab, jika tidak, hal ini justru bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Selain pekerjaannya terganggu, seseorang yang kecanduan internet bisa saja lupa makan karena asyik bermain game atau melihat media sosial.
Dilansir dari medicaldaily, kecanduan internet dikenal sebagai problematic internet use (PIU), compulsive internet use (CIU) atau iDisorder, kondisi ini bisa mengubah pusat kesenangan otak.
iDisorder telah memengaruhi sekitar 38 persen dari 0,3 persen penduduk di seluruh dunia. Menurut beberapa penelitian, kecanduan internet menyerupai ketergantungan narkoba atau alkohol.
Kecanduan internet terjadi karena adanya pengalaman yang menyenangkan sehingga merangsang produksi dopamin. Ketergantungan ini lantas menumpuk karena keinginan seseorang mencapai respons yang menyenangkan.
Namun, hanya memeriksa email setiap hari untuk pekerjaan bukan termasuk gangguan. Sebab, gangguan kecanduan internet biasanya telah berdampak pada hubungan pribadi, kehidupan sekolah, dan pekerjaan.
Berikut beberapa gejala kecanduan internet secara emosional yang perlu Anda ketahui.
1. Kecemasan, ketakutan, dan agitasi
2. Ketidakjujuran
3. Perasaan kesepian dan depresi
4. Euforia saat menggunakan komputer
5. Perasaan bersalah
6. Terisolasi
7. Perubahan suasana hati
Selain secara psikologis, kecanduan internet juga bisa dilihat dari fisik. Berikut gejalanya.
Baca Juga: Nettox Watch, Jam Tangan Buatan Mahasiswa UI Atasi Kecanduan Internet
1. Sakit punggung
2. Sakit kapala
3. Insomnia
4. Sakit leher
5. Nutrisi buruk (penurunan berat badan atau penambahan berat badan)
6. Kebersihan pribadi buruk
7. Masalah pada mata
Kecanduan internet telah diakui oleh Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders sebagai penyakit yang membutuhkan penelitian lebih lanjut. Namun, alat standar untuk mendiagnosis gangguan tersebut belum ditemukan.
Mengobati gangguan ini bisa dengan beberapa cara. Pertama, orang-orang perlu menyadari bahwa penggunaan internet secara berlebihan merupakan masalah. Lalu, saat penggunaan internet telah memengaruhi hubungan sosial dan kegiatan sehari-hari, maka sudah saatnya mencari bantuan dari ahli.
Perawatan psikologis, seperti terapi individu, kelompok, atau keluarga, modifikasi pelaku, terapi seni, terapi rekreasi, Dialectical Behavioral Therapy (DBT), Cognitive Behavioral Therapy dan Equine Therapy dapat mengatasi gangguan kecanduan internet.
Berita Terkait
-
Di Balik Centang Biru: Kecemasan Baru dalam Komunikasi
-
Eco-Anxiety di Kalangan Gen Z Meningkat, Ancaman atau Justru Pemicu Aksi Lingkungan?
-
Anxiety Tidak Berbahaya, Itu Tandanya Sistem Tubuhmu Sedang Update
-
Dilema Generasi Muda Masa Kini: Antara Gaya Hidup dan Kecemasan Finansial
-
Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
-
Hakim Gemas Anggota BAIS Siram Air Keras ke Andrie Yunus: Amatir Banget, Malu-maluin!
-
10 WNI Diamankan di Arab Saudi Terkait Haji Ilegal, Kemenhaj Pastikan Tak Akan Intervensi
Terkini
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya
-
Pemulihan Optimal Setelah Operasi Dimulai dari Asupan Nutrisi yang Tepat
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien