Suara.com - Tidur Pakai Selimut Bulu, Waspada Kena Sesak Napas dan Radang Paru-Paru
Seorang laki-laki asal Skotlandia menderita radang paru-paru sangat parah. Sementara para dokter yang menanganinya menyalahkan selimut bulu yang digunakan oleh pasien malang tersebut.
Mengutip Mirror, Pasien merupakan seorang lelaki berusia 43 tahun. Kasus yang dialaminya ditulis dalam jurnal BMJ Case Reports dan dianggap sebagai 'kasus yang jarang terjadi'.
Ternyata selimut yang harusnya melindungi tubuh dari rasa dingin juga dapat menyimpan bahaya dan kasusnya biasa disebut "feather duvet lung" atau kasus paru-paru yang disebabkan oleh selimut bulu.
Kasus feather duvet lung juga yang kemudian membuat lelaki berusia 43 tahun tersebut menderita. Ia dilaporkan sempat mengalami kelelahan dan sesak nafas selama tiga bulan terakhir. Bahkan ia bisa mengalami sesak nafas ketika melakukan aktivitas ringan dan sederhana.
"Dua bulan setelah timbulnya gejala, saya tidak dapat berdiri atau berjalan selama lebih dari beberapa menit pada satu waktu tanpa merasa seperti saya akan pingsan. Naik ke atas tempat tidur adalah kegiatan 30 menit karena saya hanya bisa menginjak dua anak tangga dan kemudian perlu duduk dan beristirahat. Saya keluar dari kantor dan menghabiskan sebagian besar waktu untuk tidur (siang dan malam)," tulis pasien dalam laporannya.
Para spesialis kemudian menanyai pasien mengenai kemungkinan pemicu, dan menemukan bahwa ada sejumlah jamur di rumah pasien serta kucing dan anjing yang keduanya tidak bertanggungjawab.
Sebagai gantinya, pertanyaan lebih lanjut mengungkapkan bahwa selimut bulu dan bantal yang ia pakai adalah penyebab masalah tersebut.
Lewat tes darah menunjukkan antibodi debu bulu burung, sementara rontgen dada pasien menunjukkan tanda-tanda hipersensitivitas pneumonitis, suatu kondisi di mana paru-paru menjadi sangat meradang akibat respons kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap pemicu tertentu.
Baca Juga: Top 3 Kesehatan: Mitos Kanker Payudara, Sesak Napas Malam Hari
Dalam kasus lelaki ini, pemicunya adalah debu organik dari bebek atau bulu angsa pada selimut dan bantalnya.
Setelah diagnosis, lelaki itu diberikan steroid dan diminta menggunakan selimut sintetis.
Kesehatan pasien dilaporkan kembali normal dalam 12 bulan setelah pengobatan.
Para peneliti berharap studi kasus ini dapat menyoroti bahaya selimut bulu asli yang kerap digunakan sebagian orang. Kasus ini juga dapat mendorong dokter untuk bertanya kepada pasien tentang kualitas tempat tidur mereka.
"Kasus kami memperkuat pentingnya pengambilan riwayat yang teliti dan bertanya tentang tempat tidur pasien dengan kasus sesak napas yang tidak dapat dijelaskan. Pengenalan yang tepat dan penghentian paparan antigen dapat mencegah perkembangan fibrosis paru yang tidak dapat diperbaiki,” pungkas sang dokter.
Berita Terkait
Terpopuler
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- Danantara Sumberdaya Indonesia Batal Beroperasi Penuh, Pemerintah Mundurkan Skema Ekspor SDA di 2027
- Gugurkan Klaim Santriwati 'Hamil Tanpa Hubungan Badan', Polisi Tangkap Kiai di Pekalongan
Pilihan
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
-
Live 'Pocong Jadi-Jadian' Hebohkan Warga Sragen, 3 Pelajar Diamankan Polisi
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
Terkini
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?
-
Hoops + Health Youth Basketball Festival 2026 Dorong Generasi Muda Hidup Sehat & Melek Finansial
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia