-
- Banyak sumber air tampak jernih namun berisiko mengandung bakteri, logam berat, dan zat kimia berbahaya.
- Air minum berkualitas penting untuk mencegah dehidrasi dan melindungi fungsi organ vital seperti ginjal.
-
Proses distilasi mampu menghasilkan air murni yang aman dikonsumsi dan sesuai standar kesehatan.
Suara.com - Air minum yang aman dan berkualitas masih menjadi persoalan mendasar bagi banyak masyarakat. Di tengah meningkatnya kesadaran akan hidup sehat, tidak semua sumber air layak dikonsumsi secara langsung.
Air sungai, sumur, hingga air olahan berpotensi mengandung bakteri, logam berat, maupun zat kimia berbahaya yang tidak kasatmata. Ironisnya, risiko ini kerap luput dari perhatian karena air terlihat jernih dan tidak berbau, meski kualitasnya belum tentu memenuhi standar kesehatan.
Persoalan ini menjadi krusial karena air memiliki peran vital bagi tubuh manusia. Asupan air yang tidak aman tidak hanya memicu dehidrasi, tetapi juga dapat mengganggu fungsi organ penting seperti ginjal dan sistem peredaran darah.
Dalam jangka panjang, konsumsi air yang terkontaminasi meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan, mulai dari infeksi saluran kemih hingga penyakit kronis. Karena itu, air minum tidak cukup dinilai dari jumlahnya saja, melainkan juga dari proses dan kualitas pengolahannya.
Di tengah tantangan tersebut, teknologi pengolahan air menjadi faktor penting. Salah satu metode yang dinilai efektif untuk memastikan kemurnian air adalah proses distilasi. Kajian Ir. Adi Permadi, M.T, M.Farm, Ph.D, dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, menunjukkan bahwa distilasi mampu menghasilkan air murni dari berbagai sumber sebelum dikonsumsi.
Berdasarkan uji organoleptik, air hasil distilasi terbukti tidak berbau dan tidak berasa.
Dalam artikel jurnalnya berjudul The Effect of Distillation on Several Types of River Water on Clean Water and Drinking Water Quality Standards, Adi menjelaskan bahwa proses distilasi menghasilkan air yang memenuhi kriteria air bersih dan air minum sesuai PERMENKES RI No. 32 Tahun 2017.
Teknologi ini mampu menghilangkan berbagai kontaminan sehingga air aman digunakan sebagai air minum.
Pentingnya air berkualitas juga ditegaskan oleh Dokter Penyakit Dalam RS Pondok Indah, dr. Ni Made Hustrini, Sp.PD, Subsp. G.H.(K). Menurutnya, kecukupan cairan membantu kerja pembuluh darah sehingga aliran darah ke ginjal tetap optimal.
Baca Juga: Beda Air Mineral vs Demineral, Mana yang Lebih Bagus untuk Dikonsumsi?
Dehidrasi ringan dapat menyebabkan kelelahan dan sulit berkonsentrasi, sementara dehidrasi berat berisiko menimbulkan kerusakan ginjal. Air juga membantu melarutkan antibiotik untuk infeksi saluran kemih, meningkatkan produksi urin, serta mencegah pembentukan batu ginjal.
Kesadaran akan pentingnya hidrasi mendorong perhatian lebih pada kualitas air minum sehari-hari. Menjawab kebutuhan tersebut, Amidis hadir sebagai air minum yang diproduksi melalui proses distilasi atau dimasak, sehingga air yang dihasilkan lebih murni dan bebas kontaminan.
Head of Marketing Amidis, Astrid Adelaide Siregar, menjelaskan bahwa air dipanaskan di atas suhu 110 derajat Celsius untuk menghasilkan uap air yang aman dikonsumsi. Amidis juga menyediakan galon sekali pakai berukuran 15 liter yang BPA Free, sehingga lebih higienis dan praktis.
Commercial Director PT Amidis Tirta Mulia, Susilo Gunadi, menegaskan komitmen perusahaan dalam menyediakan air minum berkualitas yang mudah diakses untuk mendukung kesehatan keluarga Indonesia sehari-hari.
Berita Terkait
Terpopuler
- Promo Long Weekend Alfamart, Diskon Camilan untuk Liburan sampai 60 Persen
- Jokowi Sembuh dan Siap Keliling Indonesia, Pengamat: Misi Utamanya Loloskan PSI ke Senayan!
- Siapa Ayu Aulia? Bongkar Ciri-ciri Bupati R yang Membuatnya Kehilangan Rahim
- 3 Sepatu Lari Skechers Terbaik untuk Pemula dan Pelari Harian
- 6 Warna Pakaian yang Dipercaya Bawa Keberuntungan untuk Shio di Tahun Kuda Api 2026
Pilihan
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
-
Menilik Sepatu Lari 'Anak Jaksel' di Lapangan Banteng: Brand Lokal Mulai Mendominasi?
-
SMAN 1 Pontianak Tolak Ikut Lomba Ulang, Sampaikan Salam: Sampai Jumpa di LCC Tahun Depan!
-
Keluar Kau Setan! Ricuh di Pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping
Terkini
-
Gudang Berdebu hingga Area Perkebunan, Ini Lingkungan yang Bisa Jadi Sarang Penularan Hantavirus
-
Waspada Hantavirus, Ketahui Cara Membersihkan Kotoran Tikus yang Benar
-
Rahim Ayu Aulia Diangkat Gegara Tumor Ganas, Benarkah Riwayat Aborsi Jadi Pemicunya?
-
Gatal-Gatal Tak Kunjung Sembuh? Bisa Jadi Tanda Gangguan Liver yang Sering Diabaikan
-
Turun 10 Kg dalam 8 Minggu, Ini Perjalanan Vicky Shu Jaga Berat Badan dengan Pendampingan Medis
-
Panas Ekstrem Ancam Ibu Hamil, Risiko Prematur hingga Bayi Lahir Mati Meningkat
-
Konsumsi Gula Orang Indonesia Tembus 75 Gram Sehari: Ancaman Serius Bagi Kesehatan Gigi
-
Kasus Hantavirus Ada di Provinsi Indonesia Mana Saja? Korban Meninggal Capai 3 Orang
-
Hantavirus Ada Sejak Kapan? Menilik Sejarah dan Munculnya Kasus di Indonesia
-
Gejala Awal Mirip Flu, Apa Perbedaan Hantavirus dan Corona?